Saturday, June 23, 2018

Buat Paspor Yuk! Begini Cara Membuat Paspor di Tahun 2018!


Jadi ceritanya Rabu lalu baru saja ke kantor imigrasi untuk pembuatan paspor baru. Lebih tepatnya mengganti paspor yang lama karena sudah hampir expired. Dan surprised, beda banget dengan saat pembuatan paspor lima tahun yang lalu.

Kali ini, saya akan cerita bagaimana cara membuat paspor di tahun 2018. Mengapa di tahun 2018? Ya, karena dari browsing beberapa waktu lalu sebelum membuat paspor, kog yang ada masih info yang lama. Agak membingungkan karena banyak yang sudah tidak relevan dengan perkembangan terkini dalam pembuatan paspor, meskipun syarat yang diminta masih sama.

Membuat paspor sebenarnya cukup mudah. Dokumen yang diperlukan pun tidak begitu banyak. Berikut dokumen yang perlu kita siapkan untuk membuat paspor yakni :
1. KTP, boleh surat keterangan apabila e-ktpnya masih belum ada.
2. Kartu keluarga
3. Akta lahir/Ijazah/surat nikah
4. Sertakan kartu mahasiswa/kartu karyawan (bila diminta)

Dokumen tersebut di fotocopy cukup 1 kali masing-masing. Khusus untuk KTP, fotocopy di 1 halaman A4 (tidak perlu diperbesar dan digunting tetap dalam ukuran A4). Untuk akta lahir/ijazah atau surat nikah, kita pilih mana yang yang ada. Bila nama orang tua ada penggantian (berbeda dengan di KK), sebaiknya gunakan ijazah. Saya mengalami hal tersebut ketika membuat paspor lima tahun lalu sehingga petugas menyarankan untuk menggunakan dokumen ijazah saja. Ingat, hanya ijazah SD/SMP/SMA saja ya, karena ijazah S1 tidak mencantumkan nama orang tua.

Meskipun tidak tertulis resmi, sertakan juga kartu tanda mahasiswa bagi yang berstatus mahasiswa atau kartu pegawai atau siapkan surat keterangan kerja. Hal ini biasanya akan diminta sebagai dokumen tambahan. Lima tahun lalu saya menyertakan kartu mahasiswa dengan difotocopy seperti KTP (dalam kertas A4). Kemarin juga saya menyertakan kartu mahasiswa karena saya sekarang berstatus mahasiswa pasca sarjana.

Setelah dokumen siap, maka kita harus mencari jadwal untuk datang ke imigrasi. Berbeda dengan pelayanan sebelumnya dimana pembuatan paspor dilakukan secara manual ataupun online dalam artian manual yaitu kita harus datang ke kantor imigrasi pagi-pagi sekali untuk berebut nomer antrian yang belum tentu dapet, sedangkan online kita harus melakukan pre-pendaftaran dengan mengisi form online dan upload dokumen yang sudah di scan kemudian datang ke kantor imigrasi sesuai jadwal untuk verifikasi berkas dll.

Sejak pertengahan tahun lalu, lebih tepatnya sejak pelayanan online mengalami masalah di website imigrasi, diciptakanlah pelayanan baru dimana pembuatan paspor menggunakan satu pintu yaitu antrian paspor.

Dengan antrian paspor ini kita wajib memiliki jadwal kedatangan kita ke kantor imigrasi sesuai dengan waktu yang tersedia. Dengan kata lain, kita tidak perlu lagi mengantri sejak subuh, melainkan kita cukup datang sesuai dengan jadwal yang kita pilih beserta lokasi kantor imigrasi yang kita tuju (terdekat). Jika kita tidak mempunya jadwal antrian, maka percuma saja jika kita datang ke imigrasi. Dijamin tidak akan dilayani untuk pembuatan paspor!

Bagaimana untuk mendapatkan nomer antrian paspor?

Caranya cukup mudah, hanya dengan membuat akun di https://antrian.imigrasi.go.id/. Kita tinggal pilih kantor imigrasi yang kita tuju (terdekat), lalu pilih jadwal yang tersedia sesuai dengan waktu luang kita. Antrian paspor ini juga bisa kita buat melalui aplikasi yang tersedia di playstore khusus untuk android. Cukup mudah bukan!

Ya, keliatannya cukup mudah. Siapa sangka setelah membuat akun antrian paspor, yang kita perlukan hanya sabar dan rajin untuk mengecek aplikasi antrian. Mengapa? Inilah yang pertama saya kecewakan setelah membuat akun tersebut tanpa kejelasan. Saat akan memilih jadwal kedatangan di kantor imigrasi terdekat, kebanyakan muncul "Kuota telah habis, silahkan memilih kantor imigrasi lainnya".

Begitupun ketika kita memilih kantor imigrasi lainnya. Sama saja. Mostly, seantero Jabodetabek akan sama. Beda halnya kalo nasib kita sedang baik, maka kita akan langsung mendapatkan jadwal tanpa ada pesan seperti di atas.

Jeda waktu saat kita mendapatkan jadwal untuk ke kantor imigrasi biasanya seminggu karena kuota yang tersedia masih cukup banyak. Tetapi tidak menutup kemungkinan hanya berselang sehari jika nasib baik sedang berpihak pada kita.

Intinya, banyak bersabar dan sering-seringlah mengecek aplikasi antrian paspor! Tipsnya adalah lakukan pengecekan saat weekend (minggu malam) atau saat sore hari (menjelang kantor tutup hingga menjelang malam dengan asumsi data kuota terbaru sudah diupdate).

Saya masih kurang mengerti mengapa developer sistem antrian paspor hanya membuat antrian dengan limit waktu terbatas (biasanya 3 hari), tidak dengan memberikan batas kuota tertentu tiap harinya namun dibuka untuk satu bulan ke depan. Karena yang ada sama saja kita si pembuat paspor mengalami ketidakpastian karena jadwal antrian yang belum kita dapatkan. Mungkin hal ini hanya berlaku untuk Jabodetabek dimana rate pembuatan paspor sangat tinggi setiap harinya.

Selanjutnya setelah mendapatkan jadwal antrian, maka kita datang ke kantor imigrasi sesuai yang kita pilih di aplikasi antrian. Meskipun tertera jam berapa kita harus datang, namun yang membedakan sebenarnya adalah pelayanan pagi dan siang. Jadi misalkan di jadwal yang kita dapatkan diharuskan datang pukul 10.01-11.00 WIB, sebenarnya kita boleh saja hadir lebih awal. Waktu ini untuk menjaga agar tidak terlalu crowded di jam-jam tertentu.

Bila jadwal terlewatkan, maka kita ulangi kembali untuk mendapatkan jadwal melalui aplikasi antrian. Hehe

Setelah tiba di kantor imigrasi, segera lakukan check-in di mesin yang tersedia melalui petugas. Tunjukkan barcode yang ada di aplikasi antrian kita, selanjutnya petugas akan men-scan barcode tersebut. Disini akan diklasifikasikan jenis pelayanan yang akan kita ambil. Apakah pembuatan paspor baru atau penggantian paspor lama. Bagi yang pernah membuat paspor sebelumnya, bisa dilakukan penggantian paspor. Cukup dengan memfotokopi paspornya. Sedangkan bagi yang baru membuat paspor, maka akan disertakan pula form pendaftaran yang harus diisi sembari menunggu nomer antrian untuk dipanggil.

Kita akan mendapatkan map kuning permohonan paspor (free) dan form pendaftaran bagi pendaftar baru. Semua fotokopi dokumen kita sertakan di map tersebut. Tunggu nomer antrian kita dipanggil oleh sistem. Jadi gak ada deh rebutan atau antrian panjang di kantor imigrasi seperti lima tahun lalu.

Setelah nomer kita dipanggil, data kita akan diinput dan diverifikasi berkas yang kita bawa. Petugas biasanya akan bertanya untuk apa kita membuat paspor dan jenis paspor yang akan kita buat. Jawablah dengan tenang dan santai: misalkan untuk persiapan liburan ke Singapura atau Malaysia yang paling mudah. Jangan kesal bila petugas terkesan agak 'kepo' menanyakan kapan keberangkatan, apakah sudah membeli tiket, dan lain sebagainya.

Untuk jenis paspor, pilihlah sesuai kebutuhan: paspor biasa 48h atau e-paspor. Hal ini akan berpengaruh ke biaya pembuatannya. Biaya untuk paspor biaya 48h adalah 355 ribu, sedangkan untuk e-paspor adalah 655 ribu. Untuk yang sering melakukan kunjungan ke Jepang, sebaiknya membuat e-paspor karena tidak perlu repot mengajukan visa bila kesana.

Untuk perpanjangan paspor, petugas hanya akan mengupdate data kita yang telah ada. Jadi prosesnya agak lebih cepat.

Setelah semua dipastikan tidak ada kendala, maka kita akan difoto, diminta sidik jari dan terakhir print out slip permohonan untuk pembayaran dan pengambilan paspor nantinya. Sebaiknya segera membayar biaya pembuatan paspor setelah menerima slip permohonan tersebut. Biasanya ada bank di dekat kantor imigrasi. Jangan lupa menyimpan bukti pembayarannya.

Paspor akan jadi dalam waktu 3-5 hari kerja. Untuk mengecek apakah paspor kita sudah jadi atau belum, kita bisa mengirim pesan whatsapp ke nomer imigrasi sesuai kantor imigrasi masing-masing. Pesan balasan otomatis akan memberikan informasi mengenai status paspor kita.

Bila sudah jadi, silakan kembali datang ke kantor imigrasi untuk pengambilan paspor. Bagi yang melakukan pergantian paspor, paspor lama kita akan diberikan kembali bersamaan dengan paspor baru yang kita buat. Jadi jangan khawatir akan kenangan stempel imigrasi ataupun visa dari negara-negara yang pernah kita kunjungi!

Selamat menjelajah! :)
Baca selengkapnya

Saturday, April 7, 2018

Perjuangan Meraih Gelar Master Teknik Lingkungan (Part 1)


Pertama kali masuk kelas di awal semester 1 yang pertama kali kebanyakan dosen tanyakan adalah apa background kita, dimana kita bekerja saat ini. Itu pula yang membuat beberapa dosen meyakini bahwa multibackground di dalam kelas bisa membantu membuka cakrawala yang lebih luas.

Satu hal yang membedakan adalah kali ini, saya harus berusaha dengan kemampuan saya sendiri. Ya, dalam artian tidak ada lagi mengandalkan teman dalam tugas ataupun homework yang diberikan. Apa kata mereka bila homework pertama sudah mencontek sana-sini. Lagi, ada banyak hal yang perlu saya pelajari dikarenakan background saya yang cukup jauh, meski familiar di keseharian.

 ----
Tulisan kali ini saya akan mencoba menceritakan berbagai perkuliahan hingga tugas project yang saya dapatkan dalam perjuangan hingga meraih gelar master. Meskipun tidak detail, namun menurut saya tugas-tugas atau bahasan yang diberikan sangat meninggalkan kesan yang cukup baik sebagai pembelajaran.

Sebagai dasar mahasiswa master di bidang engineering, ada 2 mata kuliah dasar yang wajib didapat yaitu Math and Applied Science dan System Engineering and Value.

Math and Applied Science

Matematika, ya mata kuliah ini memang matematika. Kalau boleh ditelaah lebih lanjut dibandingkan matematika yang didapat oleh S1, maka mata kuliah ini adalah gabungan dari kalkulus, aljabar linear, metode numerik, matemarika teknik hingga statistik dan probabilitas. Bayangkan mata kuliah tersebut dijadikan 1 mata kuliah yang harus diselesaikan dalam satu semester!

Kuliah 3 sks dengan pertemuan kuliah 3 x 50 menit plus asistensi selama 1 jam 50 menit tiap pekan rasanya sangat kurang. Untungnya, hal terpenting dari mata kuliah ini bukanlah detail perhitungan seperti di SMA, tetapi proses analisa yang wajib kita pahami ketika kita menghadapi case dalam pekerjaan nantinya.

Setelah dirangkum menjadi satu mata kuliah tersebut, saya jadi lebih memahami bahwa mata kuliah tersebut saling berhubungan. Hanya metodenya saja yang berbeda: analitik dan numerik. Analitik itu lebih pada perhitungan yang kita sering lakukan secara langsung misalkan untuk menghitung nilai integral, maka kita benar-benar mencari nilai integralnya. Sedangkan metode numerik kita menggunakan pendekatan yang memudahkan perhitungan tanpa mengetahui nilai integral yang kita cari. Metode numerik ini kala kata Pak Dosen adalah akal-akalan anak teknik saja. :) Kebanyakan software, excel, kalkulator sebenarnya menggunakan metode numerik dalam sistemnya.

Di penghujung semester, materi perkuliahan terasa sangat abstrak karena berhubungan dengan uji hipotesis yang nantinya diharapkan bisa kita gunakan saat mengerjakan thesis.

System Engineering and Value

Kalau mata kuliah sebelumnya gabungan dari beberapa mata kuliah dasar matematika, yang ini juga gabungan dari beberapa mata kuliah dasar seperti engineering economy, statistik dan probabilitas, engineering value, dll. Bahkan, saya sendiri lupa di S1 pernah mempelajari mata kuliah tersebut.

Saya cukup ketinggalan jauh untuk mata kuliah ini. Pertama karena adanya homework yang diberikan tiap pekan, tetapi saya sendiri tidak mengerti untuk mengerjakannya. Kedua karena materi yang dipelajari sangat banyak.

Untungnya selepas UTS dan pergantian dosen membuat pola belajar di kelas berubah 180%. Mengapa? Dosen pengampu setelah UTS tidak berorientasi pada hasil semata, melainkan proses. Maklum, beliau adalah mantan direktur riset dan pengabdian masyarakat. Yang beliau tekankan adalah pola pikir sebagai engineer untuk memberikan solusi bagi permasalahan yang ada. Untuk itu, kita dituntut untuk baca jurnal-jurnal terbaru.

Dari awal kita ditantang untuk menyelesaikan project secara berkelompok yang akan dipresentasikan saat UAS, dengan kata lain tidak ada UAS. Berminggu-minggu berlalu. Saya dan tim mendapatkan tantangan untuk membuat system Track Access Charge (TAC) di Indonesia. Yang terpenting adalah benchmark yang kita gunakan harus jelas, ada sumbernya tidak mengawang-awang. Semua harus lengkap mulai dari FAST diagram hingga rencana yang kami tawarkan beserta perhitungan biaya hingga IRR nya.

Tantangannya adalah tim saya beranggotakan mahasiswa teknik lingkungan dan struktur, tidak ada transportasi. Bahasan TAC ini menjadi hal baru yang harus kami pelajari.

Yang paling saya ingat, hari itu menjelang sehari sebelum presentasi bahasan ini masih mengawang-ngawang di kepala kami. Hingga pukul 01.00 dini hari saya masih merasakan belum ada kejelasan.

Paginya, kami presentasi apa yang kami kerjakan dengan judul Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Hasil yang kami presentasikan tidak buruk, hanya salah persepsi dari konsep awal yang diminta TAC. Pak Dosen tidak marah sedikitpun, beliau menyarankan untuk mengganti temanya menjadi pengembangan infrastruktur Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Dan diakhir ketika melihat nilai yang didapat, 83. Hasil yang cukup memuaskan. Mengingat kalau ujian belum tentu bisa mendapatkan nilai segitu.

Environmental Risk Management

Di mata kuliah ini lebih dekat sekali dengan kimia. Beruntunglah bagi mereka yang sudah belajar kimia dasar. Saya pun hanya bengong beberapa kali pertemuan.

Mata kuliah ini menurut saya sangat menarik juga membuat lebih parno menyikapi kenyataan di lapangan. Sangat menarik karena kita akan belajar menjadi auditor lingkungan. Tetapi karena sebagai auditor lingkungan, kita harus lebih peka terhadapan segala risiko yang mungkin timbul, meskipun dosisnya masih jauh di bawah batas yang ditetapkan.

Mata kuliah ini juga erat kaitannya dengan Health Risk Assesment. Kita diajarkan untuk melihat potensi risiko terhadap kesehatan, karena kesehatan manusia lebih utama. Makanya tidak heran jika setiap senyawa kimia yang dikeluarkan sebagai limbah industri baik limbah cair maupun dari udara kita sebagai auditor lingkungan patut mencurigainya sebagai potensi risiko yang mempengaruhi kesehatan penduduk sekitar. Pajanannya jelas bisa melalui air tanah yang diminum atau udara yang dihirup sekitar pabrik tersebut.

Lagi, tugas project yang harus kami selesaikan secara berkelompok adalah kami diminta mengambil satu aktivitas beserta senyawa kimia yang paling berpotensi menghasilkan risiko kesehatan. Saya dan tim mengambil studi kasus dari insinerator unit TPA Keputih, Surabaya yang berpotensi menghasilkan dioksin, salah satu senyawa berbahaya. Dari senyawa tersebut, kami coba hitung dosis yang diterima oleh penduduk sekitar dalam radius 50 km serta analisis yang mungkin terjadi beserta penanggulangannya.

Dan hal ini pula yang kita kerjakan saat UAS dengan waktu yang sangat lama (3 jam). Kami diminta untuk membuat rekomendasi mengenai limbah suatu pabrik berdasarkan senyawa kimia yang dihasilkan dari pembuangan serta potensi risiko yang mungkin diterima oleh penduduk sekitar.

Btw, hal terkait ini di Indonesia sendiri masih jauh sekali dari kata sempurna. Bisa dibilang kalau belum ada kejadian masih dimaklumi lah. Bahkan banyak petugas pelaksana AMDAL yang belum mengecek aja sudah dikasih salam tempel. Makanya, kebanyakan data yang sebenarnya dijadikan rujukan dari US-EPA atau Eropa karena mereka sudah begitu concern dengan hal-hal seperti ini.

Municipal Solid Waste Management and Technology

Ini juga mata kuliah yang erat banget dengan teknik lingkungan. Bahkan erat sekali dengan kehidupan sehari-hari. Dari mata kuliah ini, saya belajar hal baru terkait waste to energy (meskipun baru sebatas tahu teknologi tersebut). Intinya terkait dengan pengelolaan persampahan yang memang sangat penting sekali. Sayangnya, di negara kita belum jadi concern yang perlu mendapatkan perhatian serius oleh pemerintah.

Bisa dibayangkan, hal dasar seperti membuang sampah secara tertib di tempat yang disediakan aja masih susah apalagi untuk pengelolaan secara keseluruhan. Selama ini, saya tidak pernah kepikiran bahwa perjalanan sampah itu begitu panjang. Tidak sekedar buang saja, harusnya kita memikirkan kemana sampah yang kita buang setelahnya.

Di mata kuliah ini ada beberapa tugas project. Pertama secara bekelompok, kami diminta untuk observasi pengelolaan sampah organik di unit pengolahan sampah (UPS) di Kota Depok dan proses yang ada pada Bank Sampah. Kota Depok yang baru saja mendapatkan adipura memang terlihat sangat baik dalam pengelolaan sampah organik menjadi kompos di tiap UPS yang tersebar di seantero Kota Depok. Paling dekat adalah UPS yang berada di UI. Hasilnya Kompos tersebut digunakan sebagai pupuk bagi taman yang ada di UI atau taman kota Depok.

Tugas Project lainnya kami diminta membuat master plan persampahan salah satu kota yang ada di Indonesia. Saya dan tim mengambil Kota Metro Lampung sebagai Kota yang akan dibuatkan master plan persampahannya. Dalam membuat master plan ini, sebagai mahasiswa S2 kita ditantang tidak sekedar membuat tanpa rujukan, melainkan kita diharukan memproyeksikan data yang ada hingga tercipta master plan sesuai dengan kondisi yang ada sekarang mulai dari potensi jumlah sampah yang akan dihasilkan di tahun-tahun mendatang, pertumbuhan tingkat pelayanan sampahnya serta pengelolan persampahannya secara bertahap kami kembangkan.

----
Selain mata kuliah tersebut, hal yang sangat berbeda adalah keterbukaan setiap dosen yang mengajar. Entah semua dosen S2 mengajar dengan cara yang sama atau memang kebetulan dosen di Teknik Lingkungan yang saya dapat seperti itu semua. Rasanya dulu saat S1 dosen mengajar dengan cara yang kaku sekali. Sekarang konsep CL dan PBL benar-benar diterapkan.

Satu hal yang paling berkesan adalah salah satu dosen yang sangat detail saat mengajar, namun sering memberikan mindblowing terkait kondisi real di Indonesia. Saya pun sering miris mendengar kenyataan di lapangan. Akhirnya, beliau juga yang menjadi pilihan saya untuk menyelesaikan thesis yang sedang dalam tahap pengerjaan ini.

Perjuangan untuk meraih gelar master yang masih belum berakhir. Di lain kesempatan, mungkin saya akan bercerita kembali mengenai perkuliahan lainnya. Saya sangat terbuka apabila ada yang ingin bertanya! :)

Salam,
@bamsutris
 
Baca selengkapnya

Monday, February 5, 2018

Mengalami Masalah dengan ATM Setoran Tunai BNI, Jangan Panik!

Apakah Anda pernah punya pengalaman bermasalah dengan ATM Setoran Tunai BNI?

Kali ini saya akan membagikan pengalaman ketika bermasalah dengan ATM Setoran Tunai BNI yaitu uang yang kita setorkan tidak masuk ke rekening dan ATM mendadak eror. Adanya ATM Setoran tunai memang memudahkan kita sehingga tidak perlu harus ke kantor cabang untuk deposit uang cash yang kita punya. Apalagi, jika jadwal kita sangat padat.

Sayangnya, kejadian seperti uang yang kita setorkan tidak masuk ke rekening, ATM yang mendadak eror dan masalah lainnya membuat kita akan berpikir dua kali terhadap hal ini. Terutama bagi mereka yang pernah mengalami kejadian serupa, seperti saya.

Sebelumnya, saya akui ATM setoran tunai BNI memang sangat membantu. Transaksi yang saya lakukan tak pernah menemui kendala. Hingga akhirnya kejadian tak terduga itu datang.

----
Sekitar tiga pekan lalu, tepatnya pertengahan Januari 2018 saya melakukan transaksi dengan ATM Setoran Tunai di Galeri ATM BNI Perpustakaan UI Depok (bersebelahan dengan KCU BNI UI Depok). Seperti biasa, dengan diantar seorang teman berbekal kartu ATM dan uang cash yang rencananya akan didepositkan ke tabungan BNI.

Saat itu kondisi ATM cukup sepi.

Tanpa pikir panjang, saya segera melakukan transaksi di ATM Setoran Tunai BNI. Bagian deposit uang terbuka, saya memasukkan sejumlah uang pecahan 100ribuan. Saya pikir kondisi uang saya baik-baik saja tanpa ada yang kelipet. Biasanya ATM akan menolak uang yang kelipet.

Mesin melakukan proses penghitungan uang. Jumlahnya sesuai dengan yang saya masukkan. Saya proses transaksi. Mesin memproses. Namun, tidak seperti biasanya setelah transaksi tersebut mesin akan menanyakan kembali perintah ingin melanjutkan transaksi atau tidak, melainkan mesin mengeluarkan kartu ATM saya. Tidak ada kertas bukti transaksi yang keluar.

Saya pikir transaksi saya sudah selesai. Karena masih ada uang pecahan 50ribuan yang ingin saya depositkan. Saya kembali memasukkan ATM dan mengecek saldo terlebih dahulu. Taraaa.... transaksi saya sebelumnya belum tercatatkan di  rekening. Saya coba lakukan setoran tunai, ternyata tempat deposit uang tidak juga terbuka. Mesin malah menampilkan pesan eror.

Saya cukup panik saat itu. 

Berkali-kali saya memasukkan kartu ATM kembali, mencoba menarik uang. Tetap tidak bisa. Saya pun keluar Galeri ATM dan menemui satpam yang berada di kantor cabang BNI. Beliau menyarankan untuk telepon BNI Call di 500046.

Sembari melihat kondisi ATM. Dari luar sekilas tampak normal ATM Setoran Tunainya tanpa terlihat eror. Ada orang lain yang mencobanya, ternyata muncul pesan eror juga.

Saat itu, saya tidak membawa HP ataupun dompet sebagai identitas. Saya memutuskan segera pulang untuk menelepon ke BNI Call. Di perjalanan pulang ada hal-hal yang saya cukup sesali karena kepanikan yang saya alami.

Pertama, saya lupa mencatat nomer seri ATM. Biasanya terletak di bagian bawah dengan tempat keluar uang. Kedua, saya lupa untuk minta tolong ke Pak Satpam untuk memberikan peringatan Eror di mesin ATM. Ketiga, saya lupa melihat nama Pak Satpam yang berjaga tersebut sebagai saksi. Keempat, tidak ada bukti transaksi berupa kertas yang keluar dari mesin ATM.

Di lain pihak, akal sehat saya meyakinkan bahwa rekaman CCTV sedikit banyak akan membantu masalah ini.

----
Saya menelepon BNI Call. Sesuai saran Pak Satpam, segera tekan 01 untuk dialihkan berbicara dengan CS. Tak berapa lama seorang CS melayani.

Saya menceritakan kejadian detailnya, apa yang saya alami, memberitahukan waktu kejadian, nilai yang saya depositkan, pecahan uangnya, lokasi ATM yang digunakan, hingga nomer rekening yang saya gunakan. Saya pun memberikan informasi kalau ATM menjadi eror setelah kejadi yang saya alami tersebut.

Satu hal yang membuat saya bingung adalah lokasi ATM. Sepertinya database yang digunakan belum diupdate terlihat dari lokasi cabang BNI UI yang masih berada di Balai Sidang UI.

Dari laporan tersebut, saya diberitahukan bahwa proses penyelesaian selama maksimal 14 hari kerja (sabtu, minggu dan hari libur tidak dihitung), atau sekitar 3 pekan. Saya juga diberikan nomer laporan agar bisa dicek kembali apabila masalah tersebut telah selesai. Kabarnya akan ada notifikasi SMS apabila masalah tersebut telah selesai.

----
Saya juga mencari informasi di dunia maya terkait kejadian yang mungkin orang lain alami. Dari Kaskus saya mendapatkan keyakinan bahwa BNI akan mengembalikan uang tersebut. Biasanya dalam 5 hari kerja. Tapi, ada juga berita di Jawa Pos dengan kasus serupa tidak kembali uangnya. Hal ini membuat saya semakin hopeless.

Malamnya, usai maghrib saya kembali mendatangi galeri ATM di Perpustakaan UI. Ajaibnya, ATM Setoran tunai kini kembali normal. Saya pun menemui Pak Satpam yang tadi sore mengetahui kejadian yang saya alami. Sembari melihat nama yang tersemat di seragamnya, beliau menyarankan saya untuk mendatangi BNI besok pagi. Saya pun mengiyakan.

Dari BNI pun, pihak CS menyarankan saya untuk menunggu selama maksimal 14 hari kerja. Beliau juga menyarankan untuk mencoba kembali menelepon BNI call seminggu setelah laporan untuk menanyakan progressnya.
----

Tujuh hari kerja setelah kejadian saya menelepon kembali BNI Call. Hasilnya: Laporan saya masih dalam proses. Saya sudah mengikhlaskan seandainya tidak balik uang yang saya depositkan tersebut. Biarlah menjadi pelajaran ke depan untuk lebih berhati-hati.

Akhir Januari ketika saya iseng ingin menarik uang di ATM, saya melihat saldo di ATM agak janggal. Saya pun mengecek via internet banking. Benar saja, ada sejumlah uang masuk. Akhirnya... selesai sudah ketidapastian selama ini. Kog, tidak ada pemberitahuan via sms? atau ke-skip?

Saya hanya ingin bilang : Terima Kasih BNI sudah mengembalikan kepercayaan saya sebagai nasabah untuk kesekian kalinya.

Ya, sebelumnya saya juga pernah mengalami kejadian penarikan uang di ATM, namun uang tak kunjung keluar, tetapi saldo sudah terpotong. Di lain waktu saya akan bercerita tentang hal tersebut.

Dari kejadian ini, saya ingin berbagi tips bagi Anda yang sering menggunakan ATM Setoran Tunai agar tidak mengalami kejadian yang sama seperti saya, berikut tips nya :
  • Sebelum melakukan setoran tunai, pastikan bahwa ATM berfungsi dengan baik
  • Setorkan dalam jumlah kecil terlebih dahulu misalnya Rp 50,000. Jangan langsung dalam jumlah besar agar bila terjadi hal yang tidak diinginkan tidak banyak uang yang harus kita tunggu lama kembalinya (apalagi jika uang tersebut sangat kita butuhkan).
  • Jika terjadi hal seperti yang saya alami, jangan panik. Catat no. seri ATM, segera buat laporan ke BNI Call di 500046.
  • Sembari menunggu selama proses penyelesaian masalah, kita harus sabar dan banyak berdo'a. Tahan diri untuk menyebarkan kejadian yang di alami via social media ataupun dunia maya, apalagi media cetak. Dahulukan positive thinking bahwa pihak BNI sedang menyelesaikan masalah kita.
Intinya, pihak Bank juga tidak menginginkan masalah seperti ini terjadi. Apalagi kebanyakan ATM Setoran tunai dikelolah oleh vendor sehingga untuk menyelesaikan masalah seperti ini akan butuh proses yang tidak mudah. 

Semoga tulisan ini bisa membantu teman-teman yang mengalami masalah serupa! :)


Baca selengkapnya

Friday, January 26, 2018

Pengalaman Menggunakan BPJS di RSUD Pasar Minggu


BPJS sejak pertama diluncurkan telah membantu masyarakat dalam hal kesehatan. Meskipun ada pro dan kontra, tetapi yakinlah bahwa program ini terus akan diperbaiki kualitasnya.

Kali ini, saya akan mencoba menceritakan pengalaman menggunakan BPJS di RSUD Pasar Minggu. Setelah menggunakan BPJS selama setahun terakhir, terutama karena menyadari pentingnya coverage asuransi untuk kesehatan diri, saya mulai meyakini bahwa BPJS memang terus berbenah dari waktu ke waktu.

Sebelumnya, setahun lalu Ayah pernah drop dan dirawat di RSUD Koja, Jakarta Utara karena penyakit 'Melena' atau pendarahan di saluran pencernaan bagian atas sehingga kekurangan darah. Saat dirawat selama seminggu tersebut, semua biaya ditanggung BPJS.

Sayangnya, mungkin kondisi rumah sakitnya yang tidak nyaman karena begitu banyaknya pasien yang dirawat. Maklum, RSUD Koja salah satu rumah sakit milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang cukup mumpuni di bawah RSUPN seperti RS. Cipto. Sehingga banyak pasien dirujuk kesana.

Bagaimana dengan di RSUD Pasar Minggu yang belum lama beroperasi?

RSUD Pasar Minggu terletak di Jalan TB Simatupang No. 1, dari perempatan menuju Ragunan akan terlihat gedung bercat hijau. Itulah RSUD Pasar Minggu.

Sebelum berobat kesana, saya memeriksakan diri ke faskes tk. 1 yaitu Puskesmas Kec. Jagakarsa dengan keluhan yang tidak bisa ditangani di Puskesmas. Akhirnya dirujuklah untuk ke rumah sakit. Dokter menawarkan dua pilihan yaitu RSUK Jagakarsa atau RSUD Pasar Minggu.

Mendengar pilihan itu, saya memilih RSUD Pasar Minggu dengan harapan pelayanan yang lebih baik karena kondisinya masih terbilang baru.

Ada rasa kekhawatiran sebelum menginjakkan kaki ke sana terkait dengan antrian yang panjang, petugas yang tidak ramah,harus antri sejak pagi, dll.

Saya juga mencari informasi mengenai dokter yang bertugas di poliklinik yang akan saya tuju. Bahkan, saya cari latar belakang pendidikan sang dokter. Setelah mengetahui bahwa sang dokter merupakan lulusan dari kampus ternama, saya pun mantap melangkah.

Akhirnya Sabtu lalu, memberanikan diri untuk ke sana. Meski awalnya agak ragu karena sudah mendekati pukul 08.00 WIB dan sedang gerimis.

Dengan jarak yang lumayan jika berkendara sendiri, saya pun memesan uber untuk kesana. Benar saja hujan lumayan besar saat di tengah jalan.

Tiba di rumah sakit, saya langsung menuju lobby. Melihat sign yang tergantung depan meja resepsionis dan menuju ke loket pendaftaran untuk pasien BPJS.

Seorang petugas perempuan sigap di depan loket menanyakan apakah sebelumnya pernah berobat atau baru pertama kali. Lalu, beliau meminta dokumen yang diperlukan dan meminta kita mengisi form biodata yang kemudian disatukan dengan dokumen yang kita bawa beserta dengan nomer antrian yang tertera.

Kita diminta duduk menunggu. Tiba gilirannya nanti akan dipanggil oleh petugas di loket.

Tak sampai sepuluh menit, nomer antrian saya ternyata sudah dipanggil untuk menyerahkan berkas yang tadi sudah disatukan. Lalu, kita diberikan kertas mengenai poli yang dituju beserta nomer antrian. Poli yang dituju berada di lantai 2.

Saya pun pergi ke lantai 2, ternyata suasana di sini cukup ramai. Mungkin kebanyakan orang sudah datang sejak pagi-pagi sekali sehingga di loket pendaftaran pasien terbilang sangat sepi.

Saya kembali menyerahkan kertas yang dibawa ke nurse station dan menunggu untuk dipanggil gilirannya sebelum ke poli yang dituju. Di nurse station, akan dicek tensi darah dan ditanya berat serta tinggi badan dan keluhan (sepertinya hanya formalitas).

Setelahnya, saya menunggu di depan poli yang saya tuju. Cukup lama. Saya pun memakluminya karena waktu konsultasi untuk tiap pasien memang tidak bisa terburu-buru. Tempatnya pun lebih privat dibandingkan dengan keadaan di puskesmas.

Tiba giliran saya dipanggil, kemudian dokter menanyai keluhan yang saya derita dan memeriksa fisik saya. Beliau mendiagnosis penyakit yang saya derita dan memberikan resep obat yang harus diambil di bagian farmasi. Beliau juga memberikan surat untuk kontrol ke depannya. Dokternya sangat ramah dan friendly, apalagi setelah tahu bahwa beliau lulusan dari UI juga. Recommended lah pokoknya.

Nah, ini bagian yang termasuk by sistem. Semua resep terinput otomatis dan kita cukup menunggu berdasarkan nomer antrian yang telah kita pegang sejak awal.

Di bagian farmasi tempat pengambilan obat, terdapat scanner untuk mengecek status resep obat punya kita apakah sudah siap, masih dalam proses atau bahkan baru masuk dalam antrian.

Sayangnya, justru bagian inilah yang paling menjengkelkan. Mengapa? Saya menunggu hampir 2 jam hanya untuk mengambil obat yang diresepkan. Hal ini karena semua resep obat yang masuk dari seluruh poliklinik di RSUD Pasar Minggu diterima di satu tempat farmasi sehingga resep kita akan bergabung antriannya dengan resep dari poliklinik lainnya.

Saya berpikir, mungkin lain kali setelah konsultasi dengan dokter lebih baik meminta resepnya secara langsung untuk ditebus sendiri di apotek daripada harus menunggu begitu lama, kecuali untuk obat-obatan yang memang tergolong mahal.

Itulah pengalaman berobat menggunakan BPJS di RSUD Pasar Minggu. Overall, saya cukup puas dengan pelayanan yang diberikan di RSUD Pasar Minggu. Sebagai rumah sakit pemerintah terbilang cukup bagus pelayanannya dibandingkan dengan RSUD Koja sewaktu Bapak dirawat tahun lalu.

----
Berikutnya saya akan coba jabarkan beberapa hal yang dibutuhkan sebelum berobat menggunakan BPJS di RSUD Pasar Minggu.

Dokumen yang diperlukan untuk pasien BPJS baru di RSUD Pasar Minggu :
  • Fotokopi Surat Rujukan (jika tidak dalam keadaan darurat)
  • Fotokopi KTP
  • Fotokopi BPJS
Loket pendaftaran untuk pasien BPJS berada di sebelah kiri, dari lobby kita ke kiri. Sepertinya RSUD Pasar Minggu memang dipersiapkan untuk pasien BPJS karena mayoritas yang berobat di sini pasien BPJS.

Waktu pendaftaran untuk pasien BPJS di RSUD Pasar Minggu :
Senin-kamis : Pukul 06.30 - 12.00 WIB
Jum'at dan Sabtu : Pukul 06.30 - 10.00 WIB

Info dokter yang bertugas di setiap poliklinik setiap harinya bisa di cek di website RSUD Pasar Minggu. Begitupun dengan ruang rawat inap (jika membutuhkan), di web terlihat berapa kapasitas ruang rawat inap yang kosong di setiap kelasnya.

Jangan lupa untuk membawa makanan dan minuman jika ke RSUD Pasar Minggu karena hanya ada gerai Imperial Bakery. ATM yang tersedia meliputi bank DKI dan Link.

Semoga lekas sembuh!

Baca selengkapnya