Saturday, April 25, 2020

Aksi Iklim Anak Muda: Inspirasi dari Jakarta, Gresik dan Jayapura

 
Pada Senin, 20 April 2020 lalu, saya berkesempatan mewakili Teens Go Green Indonesia untuk menjadi panelis dalam Serial Diskusi Online yang diadakan oleh Econusa Foundation bertemakan "Aksi Iklim Anak Muda: Inspirasi dari Jakarta, Gresik dan Jayapura". Dari Gresik diwakili duo Kakak beradik yang masih belia Thara dan Nina, dan dari Jayapura diwakili oleh Kelvin. 
 
Apa yang menarik dari diskusi ini?
 
Sekilas mungkin tampak biasa saja seperti diskusi kebanyakan. Namun, jika dicermati lebih dalam diskusi tampak terlihat begitu special karena menghadirkan anak muda sebagai aktor kunci dalam gerakan lingkungan. 
 
Permasalahan lingkungan yang kerap terjadi akhir-akhir ini membuat gerakan akar rumput anak muda di berbagai daerah muncul. Gerakan ini didasari oleh kepedulian bahwa anak muda yang nantinya akan memegang peran kunci sebagai aktor perubahan. Terlebih diskusi para stakeholder kebanyakan hanya pada level wacana yang tidak tegas implementasinya di lapangan.
 
Ada cukup banyakan gerakan akar rumput anak muda melalui berbagai wadah gerakan dan komunitas saat ini sesuai dengan isu yang di bawa masing-masing, namun intinya satu menuntut perubahan pada perbaikan dan pengelolaan lingkungan di Indonesia yang lebih baik.
 
Dari Jakarta, saya menceritakan Teens Go Green dalam melakukan program edukasi dan kampanye terkait isu sampah plastik dan styrofoam yang dikemas dalam berbagai program mulai dari roadshow ke sekolah, kampus, komunitas hingga berbagai event. Pentingnya pengelolaan sampah dari sumber sehingga menghilangkan paradigma lama dalam pengelolaan sampah kumpul-angkut-buang menjadi masalah dasar program yang dilakukan.
 
Dari Jayapura, Kelvin menceritakan pengalamannya sebagai relawan di Rumah Bakau Jayapura. Ia bersama teman-temannya aktif terlibat dalam aksi #SatuPuntungSejutaMasalah, Grebek Sampah, Edukasi ke Sekolah hingga penanaman mangrove.

Lalu, dari Gresik duo Kakak beradik Thara dan Nina yang penuh semangat menceritakan pengalamannya terkait aksi yang dilakukan. Thara mendirikan River Warrior Indonesia (REWIND) yang fokus pada pencemaran sampah di Sungai Brantas, utamanya sampah plastik dan popok. Aktivitasnya itu membaca Thara untuk mengikuti International Youth Forum on Plastic Pollution di US beberapa waktu lalu.

Kemudian ada Nina yang merupakan adik Thara yang saat ini masih duduk di kelas 7 SMP. Nina beberapa waktu lalu sempat viral akibat aksinya menyurati duta Besar AS, Australia dan Jerman terkait sampah impor yang dikirim ke Gresik. Ia bersuara mewakili anak, karena menurutnya anak adalah kelompok yang paling rentan terhadap dampak yang ditimbulkan akibat masalah lingkungan.

-----

Serial diskusi tersebut diliput juga dalam Harian Kompas, 21 April 2020 berjudul "Gerakan dari Anak Muda Bermunculan" dan kompas.id. Berikut info lengkapnya. 
 
 
Versi dalam Kompas.id dengan Judul "Anak Muda Menggerakkan Kepedulian Lingkungan" bisa diakses Disini
 
 
 
Bila teman-teman membutuhkan materi diskusi, bisa diunduh di link berikut https://bit.ly/MateriAksiIklim

Baca selengkapnya

Saturday, April 18, 2020

Belajar Manajemen Diri : Waktu dan Skala Prioritas

Manajemen Waktu via Freepik.com


Mungkin kita pernah lupa bahwa saat kita punya janji untuk bertemu dengan seseorang, namun kita malah asyik di tempat lain dan melupakan janji itu.

Dalam situasi ini ada dua hal yang bisa kita asumsikan :
  1. Kita lupa dengan janji yang telah kita buat
  2. Janji tersebut bukan prioritas kita
Seringkali kita menemui hal tersebut di kehidupan sehari-hari. Apalagi bila mobilitas kita cukup tinggi, saat kita sedang memegang suatu jabatan strategis yang dibutuhkan banyak orang. Sayangnya, itu mungkin nanti, bukan sekarang.

Mari kita bicara di kondisi sebagai seorang anak muda. Waktu dan prioritas adalah hal yang penting dalam manajemen diri yang baik bagi seorang pemuda. Jika tidak, maka hidupnya akan kacau, salah prioritas.

Saat ini, zaman serba canggih dengan adanya smartphone seharusnya dibarengi dengan gaya hidup kita yang juga smart. Sederhananya, saat kita memiliki sebuah janji, semua bisa kita tulis dengan detail di calendar smartphone kita. Bila ada undangan meeting, semua akan terintegrasi melalui calendar di smartphone. Tak perlu lagi membuka tumpukan buku agenda untuk mencari kapan janji tersebut dilaksanakan, semua sudah bisa kita atur sedemikian rupa lengkap dengan remindernya.

Sayangnya, kebanyakan dari kita anak muda belum smart. Sepanjang hari memegang smartphone, namun manajemen diri kita belum smart. Kita tak bisa membedakan kapan harus membuka instagram, youtube, kapan pula harus membuka email pribadi, melihat daftar email masuk apakah ada pesan penting yang perlu ditindaklanjuti atau tidak.

Di masa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) seperti saat ini, saya yakin hampir setiap orang akan dekat sekali dengan gadgetnya baik itu smartphone-nya maupun laptopnya. Akses internet tentunya akan sangat penting. Namun, alasan tidak membuka email maupun pesan whatsapp adalah hal konyol yang rasanya hanya orang-orang bodoh yang melakukan itu.

Bagaimana tidak, ketika ada reminder dari email yang terintegrasi dengan calendar di smartphone yang terhubung dengan akses internet, notifikasi itu akan muncul. Dalam keadaan tak sadar pun kita akan sekilas membaca bahwa ada reminder untuk suatu hal. Apalagi sudah diberitahukan sejak jauh hari, bukan 24 jam yang lalu. Kecuali memang selama seminggu terakhir tidak membuka smartphone dan menggunakan telepati untuk mengikuti kelas PJJ.

Selanjutnya mengenai prioritas. Berkali-kali saya menemui anak muda yang sepertinya salah prioritas. Hal-hal yang sejatinya mereka butuhkan, tidak pernah mereka prioritaskan. Kebalikannya, ia malah lebih sibuk dengan hal-hal yang sama sekali tidak dibutuhkan.

Kembali ke masalah janji, baru-baru ini saya baru saja mengalami hal tersebut. Bagaimana tidak, pertemuan online dan tugas yang sudah dijadwalkan sejak sepekan sebelumnya terpaksa saya batalkan dengan alasan karena banyak yang tidak mengumpulkan tugas yang diberikan dan berhalangan hadir karena ada agenda lainnya, serta ada yang mengaku tidak mengetahuinya sama sekali bila akan diadakan pertemuan.

Baiklah, mungkin memang bukan tugas saya untuk mengingatkan bagaimana seharusnya kita sebagai anak muda bisa lebih menghargai waktu orang lain dan memprioritaskan agenda yang seharusnya kita prioritaskan.
Baca selengkapnya

Friday, April 17, 2020

Menjadi Versi Terbaik dari Diri Kita

Jadi diri sendiri via freepik.com

Hari ini kembali melanjutkan membaca buku Atomic Habit-nya James Clear. Ada banyak insight baru yang didapatkan dari buku tersebut. Tidak ingin membahasnya terlalu detail saat ini, namun ada satu hal yang ingin saya bagikan yaitu mengenai "Menjadi Versi Terbaik Diri Kita".

Kemarin saya menulis mengenai menjadi diri sendiri, dimana kebanyakan kita sering sekali dihantui oleh perasaan membandingkan diri kita dengan pencapaian orang lain. Bersyukur saja tidak cukup. Menjadi diri sendiri pun tidak cukup.

Pagi tadi secara tidak sengaja melihat postingan dari Bang Andreas Senjaya, CEO Igrow dan Badr Interactive mengenai ini.



Menjadi versi terbaik diri kita adalah terus berprogress membuat diri kita lebih baik dari sebelumnya, dari hari kemarin, dari sebulan yang lalu. Dengan begitu kita hanya akan berfokus pada apa yang sudah dilakukan, apa yang perlu dilakukan ke depannya agar lebih baik lagi. Akhirnya kita lupa untuk membandingkan diri kita dengan orang lain.

Saya setuju sekali dengan pernyataan tersebut.

Lebih jauh, menjadi versi terbaik dari diri kita membuat kita untuk terus bergerak dan bebenah untuk memperbaiki diri menjadi insan yang lebih baik dari waktu ke waktu. Satu hal yang perlu diingat, bahwa kita tidak sedang berlomba-lomba dengan orang lain. Kita hanya sedang berlomba dengan diri kita sendiri agar menjadi lebih baik. Karena tiap orang punya versi terbaiknya masing-masing.

Kembali ke buku Atomic Habit, dengan membentuk kebiasaan yang terus secara kontinyu dilakukan akan menuntun kita pada versi terbaik diri kita. Menurut James Clear, versi terbaik dari seseorang akan menuntut keyakinan-keyakinan baru atau perbaikan-perbaikan baru di setiap harinya.

Kita tak pernah tahu di titik mana kita telah sampai di versi terbaik dari diri kita. Yang terpenting adalah terus berprogress hingga waktu sendiri yang akan memberitahu bahwa kita sudah menjadi yang terbaik untuk diri kita sendiri. Yuk, berproses menjadi versi terbaik diri kita masing-masing!


Baca selengkapnya

Berbagi Pengalaman dengan Menjadi Public Speaker

Mengisi acara Teens Go Green (dok pribadi)
 
"There is no public speaking without preparation..."

Seorang teman beberapa tahun lalu mengingatkan hal tersebut. Terlebih dia memang memiliki bakat di bidang public speaking. Tak ada yang salah memang.

Saya sendiri adalah tipe orang yang mudah gugup, apalagi saat di depan umum. Biasanya keringat akan mengucur deras, tangan gemetar dan gerakan tidak terkontrol.

Satu hal yang pasti, saya percaya jam terbang, sering latihan dan kesempatan membuat public speaking saya semakin baik dari waktu ke waktu.

Jika boleh diingat, ketika masuk di Teens Go Green lah saya mulai memberanikan diri untuk sedikit demi sedikit berbicara di depan umum. Meski terkadang untuk sekedar sharing antar peer group saja saya selalu dag-dig-dug, merasa tidak pe-de apa yang ingin saya sampaikan. Padahal, mereka mungkin juga sama seperti yang saya rasakan saat itu.

Sebagai leaders di Teens Go Green, kesempatan demi kesempatan membuka peluang saya untuk menjadi pembicara menyampaikan materi untuk dibawakan. Itu pun tak mudah awalnya, dimulai dari menjadi leader di kelompok, berani mengungkapkan pendapat ketika forum internal hingga menjadi salah satu leader yang paling menonjol.

Mungkin 2008 kalau tidak salah adalah waktu pertama saya menjadi seorang pembicara. Saat itu, saya menjadi narasumber di sebuah program yang diadakan Daai TV Indonesia. Saya menyampaikan keterlibatan saya di Teens Go Green dan bagaimana aktivitas lingkungan saya bersama Green School SMAN 13 Jakarta.

Kalau dilihat kembali, bicara saya saat itu sangat tak terstruktur. Maklumlah, seorang yang demam panggung disuruh menjadi tamu di acara talkshow. Kebayang bagaimana rupanya.

Selanjutnya, yang saya ingat menjadi pembicara di sebuah seminar di kampus USBI yang saat ini menjadi Sampoerna University, saat itu saya menyampaikan mengenai kampanye Styrofoam? No, Thanks! yang dijalankan Teens Go Green.

Lalu, setelah itu pernah diundang untuk mengisi edukasi lingkungan yang diadakan oleh mahasiswa BINUS. Beberapa kali pernah juga pernah diundang untuk acara radio salah satunya di KBR 68h.

-----

Kini, jika saya diminta untuk menjadi pembicara di suatu acara atau kegiatan tak lagi merasa tidak pe-de seperti dulu. Bahkan di forum-forum serius, jika ada kesempatan mengapa tidak?

Saya begitu menyadari belajar public speaking tidak hanya melatih lidah agar lancar berbicara saja, tetapi juga sikap dan gaya kita. Di hadapan orang, kita harus bisa mengontrol itu semua.

Beberapa kali ketika demam panggung menghantui, rasanya apa yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari hilang begitu saja. Maka, kunci utama public speaking adalah relax sehingga kita bisa menguasai audiens sejak awal. Begitu audiens berhasil kita kuasai, dari situlah semuanya akan mengalir begitu saja. Tau-tau semuanya selesai.

Pengalaman selama di Teens Go Green mulai dari memimpin rapat internal, menjadi PIC untuk acara Camp hingga mengisi materi pembekalan dasar yang terus berulang memberikan saya kesempatan lebih banyak untuk belajar public speaking. Selanjutnya, kesempatan-kesempatan ketika menjadi pembicara di acara maupun forum di luar Teens Go Green menjadi panggung nyata untuk implementasi hasil belajar public speaking sebelumnya di forum internal.

Persiapan menjadi amat penting agar kita bisa lebih paham materi yang akan kita sampaikan. Kita tak mungkin akan berbicara kesana-kemari tanpa tujuan. Sebagai seorang public speaker, belajar presentasi yang baik adalah salah satu skill yang wajib dikuasai agar paparan yang kita sampaikan sesuai dengan audiens yang ada, tidak kaku, namun formal dan sesuai dengan target.

Bagaimana pengalaman public speaking kalian? Saya sangat terbuka bila ada masukan dan tips terkait public speaking dari kalian.
Baca selengkapnya