Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Catatan Perjalanan Ke Pekanbaru : Menginap di Bandara Soekarno-Hatta

Melanjutkan cerita ketinggalan pesawat ketika ke Pekanbaru, kali ini saya ingin menceritakan pengalaman menginap di Bandara Soekarno-Hatta, lebih tepatnya di terminal 1C.

Ini kali pertama saya menginap di Bandara, eh, mungkin kali kedua. Pertama kali sewaktu ke Jayapura, sempat transit di Bandara Makassar hingga tengah malam lantaran pesawat ke Jayapura baru berangkat sekitar pukul 02.00 dini hari. Namun, saat itu ada teman yang menemani perjalanan. Sayangnya, di perjalanan kali ini saya sendiri.
 
Sebelum memutuskan untuk bermalam di Bandara karena mengejar pesawat pertama ke Pekanbaru yang berangkat 05.25 WIB, saya mencari-cari informasi di dunia maya terkait pengalaman orang-orang yang sudah pernah menginap di Bandara. Mungkin ada spot-spot tertentu yang membuat istirahat kita lebih nyaman.

Sayangnya, sangat sedikit informasi mengenai bermalam di Bandara Soekarno-Hatta. Beda dengan pengalaman orang-orang yang bermalam di Bandara-bandara luar negeri seperti Changi. Bahkan, di Changi disediakan area khusus berupa sleeping seat dimana kita bisa merebahkan tubuh kita dengan tenang dan nyaman untuk beristirahat sejenak. Barang-barang yang kita bawa pun aman tanpa ada kekhawatiran.

Bagaimana dengan di Jakarta? Yang saya baca dari beberapa blog, kelihatannya kog menyeramkan ya. Apalagi di terminal 1C yang minim fasilitas. Kabarnya kalau di terminal 1A ada Red Corner, mushola yang juga nyaman. Meskipun saling terhubung antara terminal 1A, 1B hingga 1C, tetapi jarak tempuh untuk melewati ketiga section tersebut lumayan melelahkan. Akhirnya, saya putuskan saja untuk tetap stay di terminal 1C.

Ketika datang, saya mulai memetakan lokasi strategis tempat-tempat umum seperti toilet dan mushola. Karena belum makan malam, saya mencari tempat untuk beristirahat sejenak sembari makan malam. KFC terletak di sisi parkiran terminal 1C. Mushola juga terletak di sisi seberang dari terminal kedatangan 1C, dekat dengan loket Damri.

Waving Gallery di sepanjang lobby bandara menjadi daya tarik tersendiri. Sayangnya, kebanyakan outlet tutup pada pukul 10.00. Beberapa buka hingga 24 jam. Sebelum menentukan dimana saya akan beristirahat, saya membeli U C1000 agar kondisi lebih fit saat bangun nanti, juga Rotiboy buat jaga-jaga saat lapar nanti.

Beberapa kali saya bolak-balik memutari waving gallery, saya menemukan spot yang kosong. Mungkin, kondisi saat itu memang sedang mendukung. Suasana Bandara Soekarno Hatta sedang tidak begitu padat. Banyak kursi-kursi yang kosong. Akhirnya saya memutuskan untuk merebahkan tubuh di sebuah kursi panjang dekat ATM BCA terminal 1C.

Sayangnya, sepanjang malam rombongan pemuda dari papua berisik sekali mengganggu kenyamanan tidur saya. Meskipun merasa sangat terganggu, namun saya tetap memaksakan menutup mata agar bisa beristirahat. Tas bawaan yang berisi laptop saya peluk takut hilang. Maklumlah, ini Jakarta, Bung!

Pukul 03.00 WIB saya terbangun. Tubuh lumayan teristirahatkan. Saya bersiap membersihkan diri di toilet untuk kemudian check in.

Saat check ini, pintu masuk di terminal keberangkatan ramai. Sebagian orang mungkin juga sedang mengejar penerbangan pagi ke tujuannya masing-masing.

Waktu keberangkatan pesawatku 05.25 WIB, pukul 04.55 mulai boarding. Waktu subuh 04.40 WIB. Ada waktu sekitar 15 menit untuk melaksanakan Sholat Subuh. Di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta, mushola biasanya terletak di sisi bawah, dekat dengan toilet. Kita hanya perlu menuruni tangga yang ada di ruang tunggu.

Dari pengalaman di atas, apa saja yang perlu dipersiapkan bagi Anda yang ingin bermalam di Bandara? Berikut beberapa poin yang menjadi catatan saya berdasarkan pengalamn pribadi.
  1. Mencari informasi mengenai pengalaman orang-orang yang pernah menginap di Bandara sebelumnya, lebih spesifik sesuai dengan terminal yang kita tuju. Bandara Soekarno Hatta cukup besar sehingga pengalaman menginap yang dirasakan pun berbeda-beda dikarenakan banyaknya terminal, berbeda dengan bandara lainnya yang areanya cukup bisa kita jangkau secara keseluruhan.
  2. Kuatkan tekad jika memang harus menginap di Bandara. Kalau memang memungkinkan untuk berangkat lebih pagi dari rumah akan lebih baik, maskipun menimbulkan kekhawatiran juga.
  3. Saat tiba di bandara, mulai mapping tempat-tempat umum yang mungkin kita perlukan seperti toilet, mushola, ATM (jika perlu mengambil uang) atau outlet yang buka 24 jam serta spot kita untuk tidur.
  4. Menjelang pukul 11.00 malam, biasanya kebanyakan outlet sudah tutup. Kita bisa mulai menempati spot kursi untuk beristirahat. Jika kondisi tidak padat, kita bahkan bisa merebahkan tubuh kita di kursi panjang yang tersedia di sepanjang lobby bandara. Jika padat, mungkin banyak yang bersandar di depan outlet yang tutup atau minimal bisa memejamkan mata sembari tiduran.
  5. Selalu waspada atas barang-barang yang kita bawa. Karena kita tidak pernah tahu bagaimana keamanan di Bandara, terutama di Indonesia. Meskipun security siaga 24 jam, kehilangan barang bawaan menjadi tanggung jawab kita sepenuhnya.
  6. Persiapkan minum ataupun snack untuk berjaga saat haus atau lapar. Biasanya begadang membuat sistem tubuh terus bekerja sehingga terasa sangat lapar dibandingkan biasanya.
  7. Segera check in saat counter check in telah dibuka. Kita bisa melanjutkan istirahat di ruang tunggu dengan barang bawaan yang lebih sedikit sembari menunggu pesawat boarding. Biasanya jam 03.00 counter check in sudah dibuka untuk penerbangan pagi.
  8. Penerbangan ke daerah Indonesia timur biasanya tengah malam hingga dini hari. Sepanjang itu, mungkin kita akan sering mendengar pengumuman mengenai penerbangan kesana yang cukup mengganggu kita.
Itulah pengalaman saya saat merasakan bermalam di Bandara Soekarno-Hatta terminal 1C beberapa waktu lalu. Apakah kamu pernah merasakan pengalaman yang sama?

(Bambang Sutrisno)
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Memilih antara Hal yang Benar dan Mudah dalam Hidup

Pilih jalan yang benar
 
Di suatu malam ketika iseng menanyakan kepada seorang adik di asrama tentang keikutsertaannya dalam sebuah kompetisi inovasi bisnis, ia dengan antusias menjelaskan terkait ide yang ia ajukan. Obrolan kami melebar hingga ke berbagai kompetisi serupa yang diadakan oleh lembaga yang sama.

Hingga tiba-tiba, rasa pesimis itu muncul tanpa diduga. Ia menyayangkan bahwa kompetisi seperti ini hanya diikuti oleh sebagian kecil dari mahasiswa saja, padahal potensi dana yang dikeluarkan sangatlah besar.

Salah satunya adalah akses informasi yang hanya dimiliki oleh sebagian kecil mahasiswa saja. Proposal yang lolos pun bisa ditebak, hanya berkutat di orang-orang tersebut. Seorang mahasiswa senior yang kebetulan aktif di sebuah komunitas bisnis dan memiliki lebih dari satu ide bisa mengajukan 5-6 proposal sendiri. Bisa dibayangkan jika tiap proposal yang lolos misalkan didanai Rp 30 juta. Empat saja yang lolos sudah mendapatkan Rp 120 Juta.

Tentu, dari pihak penyelenggara ada ketentuan bahwa peserta hanya boleh mengajukan 1 proposal saja. Tetapi, hal ini tidak menutup kreatifitas para mahasiswa untuk bisa mengajukan semua idenya, bahkan dengan memperoleh keuntungan yang lumayan. Mereka mencari tim mahasiswa yang ingin mengikuti kompetisi tersebut dengan idenya. Pilihannya ada 2: ikut kerja keras menyelesaikan proposalnya atau terima jadi (hanya mengirimkan data diri sebagai formalitas) dengan perjanjian tertentu dan membagi hasil yang didapat untuk si pembuat proposal.

Cara kedua inilah rupanya banyak dilirik oleh mahasiswa yang sekedar ingin menambah daftar prestasi di CV, alih-alih merasa diri sibuk karena tugas kuliah yang juga banyak.

Sebagai seseorang yang akan memasuki tingkat akhir, ia sempat berpikiran ingin melakukan hal tersebut. Sayangnya, deadline kompetisi yang juga sudah mendesak memaksa untuk kembali sadar berada di jalan yang seharusnya.

Pertanyaannya, apakah hal tersebut salah?

Saya teringat dengan sebuah pesan dari Bu Safitri Siswono dalam sebuah sesi professional life dari program Orde Insani, sebuah program professional leadership development skill yang digagas oleh SKHA Consulting.
 
“Jika kita dihadapkan pada pilihan hal yang benar dan mudah, maka selalu pilihlah hal yang benar.”

Pesan tersebut menjadi salah satu value yang coba saya tanamkan dalam diri. Untuk selalu membawa diri kita berada dalam ranah yang benar, bukan mudah.

Hal yang benar, mungkin tidak mudah untuk melewatinya. Hal yang mudah pun, belum tentu benar. Jika dihadapkan pada kedua pilihan tersebut, tetapkan hatimu untuk memilih hal yang benar.

Mendapatkan uang dengan mengikuti kompetisi, mungkin wajar. Tetapi ketika kita mengambil hak orang lain dengan mengajukan proposal lebih dari ketentuan dan memanipulasi data dibalik itu apakah itu suatu hal yang benar?

Saya sering berpikir, mungkin pilihan mudah terlihat lebih menggiurkan. Kita tak perlu usaha ekstra untuk menjalaninya. Tetapi, dibalik kemudahan itu, mungkin keberkahannya hilang.

Ya, keberkahan. Hal yang tak kasat mata, namun kita rasakan. Ketenangan yang kita rasakan dalam keseharian. Indahnya rasa syukur dalam setiap detik hidup kita. Indahnya rasa ikhlas yang menemani perbuatan kita.

Mungkin kita sering lupa, bahwa implikasi pilihan kemudahan dari hal yang tidak benar secara tidak langsung memberikan pengaruh dalam hidup kita jangka panjang. 
 
Maka, selalu memohon bimbingan-Nya untuk menetapkan hatimu di jalan yang benar, jalan yang Ia ridhoi.

(Bambang Sutrisno)
 
Ps: Bahan reflesi diri penulis.
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Challenges yourself : Menantang Diri Sendiri untuk Berprestasi!


Jum'at kemarin, ketika membaca sebuah pesan whatsapp dari salah seorang teman yang memberitahukan bahwa ia lolos dalam sebuah kegiatan kepemudaan skala nasional mewakili DKI Jakarta, timbul rasa senang sekaligus bangga. Ia menyertakan ucapan terima kasih kepada saya. Ada rasa yang tak ternilai dibalik ucapan terima kasih itu.

Sebelumnya, beberapa waktu lalu ia sempat mengirimkan pesan untuk me-review action plan project-nya serta personal statement (motivation letter) yang ia buat untuk mengikuti acara tersebut. Feedback secara general sekaligus advise saya emailkan disertai semangat bahwa yang terpenting adalah mengalahkan diri sendiri untuk berani mengirimkan aplikasi kita.

H-1 menjelang deadline, ia kembali mengirimkan pesan ke saya untuk kembali me-review dan memperbaiki action plan yang ia buat terutama dari segi tata bahasa (kebetulan semua dalam bahasa inggris). Hal yang membuat saya menghela nafas panjang, bagaimana tidak. hampir secara keseluruhan saya rombak isi action plan tersebut, selain karena kurang detail, isinya juga kurang to the point.

Menjelang deadline, saya kembali menekankan "whatever will happen, you should submit it on time!"

Dan kemarin, kabar bahagia itu datang. Ia mengabarkan bahwa ia lolos dalam kegiatan tersebut. Bukan semata karena advise dari saya yang telah memberikan feedback, namun yang terpenting adalah bagaimana ia tetap memiliki semangat juang yang tinggi, walaupun mendekati deadline, ia tetap berjuang untuk mengirimkan berkas aplikasi yang dibutuhkan.

Inilah yang akan coba saya bagikan di tulisan kali ini.

Menantang diri Sendiri untuk Berprestasi

Sebagai seorang yang terlibat dalam dunia kepemudaan beberapa tahun terakhir ini, saya menemui karakter pemuda yang tidak berani menantang dirinya sendiri. Mereka ingin sekali mengikuti jejak kita, mengikuti berbagai forum kepemudaan, aktif terlibat dalam project-project kepemudaan, tetapi mereka tidak bisa mengalahkan dirinya sendiri untuk mencapai itu.

Teman yang saya ceritakan di atas, beberapa waktu lalu juga sempat ingin mengikuti sebuah kegiatan kepemudaan berskala nasional. Namun, ternyata sudah melewati deadline lantaran tim nya belum siap. Ia juga meminta saya untuk memberikan feedback terkait CV dan motivation letter yang dibuat. Sayangnya, hingga deadline berakhir timnya belum juga memperbaiki CV dan motivation letter seperti yang sudah saya sarankan. Kalaupun tidak mengikuti masukan saya, setidaknya tetap mengirimkan berkas aplikasinya.

Ketika saya tanyakan, ia menyesalkan hal tersebut. Ia menunjukkan CV terbarunya yang 'WOW'. Sungguh di luar dugaan, feedback yang saya berikan bertransformasi menjadi sebuah CV yang menarik.

Saya pun sejak pertama kali mengikuti kegiatan kepemudaan, tantangan terbesar yang harus saya taklukan adalah mengalahkan diri saya sendiri. Mengalahkan diri saya sendiri untuk minimal berani mengirimkan berkas aplikasi yang diminta. Selebihnya, biarkan Kuasa-Nya yang menentukan kita lolos atau tidak. Semakin banyak kita sering mengirimkan aplikasi, meski ditolak, secara tidak langsung akan menguatkan mental kita. Melatih kita untuk lebih kebal dari kegagalan.

Banyak yang saya temui ketika sekali gagal, mereka takut untuk kembali mencoba. Padahal, baru sekali. Saya pun sudah berulang kali menemui kegagalan. Berkali-kali mendapatkan email ucapan terima kasih bahwa telah mendaftar. Namun, itu tidak menyurutkan semangat saya untuk kembali mendaftar dan mendaftar setiap ada kesempatan terbuka.

Men-Challenge diri kita untuk lebih outstanding berarti kita siap untuk bergerak selangkah lebih maju dibandingkan dengan yang lain. Era informasi yang lebih terbuka membuat setiap anak muda memiliki kesempatan yang sama. Namun, balik lagi kepada apakah kita mau atau tidak untuk menantang diri kita agar memiliki prestasi yang lebih dibandingkan dengan yang lain.

Rasanya, banyak sekali anak muda yang hanya mengaggumi mereka-mereka yang berprestasi lebih dibandingkan dirinya, tetapi tidak melihat jauh apa saja sebenarnya yang harus dilakukan dibalik itu semua agar bisa lebih berprestasi. Mereka hanya melihat dari satu sisi saja, padahal dibalik itu ada perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan dengan darah dan air mata.

Saya suka sekali dengan pandangan seorang teman kuliah yang menerapkan prinsip dalam hidupnya, “Setiap muslim haruslah berprestasi”. Hal itu pula yang memacu saya untuk bergerak lebih di ranah yang sesuai dengan passion saya ini.

Berikut beberapa pandangan saya mengenai pengalaman yang saya alami ketika kita mulai men-challenge diri kita sendiri untuk lebih outstaning dibandingkan dengan yang lain.
  1. Temukan passion-mu! Passion adalah apa yang membuat kamu merasa enjoy untuk melakukannya, meskipun tidak mendapatkan apapun. Apa passion-mu? Kalau passion saja kita kebingungan, bagaimana kita bisa maksimal untuk melahirkan karya dan prestasi? Sebelum melangkah jauh, coba di list bidang-bidang apa saja yang membuat kita merasa nyaman untuk melakukannya atau membuat kita tertarik untuk mempelajarinya lebih dalam.
  2. Tetapkan target/standar prestasi yang ingin dicapai! Target/standar prestasi ini harus sesuai dengan passion yang kamu geluti. Ini juga yang akan menjadi patokan prestasi yang akan kita capai nantinya.
  3. Tetap update dengan informasi! Saat ini, hampir semua kesempatan sudah dipublikasi secara digital melalui website. Tugas kita adalah bagaimana tetap update dengan informasi-informasi tersebut! Maka, bukannya zamannya apabila ada anak muda yang berasalan tidak dapat infonya! Yang ada adalah apakah kita mau mencari informasi tersebut atau tidak!  
  4. Jangan ragu untuk meminta feedback dari mentor atau senior yang lebih berpengalaman terkait dengan ide, essay, motivation letter ataupun rancangan proposal yang kamu buat. Feedback akan membantu kamu lebih matang dalam menyiapkan aplikasi yang diminta. 
  5. Just Submit it! Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana mengalahkan diri kita sendiri untuk sekedar mendaftar! Mendaftar saja! Selebihnya, biarkan urusan kuasa-Nya. 
  6. Jika belum berhasil, jangan pernah menyerah untuk mencoba! Kita akan terus belajar ketika kita terus mencobanya. Namun, dengan catatan bahwa kita terus belajar memperbaiki kesalahan yang kita lakukan di masa lalu. Misalkan essay yang kita buat saat mendaftar sebelumnya masih kacau grammar-nya, maka selanjutnya kita perlu memperbaiki hal tersebut.  
  7. Pilihannya ada di diri kita sendiri! Apakah kita ingin menjadi anak muda yang outstanding atau anak muda yang biasa-biasa saja seperti kebanyakan yang ada.
Teruslah berkarya dan menorehkan prestasi! Jangan pernah menyerah untuk mencoba! Seperti quotes favorit saya akhir-akhir ini, "You fail when you stop trying". Jangan sampai kita gagal karena berhenti untuk mencoba, berhanti untuk men-challenge diri kita untuk lebih berpestasi! Semangat berprestasi!

Apabila kalian ingin mendapatkan feedback terkait ide, essay motivation letter, project proposal yang berhubungan dengan kegiatan kepemudaan, lingkungan dan leadership silakan hubungi saya melalui email bambangsutrisno008@gmail.com.
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Leap (Ballerina) : Sejauh Mana Kau Hidup dengan Mimpi-Mimpimu!


What will you be in the future?

Setiap pasti memiliki mimpi, tetapi sejauh mana kita menjadikan mimpi itu sebagai bagian dari hidup kita?

Film Ballerina mengisahkan tentang seorang Felicie seorang anak yatim piatu yang tinggal di sebuah panti Asuhan. Felicie memiliki impian untuk menjadi seorang penari balet professional. Impiannya itu hanya bisa diraih dengan belajar di Opera House yang terletak di Kota Paris.

Kondisi panti asuhannya yang tidak mendukung impiannya tersebut, membuatnya melarikan dari dari panti asuhan bersama seorang sahabat dekatnya, Victor yang juga bermimpi ingin menjadi seorang penemu.

Tiba di Kota Paris, Felicie terpisah dengan Victor sehingga membuatnya kebingungan seorang diri. Di tengah keletihan ia menemukan gedung Opera House seperti di foto yang diberikan Victor. Apakah impian Felicie akan berjalan mulus setelah ia menemukan gedung Opera House?

Rupanya tidak. Felicie mencari acara agar ia bisa belajar di Opera House. Ia berbohong dengan mencuri surat rekomendasi Camile, anak majikan dimana Odete bekerja sebagai pembantu. Kebohongan lambat laun akan terungkap. Akhirnya, Felicie ketahuan bahwa ia berbohong dengan mengaku sebagai Camile.

Felicie memiliki potensi yang luar biasa ditambah keteguhan dan komitmen dirinya untuk menggapai impiannya tersebut. Ia dilatih oleh Odete yang merupakan mantan penari professional bahwa menari harus dari hati.

Pada sesi penentuan untuk menentukan siapa yang akan menari bersama Rosita di Opera House, apakah Felicie atau Camile, Felicie kalah. Ia tidak siap. Mengapa?

Semalam sebelumnya saat Odete menyarankan dirinya untuk berlatih dan istirahat yang cukup, Felicie lebih memilih ajakan temannya di Opera House yang mengajaknya berkencan. Tawaran Victor saat itu pun tak diindahkannya. Akhirnya ia terlambat datang ke Opera House dan tidak siap pada sesi penentuan tersebut.

Felicie dipaksa kembali ke panti asuhan tempat ia dirawat sejak kecil. Semangatnya hilang. Namun, ia ingat akan ibunya. Ia bangkit dan menjadikan impiannya itu sebagai bagian dari kesehariannya. Bahkan, penjaga panti asuhan yang dulu melarangnya untuk kabur pun mengantarnya hingga ke Opera House.

Sesi Camile dan Rosita rupanya tak berjalan mulus. Tak ada ikatan emosi di antara mereka. Hingga Felicie datang dan mengajak Camile untuk duel. Di akhir duel, Coach menanyakan mengapa kamu menari?

Felicie menjawab bahwa menari adalah bagian dari hidupnya sejak kecil. Menari adalah impiannya. Ia ingin menari di Opera House. Camile pun berbesar hati menerima kekalahannya atas Felicie.

Kisah Felicie dalam Ballerina menurut saya sarat akan pesan pembelajaran bagi kita para pemimpi yang ingin mengejar impiannya. Sejauh mana kita ingin mengejar impian kita? Sudahkan impian tersebut kita jadikan sebagai bagian dari keseharian kita?

Meski jalan menuju impian tidaklah mudah, akan selalu ada haling-rintang yang menghalangi langkah kita menuju impian tersebut. Yang kita perlukan sejauh mana tekad kita untuk menaklukan semua rintangan yang menghalanginya?
Kita pun harus yakin bahwa kita bisa meraih impian tersebut. Keyakinan adalah modal utama untuk memaksa diri belajar lebih serius untuk mempersiapkan diri kita menggenggam impian.
Kadang, kita sering terlena saat selangkah lagi kita gapai impian kita. Merasa persiapan kita sudah sangat cukup. Tetaplah bersahaja dan terus menerus berlatih hingga kita benar-benar telah menggapai impian kita.
Kegagalan adalah pilihan yang sering tidak kita kehendaki. Padahal, kegagalan adalah pilihan yang baik untuk kita belajar refleksi diri dari kesalahan yang telah kita lakukan. Apa saja persiapan yang kurang? Apa saja hal yang perlu diperbaiki?
Jangan pernah berlarut-larut dalam kegagalan. Belajarlah untuk bangkit sendiri. Belajarlah untuk menemukan motivasi tersendiri agar kamu bisa bangkit dari kegagalanmu lebih cepat.
Terakhir, teruslah jadikan impianmu sebagai bagian dari hidupmu! Bermimpilah dan hidup bersamanya!


Catatan : Film ini sangat recommended untuk ditonton, dengan latar belakang Kota Paris di tahun 1879 saat menara Eiffel belum jadi. Dikemas dengan cerita dan alur yang sederhana, namun sarat pesan dan makna.


Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Catatan Perjalanan ke Pekanbaru : Bagaimana Rasanya Saat Ketinggalan Pesawat?

Rasanya Ketinggalan Pesawat
Kalian pernah mengalami kejadian ketinggalan pesawat? Rasanya itu, nyesss. Ada rasa sesal bercampur dengan kesal, emosi dan berbagai rasa lainnya. Di social media pernah diupload video seorang Bapak yang marah-marah Karena ketinggalan pesawat. Jadi bisa dibayangkan saat kita telat hanya beberapa menit dari jadwal boarding, eh mungkin kalau boarding masih ditunggu beberapa menit. Tapi kalau sudah take off?

 Kejadian kemarin sayangnya telat yang aku alami agak sedikit berbeda. Kenapa? Ya Karena memang unpredictable banget.

Ini pertama kali aku ketinggalan pesawat. Penerbanganku ke Pekanbaru pukul 17.55 dari CGK. Sejak pukul 14.00 WIB, aku telah bersiap-siap dari lokasiku di Depok. Berpikir naik Damri dari Pasar Minggu lebih cepat daripada dari Terminal Depok.

Tiba di Stasiun Pasar Minggu pukul 14.30, Bus Damri masih stand by di Terminal. Tidak adanya jembatan penyeberangan mengakibatkan aku harus mengambil jalan memutar. Agak kesal sebenarnya. Siapa sih yang membangun infrastruktur seperti ini? Stasiun, terminal, dan pasar harusnya dibuat hub khusus yang menghubungkan satu sama lain untuk pejalan kaki.

Bus Damri belum juga terlihat hingga akhirnya nongol juga untuk bersiap berangkat menuju Bandara. Penumpangnya tidak banyak. Ada sekitar 15 orang. Estimasiku, paling lambat 2 jam akan tiba di Bandara. Karena biasanya saat rush hours hanya butuh 1,5 jam. Dari Depok saja biasanya menggunakan taxi butuh kurang dari 1 jam hingga tiba di Bandara.

Aku masih berpikir positif saat itu, menyikapi keadaan macet dengan santai. Berpikir bahwa di depan akan lebih lancar. Aku sempatkan istirahat sembari mendengarkan lantunan murattal untuk menyegarkan pikiran.

Pukul 16.30 aku terbangun. Aku cek jendela. Sepertinya masih di Pasar Minggu. Aku pastikan dengan maps di smartphone-ku. What? Aku kaget. Bahkan ini baru beberapa km dari terminal, belum melewati Kalibata. Aku mulai panik. Penumpang seisi bis menunjukkan hal yang sama. Didahului oleh serang Bapak yang turun di tengah jalan, ingin naik grab katanya.

Aku coba berestimasi. Jika aku turun dan naik ojek, apakah akan terkejar? Sepertinya tidak. Aku masih berharap akan adanya sebuah keajaiban saat itu.

Penumpang di Bis Damri tersisa 2 orang, aku dan satu penumpang lainnya. Aku sudah pasrah. Hal yang tak biasa sepanjang Pasar Minggu hingga Pancoran macet luar biasa. Aku penasaran browsing dan ternyata penyebabnya adalah penyempitan jalur karenan pembangunan jalan di Pancoran.

Bahkan waktu tempuh dari Pom Bensin depan Sampoerna University hingga ke belokan lampu merah Pancoran hampir setengah jam, padahal biasanya hanya dalam hitungan menit saja.

Pilihanku hanya 2 saat itu. Melanjutkan perjalanan dengan membeli tiket baru atau balik ke Depok dan cancel tiket baliknya. Rasanya aku tidak mungkin balik ke Depok. Aku harus melanjutkan perjalanan. Maka saat itu yang kutuju adalah bandara. Aku harus tiba di Bandara terlebih dahulu. Berencana menginap di sana semalam lalu melanjutkan penerbangan first flight keesokan paginya.

Di perjalanan tadi, seorang Mbak yang turun di tengah jalan terlihat masih belum mendapatkan ojek untuk mengantarnya ke Bandara. Padahal, bus kami sudah melewatinya. Entahlah, sepertinya penumpang Bus Damri saat itu sebagian besar ketinggalan pesawat. Hal yang sulit diprediksi memang.

Aku baru tiba di Terminal 1C SHIA pukul 19.30. Waktu tempuh terlama yang aku lewati hanya untuk ke Bandara. Kemacetan Jakarta memang sudah sangat akut ternyata.

Kira-kira, apa aja sih persiapannya agar tidak mengalami ketinggalan pesawat?

Ada beberapa poin yang bisa aku petik sebagai bahan pembelajaran, yaitu
  1. Persiapkan waktu sebaik mungkin dengan mengestimasi berapa waktu perjalanan yang dibutuhkan untuk tiba di bandara dari lokasi kita tinggal. 
  2. Sempatkan browsing atau mengecek kondisi lalu lintas di Google Maps untuk melihat titik-titik kepadatan lalu lintas. Hal ini untuk pertimbangan kita memilih rute alternative tercepat untuk sampai di Bandara tepat waktu. 
  3. Bila memiliki kendaraan pribadi bisa minta antarkan atau jika memiliki budget lebih, bisa pesan taxi/uber/gocar atau grab agar lebih cepat. Karena dengan kendaraan pribadi kita bisa memilih rute tercepat dibandingkan dengan bis Damri yang memang sesuai trayek. 
  4. Ambil keputusan cepat. Bila kita terjebak dalam kondisi macet, segera ambil keputusan untuk mengganti moda transportasi. 
  5. Lakukan Online check-in terlebih dahulu! Online Check-in sangat berguna saat kita dalam kondisi terdesak seperti kita tiba di Bandara saat counter check-in sudah tutup menjelang boarding. Saya pernah mengalami hal ini sewaktu di KL. Untungnya, saya sudah mencetak boarding pass sebelumnya. Alhasil, semua barang bawaan saya bawa ke kabin.
  6. Jangan panik! Panik tidak akan menyelesaikan masalah. Dengan bersikap positif dan tenang, InsyaAllah akan ada keajaiban. 
  7. Beberapa maskapai seperti Garuda memiliki kebijakan untuk mengganti penerbangan dengan penerbangan berikutnya, bahkan bisa di refund. Jika memang tidak bisa diganti atau dengan kata lain tiket hangus, maka segera cari penerbangan yang memungkinkan agar kita bisa tepat waktu di tempat tujuan.
Aku sendiri saat mendapati ketinggalan pesawat kemarin segera mengecek tiket pesawat untuk penerbangan berikutnya. Tiketku sebelumnya Citilink dan hangus, saat mengecek di Traveloka kebetulan Citilink untuk keberangkatan Jum’at pagi lumayan murah, maka segera aku ambil. Pilihan berikutnya adalah apakah akan pulang ke rumah lagi atau menginap di Bandara? Maka, kuputuskan untuk menginap di Bandara, mengejar penerbangan paling pagi ke Pekanbaru yaitu pukul 05.25 WIB.

Di postingan berikutnya akan aku ceritakan mengenai menginap di Bandara bagi yang tidak ingin ketinggalan penerbangan pagi.
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts