Thursday, January 24, 2019

Mengurus Mutasi Motor Depok-Jakarta dengan Mudah tanpa Biro Jasa!

 

Bagi Anda yang membeli motor bekas, mungkin memerlukan proses balik nama kendaraan yang kita beli. Kalau lokasinya berbeda dengan domisili KTP kita, maka perlu dilakukan mutasi. Sebaiknya tidak menunggu hingga pajaknya habis atau mendekati STNK yang juga habis.

Bulan lalu, saya baru saja melakukan proses mutasi dan balik nama kendaraan motor pribadi yang saya beli tahun 2015 lalu. Agak menyesal sebenarnya kenapa baru melakukannya sekarang. Selain karena terdesak, juga karena mau tidak mau harus dilakukan. Sebelumnya secara tidak beruntung ditilang oleh polisi karena plat nomer kendaraan yang sudah melewati batasnya. Tapi ada hikmahnya juga jadi merasakan sendiri proses melakukan pengurusan kendaraan bermotor sendiri tanpa calo di SAMSAT.

Kendaraan saya kebetulan terdaftar di Samsat Cinere, Depok. Rencananya akan saya mutasikan sesuai KTP saya di Jakarta Utara. Sebelum berangkat, berikut berkas yang saya siapkan :
1. STNK Asli dan Fotocopy-nya
2. BPKB asli dan fotocopy-nya
3. Fotocopy KTP
4. Kuitansi Pembelian (bermaterai)

Saya berangkat ke Samsat hari senin sekitar pukul 08.30 WIB. Masuk ke halaman Samsat, langsung diarahkan ke bagian belakang untuk melakukan cek fisik. Hal ini karena plat nomer sepeda motor saya terlihat sudah melewati waktu yang seharusnya. Di lokasi cek fisik, ada sekitar 3 sepeda motor yang antri, tidak terlalu ramai. Saya pun ikut mengantri. Tak berapa lama, seorang petugas melakukan cek fisik rangka dan mesin sepeda motor saya.

Setelah itu, saya diarahkan untuk menyerahkan berkas yang telah dibawa ke loket cek fisik. Namun sebelum ke loket cek fisik, saya men-copy berkas-berkasnya di tempat foto copy yang terletak di samping loket. Tinggal serahkan berkasnya, nanti tukang fotocopy akan menyusunnya sesuai standar yang ada. Biaya untuk fotocopy Rp 5 ribu (beserta map).

Selanjutnya, saya memasukkan berkas ke loket cek fisik. Menunggu sekitar 10 menit hingga akhirnya nama saya dipanggil. Di loket cek fisik ini saya membayar biaya Rp 30 ribu. Selanjutnya saya diarahkan untuk membawa berkas ke bagian mutasi yang berada tepat di seberang loket cek fisik.

Di loket mutasi, saya menyerahkan berkas dari loket cek fisik. Petugas selanjutnya memeriksa berkas yang kita serahkan. Saya diminta untuk ke bagian fiskal untuk mendapatkan surat mutasi dan menyelesaikan tunggakan pajak (jika ada).

Bagian fiskal ada di gedung utama (berdampingan dengan loket pembayaran pajak). Di bagian fiskal saya menyerahkan berkasnya, kemudian diarahkan ke bagian pengecekan pajak karena motor saya menunggak pajak sejak habis di Juli 2016. Mau tidak mau saya harus melunasi tunggakan tersebut. Totalnya sekitar Rp 571ribu. Apalagi saat itu saya lupa untuk mengambil cash, akhirnya terpaksa mengambil uang di ATM BJB yang tersedia di luar gedung Samsat. Sebaiknya siapkan uang cash yang cukup untuk hal ini agar lebih mudah.

Setelah pengecekan pajak, saya diarahkan ke loket pembayaran. Setelah menerima bukti pembayaran, saya kembali menyerahkan berkas ke bagian fiskal untuk mendapatkan surat mutasi antar daerah. Hampir satu jam menunggu di loket ini. Dari luar pelayanannya seperti tidak berjalan dengan baik, kadang petugasnya tidak ada. Sepertinya memang menunggu surat dari atasan yang perlu di tanda tangani sehingga prosesnya lama.

Setelah mendapatkan surat mutasi antar daerah lalu saya kembali ke bagian mutasi (di belakang gedung utama Samsat Cinere). Untuk proses pencabutan berkas dilakukan selama 3 hari. Saya diminta datang kembali untuk mengambil berkasnya pada hari rabunya. Biaya yang dikenakan untuk proses ini saya lupa. Sepertinya sekitar Rp 250 ribu. Sebelum pulang, kita juga diberikan surat keterangan kalau surat-surat kendaraan kita sedang di proses di Samsat. Hal ini untuk berjaga-jaga sewaktu ada diminta menunjukkan STNK saat razia.

Hari itu, sebelum zuhur saya sudah tiba kembali di rumah. Overall, pelayanannya cukup cepat dan jelas. Juga tidak ada pungutan liar seperti yang sering terdengar. Saya pun tidak terlalu melihat banyak calo berkeliaran seperti yang sering orang bicarakan. Apalagi di bagian belakang tertera jelas bahwa Samsat Cinere mendukung praktik tanpa calo!
---

Hari rabu saya kembali ke Samsat Cinere.

Karena hanya mengambil berkas, prosesnya pun cepat. tidak lebih dari 30 menit semua telah selesai. Selanjutnya petugas menerangkan bahwa saya selanjutnya ke Samsat Jakarta Utara yang berada di Gunung Sahari. Kendaraan tidak perlu di bawa karena sudah melakukan cek fisik. Tidak perlu hari itu juga pergi ke Samsat Jakarta Utaranya, namun jangan terlalu lama karena kendaraan kita belum berkasnya sudah dicabut sehingga tanpa nomor STNK.

---

Jum'at nya saya pergi ke Samsat Jakarta Utara yang berlokasi di Gunung Sahari. Samsat ini melayani wilayah Jakarta Utara dan Pusat. Karena lokasi yang cukup jauh dari Depok, saya tiba menjelang pukul 11. Hal yang saya sesalkan karena menjelang jum'atan. Setibanya di sana, saya diarahkan ke bagian belakang untuk ke loket cek fisik.

Secara tempat, berbeda sekali dengan Samsat Cinere yang begitu rapi tanpa takut ada calo. Sepertinya di sini lebih rawan. Saya pun bersikap seolah sudah paham semua alurnya.

Saya duduk di bagian cek fisik setelah meletakkan berkas cek fisik. Tak berapa lama kemudian loket tutup karena jam istirahat dan jum'atan. Padahal baru jam 11.00 WIB. Yang menarik saat loket tutup adalah petugas benar-benar menutup bagian loket seperti penjual yang menutup lapak dagangannya.

Tepat dekat loket ada masjid. Akhirnya saya menunggu di masjid hingga usai jum'atan.
---

Sekitar pukul 13.00 WIB saya kembali ke depan loket cek fisik. Menunggu sekitar 15 menit akhirnya berkas saya dipanggil. Ternyata memang lebih cepat karena berkas saya sudah ditaruh disana sejak sebelum jum'atan.

Selanjutnya saya diarahkan untuk ke gedung utama. Sengaja saya tidak bertanya awalnya. Karena bingung, saya bertanya kepada petugas polisi yang berada di depan. Saya diarahkan ke lantai 2. Sayangnya, sepertinya salah diarahkan. Karena di lantai 2 untuk proses mutasi ke luar bukan masuk. Selanjutnya saya diminta ke lantai 3.

Awalnya sempat bingung, karena dari yang saya baca perlu mengisi formulir segala. Saya menghampiri loket dan menyerahkan berkasnya. Akhirnya saya diberikan tanda terima berkas dan diminta kembali tiga hari kerja kemudian (selasa depan).
---

Hari selasa pagi sekitar pukul 10.00 saya sudah di Samsat. Dengan harapan bisa cepat selesai seperti saat pengambilan berkas di Samsat Cinere.

Ternyata, bagian lantai 3 masih sepi. Saat saya menunjukkan tanda terima ke loket, saya diminta untuk mengecek berkasnya di loket sebelahnya. Dengan petugas yang tidak stand by (tidak jelas), hanya ada anak magang saya menyerahkan tanda terima tersebut. Ternyata berkas saya tidak ada dan diminta menunggu.

Hampir 2 jam saya menunggu. Bolak-balik bertanya ke loket. Lalu ke bagian DLLAJ. Bolak-balik. Melihat orang-orang yang membawa berkas banyak untuk diproses. Apakah mereka calo? atau biro jasa? Mereka silih berganti. Bahkan kadang saya melihat mereka masuk ke ruangan seperti petugas. sepertinya memang sudah hal biasa seperti ini. Tetapi tenang saja, selama dari kita tidak ada yang dirugikan tak masalah. Untuk yang punya banyak waktu luang seperti saya memang tak masalah. Dengan mengurus sendiri seperti ini menjadi satu pelajaran baru lagi.

Akhirnya detik-detik menjelang jam istirahat, saya kembali ke loket dan akhirnya berkas saya sudah siap. saya diminta untuk membayar pajak di loket Bank DKI di sebelahnya. Totalnya Rp 442.400. Setelah dibayar, maka saya diminta untuk mengambil STNK dan slip pajak di loket sebelahnya lagi.

Bersyukur bapak petugas loket sangat baik. Di waktu sudah masuk istriahat tersebut, saya masih dilayani. Mungkin Bapak tersebut memperhatikan saya sejak pagi. Bapak tersebut juga memastikan berkas kelengkapan saya. Hal yang saya lupa adalah memfotokopi berkas dari loket cek fisik sebelumnya, padahal sangat penting. Akhirnya dengan meminta BPKB asli saya sebagai jaminan, saya diminta untuk meng-copy berkas tersebut terlebih dahulu.

Karena sudah masuk istriahat, akhirnya saya putuskan untuk sholat Zuhur terlebih dahulu sembari mendengarkan ceramah hingga waktu istirahat usai. Kemudian saya memilih salah satu tempat fotokopi yang berjejer di samping gedung, memberikan semua berkasnya untuk Balik Nama BPKB. Biayanya Rp 5ribu.

Saya kembali ke loket di lantai 3 untuk mengambil BPKB sembari memperlihatkan bukti berkas yang telah saya foto kopi. Bapak tersebut menjelaskan pada saya selanjutnya tinggal balik nama BPKB yang dilakukan di Polda. Jangan sampai melewati masa pembayaran pajak berikutnya. Berkas yang di fotokopi tersebut penting karena akan mempersulit proses BBN PKB jika tidak lengkap (harus bolak-balik Polda-Samsat).

Saya diarahkan untuk ke bagian belakang kembali mengambil plat nomer kendaraan dengan menyerahkan slip kuning pembayaran. Lokasi pengambilan plat nomer berada di belakang bagian loket fisik.

Tidak menunggu lama, sekitar 15 menit plat nomer kendaraan yang baru telah jadi. Akhirnya selesai sudah proses balik nama kendaraan menjadi milik sendiri.
---

Hingga tulisan ini dimuat, saya masih belum melakukan proses balik nama untuk BPKB. Saya masih menunggu waktu yang tepat untuk melakukan proses tersebut sendiri.

Saya salut dengan proses pengurusan di Samsat yang secara keseluruhan sudah sangat baik. Pungutan liar pun tidak terlihat. Calo (kalaupun ada), pun tidak mengkhawatirkan. Dan yang terpenting, proses ini memberikan kesempatan kepada kita individu untuk mengurusnya sendiri.

Dari tempat, entah mengapa kondisi Samsat Jakarta Utara-Jakarta Pusat bagian luar gedungnya terasa angker sekali, terutama saat pengambilan plat kendaraan. Agak ragu untuk duduk di kursi tunggunya. Haha. Tetapi bagian dalam saat pengurusan di lantai 3 cukup nyaman.

Dan yang terpenting adalah proses ini sebenarnya mengubah pandangan kita bila selama ini anggapan mengurus hal-hal seperti ini susah, ribet, banyak pungli-calo, tetapi kalo sudah kita rasakan sendiri prosesnya kita jadi bisa menilai lebih objektif.

Terima kasih untuk para petugas Samsat yang sudah sangat baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, juga sangat informatif saat ditanya dan diminta arahan. :)

---

Saya akan menulis kembali proses balik nama BPKB saat sudah selesai nanti.

Nb: Mohon maaf bila ada jumlah biaya yang keliru.


Baca selengkapnya

Sharing Lingkungan di SMK PGRI 11 Jakarta



Setelah sekian lama, akhirnya berkesempatan kembali untuk sharing mengenai lingkungan.

Hampir setahun lalu, tepatnya di Januari 2018, berawal dari obrolan di facebook, seorang dosen dari Fakultas Farmasi UHAMKA Jakarta mengundang saya untuk mewakili Teens Go Green mengisi sebuah program pengabdian masyarakat yang ditujukan ke siswa SMK di sekitar kampus UHAMKA.

Lalu, Desember lalu, dosen tersebut kembali menghubungi secara mendadak dan menawarkan apakah bisa kembali untuk memberikan materi. Berkaca dari kegiatan sebelumnya yang dirasa monoton, saya pun menyampaikan beberapa pandangan untuk perbaikan. Akhirnya, bismillah saya terima tawaran untuk mengisi materi di kegiatan tersebut.

---

Acara bertajuk "Be Green Leader, Be Green Future" diadakan di SMK PGRI 11 Jakarta yang berlokasi di Rorotan, Jakarta Utara. Sekilas, sekolah ini memang tampak gersang, hawa panas begitu terasa. Mungkin itulah dasar mengapa sekolah ini perlu mendapatkan treatment awal pentingnya penghijauan di sekolah.

Dalam kesempatan di hari itu, saya ditemani Syifa Fauziyyah. Kami mewakili Teens Go Green menyampaikan materi terkait pentingnya menjaga lingkungan, bahaya sampah plastik, styrofoam hingga upaya mengatasi masalah sampah di sekolah melalui pembuatan kompos.

Materi-materi ini sebenarnya materi-materi dasar dari teknik lingkungan. Makanya, sekilas pun harusnya sudah di luar kepala. Mungkin, perlu membaca terkait fakta-fakta terbaru terkait kondisi terkini dan juga peraturan yang ada.

Yang menarik dari acara kali ini adalah para guru pun antusias untuk terlibat. Mereka juga ikut mendengarkan dengan seksama penjelasan yang kami jabarkan.

berkaca dari pengalaman sebelumnya, pada kegiatan kali ini kami berusaha optimal mengurangi sampah mulai dari makanan yang disediakan tanpa box juga setiap peserta yang diberikan botol minum untuk mengurangi penggunaan air kemasan.

Memantau jalannya focus group discussion
Akhir sesi, diadakan focus group discussion (FGD) yang saya pimpin. FGD ini sebagai penjaringan rencana aksi apa yang ingin dilakukan sekolah, terutama dalam sinkronisasi aksi siswa dan guru dalam mengatasi masalah lingkungan di sekolah.

Saya sangat mengapresiasi sekali para guru di sekolah ini yang sangat antusias bagaimana menciptakan lingkungan sekolahnya lebih baik dalam hal pengelolaan lingkungan. Para siswa pun tak ragu untuk mengemukakan pendapatnya.

Tim guru mempresentasikan hasil FGD
Acara hari itu selesai saat adzan zuhur. Acara berlangsung dua hari, namun saya dan Syifa hanya mengisi di hari pertama. Keesokan harinya diisi oleh Pak Prapto dari Bank Sampah Malaka yang akan mengisi materi terkait hidroponik.

---

Dunia ternyata begitu sempit. Dalam kesempatan tersebut, saya juga bertemu adik kelas sewaktu SMA yang ternyata merupakan tim dosen dalam kegiatan tersebut. Terima kasih sudah mengundang kami untuk berbagi cerita. Semoga memberikan manfaat bagi SMKN PGRI 11 dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang lebih asri.

Tim dosen UHAMKA penyelenggara kegiatan dan pembicara
---

Berikut beberapa testimoni dari peserta :

"Materi yang disampaikan sangat bagus dan asyik..."

"Penyampaian presentasi yang bagus..."

"Berkesan dan menarik.."

---

Sampai jumpa di lain kesempatan! :)
Baca selengkapnya

Wednesday, January 23, 2019

Perjuangan Menyelesaikan Studi Master S2 (Part 2)

 

Melanjutkan tulisan yang sempat terjeda. Tak terasa Januari 2019 ini mau memasuki semester empat, semoga menjadi semester terakhir dan bisa menyelesaikan thesis dengan baik di semester ini. Ada banyak yang ingin diceritakan melalui tulisan kali ini.
 
Setelah melewati semester pertama, liburan jeda semester menjadi sedikit ruang untuk bernafas lega. Menjelang masuk, kami seangkatan dikumpulkan dan bertemu dengan Kepala Program Studi Teknik Lingkungan yang kebetulan ada pergantian dari Dr. Ir. Setyo Sarwanto M. (Pak Setyo) menjadi Dr. Nyoman Suwartha (Pak Nyoman). Tujuan kami dikumpulkan adalah untuk pembagian dosen pembimbing thesis.

Ya, sejak hari itu sebenarnya hari-hari kami sudah dihantui dengan thesis.

Memasuki semester kedua, ada 15 SKS mata kuliah wajib yang perlu diambil. Hal ini juga yang membuat perkuliahan lebih padat. Harusnya menyisakan ruang untuk mengambil mata kuliah pilihan, tetapi nampaknya mustahil. Perkuliahan 18 SKS sama saja seperti S1.

Mari kita bedah satu persatu apa yang dipelajari di semester kedua ini.

1. Rekayasa Air Limbah Lanjutan (Advance Wastewater Engineering)

Dari judulnya saja advance, berarti yang dibahas pun sudah tingkat lanjut. Mata kuliah ini sebenarnya melanjutkan mata kuliah S1 limbah cair. Sayangnya, bagi kami yang bukan S1 di Teknik Lingkungan UI tidak mendapatkan mata kuliah tersebut.

Saya mengalami kendala di mata kuliah ini. Apalagi banyak hal-hal berbau kimia yang tidak saya ketahui.

Banyak sebuah industri yang menghasilkan limbah, kami sebagai seorang environmental engineering ditantang untuk merancang desain alat pengolahan air limbahnya. Tidak berhenti sampai pengolahan saja, namun hingga pemanfaatan dari hasil pengolahan tersebut.

Ada kelompok industri kelapa sawit, sirup, kertas. Kebetulan saya mendapatkan industri kertas (pulp). Awalnya ketika mengerjakan ini saya tidak memiliki gambaran sama sekali apa yang dikerjakan. Melihat teman-teman yang aktif saat berdiskusi, saya merasa minder sendiri.

Setidaknya, dari mata kuliah ini saya paham bahwa air limbah (wastewater) harusnya diolah, tidak boleh langsung dibuang ke selokan yang terhubung ke sungai. Karena kita tidak tahu apa yang ada di air limbah tersebut. Itulah mengapa tiap industri wajib memiliki IPAL (instalasi pengolahan air limbah).

2. Limbah menjadi Energi (Waste to Energy)
Menurut saya, ini salah satu mata kuliah yang sangat menarik. Bagaimana mengolah sampah menjadi energi. Trend yang sedang berkembang saat ini. Menghasilkan energi dari sampah tidak hanya menghitung berapa angka energi yang dihasilkan, namun kita perlu memikirkan banyak hal di balik itu. Karena sejatinya proses ini hanya sebagai bonus untuk mengatasi masalah persampahan yang ada.

Di paruh semester awal, kami diminta merancang instalasi Landfill Gas to Energy dengan memilih salah satu TPA yang ada di Indonesia. Saya mengambil TPA Suwung, Palembang. Dengan pemodelan Land Gem yang dikembangkan EPA, kami menghitung potensi energi listrik yang dihasilkan bila dibangun unit LFG di TPA yang kami pilih.

Pauh semester selanjutnya, kami ditantang membuat studi kelayakan mengenai unit PLTSa yang akan dibangun di 12 kota di Indonesia berdasarkan Perpres No. 35 Tahun 2018. Kelompok saya memilih Kota Surabaya yang sebenarnya proyek WtE sudah sangat berhasil diterapkan di Kota Surabaya. Dengan pengembangan teknologi menjadi Gasifikasi sesuai dengan rencana kota, kami mencoba menghitung biaya investasi hingga IRR yang didapatkan.

3. Kontrol Emisi (Emission Control)

Mata kuliah ini juga merupakan salah satu mata kuliah yang menarik. Selama ini saya hanya mengetahui suatu kegiatan menghasilkan emisi, namun tidak tahu seberapa besar dan berdampak pada perubahan iklim. Di mata kuliah ini, kami belajar terkait perubahan iklim, namun lebih fokus pada sektor persampahan dimana merupakan salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca di Indonesia.

Sektor persampahan ini memerlukan strategi pengelolaan yang tepat sehingga jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan bisa ditekan secara maksimal. Di paruh semester, kami ditantang untuk membuat rancangan skenario pengelolaan persampahan dari salah satu kota/kabupaten yang ada di Indonesia. Saya dan teman sekelompok memilih Kabupaten Pati, Jawa Tengah sebagai objeknya.

Kami membandingkan skenario eksisting (yang ada sekarang) dengan skenario pilihan yang kami buat dan membandingkan potensi penurunan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari tiap pilihan skenario tersebut. Tiap pilihan pengolahan pasti menghasilkan dampak positif dan negatif, di sini berperan seolah pengambil kebijakan, pilihan pengolahan yang tepat sangat penting sehingga emisi gas rumah kaca yang dihasilkan seminim mungkin.

Selain itu juga, ada kuliah tamu dari salah satu Professor dari Darmstadt, yaitu Prof. Lahl. Beliau memberikan kuliah selama 2 hari mengenai teknologi pengendalian polusi udara (air polution control). Teknologi ini sangat penting, apalagi dalam sektor persampahan, teknologi pembakaran insinerator menghasilkan emisi sehingga memerlukan air pollution control.

4. Kontaminasi dan Remediasi (Contaminating and Soil Remediation)

Mata kuliah ini mempelajari teknologi remediasi dari lahan yang tercemar. Mungkin kita sering mendengar terjadinya pencemaran akibat minyak tumpah di laut, tumpahan tangki BBM, dll. Apakah pernah terpikirkan bahwa dari pencemaran tersebut bagaimana proses pemulihannya?

Di negara-negara maju, kecelakaan yang mengakibatkan pencemaran sudah ditangani sebaik mungkin sehingga tidak ada pihak yang dirugikan, bahkan termasuk lingkungan. Sayangnya, di Indonesia hal ini belum berjalan dengan baik.

Di mata kuliah ini, kami ditantang menyelesaikan tugas besar berupa proyek remediasi. Saya dan kelompok sepakat membahas masalah remediasi ini dari sisi kebijakan perundang-udangan dari lahan bekas tambang. Kami membahas tiga permen yang mengatur masalah remediasi lahan bekas tambang dan bagaimana keterkaitan ketiga permen tersebut sehingga tidak ada yang tumpang tindih.

Saat UTS dan UAS pun, soal yang diberikan juga merupakan soal studi kasus. Saya ingat soal UAS berupa kasus bocornya pipa Pertamina di Teluk Balikpapan yang baru saja terjadi. Haha.

5. Metodologi Penelitian (Research Metodology)
Inilah mata kuliah yang menjadi hantu sepanjang semester. Dari sini juga pembahasan thesis dimulai, meskipun masih dikerjakan dengan seadanya. Huhu

Itulah perkuliahan di semester kedua. Hasilnya? Jangan ditanya! Saya merasa sangat tidak siap menghadapi perkuliahan ini! apalagi dengan ilmu yang baru dimana kebanyakan teman-teman sudah lebih expert dalam bidang ini. Namun, saya tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik!

---
Lanjut ke semester ketiga. Tak terasa perkuliahan berlalu semakin cepat.

Semester ketiga ini saya hanya mengambil 7 sks. Sangat sedikit memang. Namun, rasanya hal yang sedikit tersebut memberikan beban yang sama dengan 20 sks. Mari kita mulai ceritanya!
1. SMK3L


Di awal perkuliahan sudah menduga bahwa saya salah mengambil mata kuliah ini. Mata kuliah ini ternyata lebih fokus pada bahasan sektor konstruksi. Hal yang baru lagi saya lalui.

Dari mulai Quiz pertama yang merasa hopeless karena banyak istilah baru yang tidak dimengerti. Kemudian tugas untuk mengecek safety plan dari suatu proyek. Saya dan teman yang kebetulan memiliki teman di sebuah proyek yang dikerjakan PU yaitu Pasar Ikan Modern Muara Baru.

Paruh semester awal bahasan mengenai safety plan selesai dipresentasikan. Namun, nampaknya UTS tidak memuaskan karena penuh hafalan.

Lalu, paruh semester akhir tugas kelompok melanjutkan sebelumnya kini membahas mengenai audit SM3L di proyek. Setidaknya, mata kuliah ini memberikan pemahaman tambahan mengenai bagaiman menjadi seorang K3 di proyek konstruksi, meskipun staf K3 yang ditemui di Proyek bukanlah lulusan engineering. Itulah mengapa dalam pembahasan suatu seminar K3 pentingnya ahli K3 di bidang konstruksi itu sendiri, karena ada hal-hal yang tidak dipelajari oleh K3 secara umum.

2. Audit Lingkungan (Environmental Audit)


Tidak jauh beda dengan SMK3, mata kuliah sangat menarik karena disini kita akan belajar mengenai audit dan mengapa perlu audit.

Audit dilakukan tidak hanya untuk keuangan saja seperti yang sering kita dengan, audit lingkungan pun penting karena dampaknya ke lingkungan yang secara tidak langsung akan berpengaruh ke manusia juga.

Dari mata kuliah ini, saya jadi paham mengenai ISO, OHSAS yang didapatkan suatu institusi juga program PROPER yang kesemuanya tidak lain dan tidak bukan untuk menjaga kualitas lingkungan dan pelayanan agar tetap baik.

Kami mendapatkan tugas besar untuk melakukan audit suatu industri. Tidak mudah mendapatkan perizinan industri karena ini menyangkut dengan internal perusahaan. Saya dan kelompok yang awalnya akan mengaudit sebuah pabrik Beton di daerah Nambo, beralih haluan karena perizinan yang alot. Padahal, salah seorang anggota kelompok kami orang tuanya mantan karyawan di tempat tersebut. Apalagi ada alumni kami yang juga kami temui disana.

Akhirnya, di masa yang cukup genting menjelang akhir kami memutuskan untuk mengaudit dari data sekunder sebuah pabrik kelapa sawit yang datanya kebetulan saya dapatnya dari seorang sahabat saya. Data yang kami dapat pun cukup lengkap, namun karena cuma data ya akhirnya kami hanya menginterpretasikan sendiri data-data tersebut. Hehe

Oya, tidak lupa kami pun melakukan audit lingkungan FTUI dari sisi pengelolaan limbah (padat, cair, dan B3) serta mengenai sumber daya airnya. Hal ini penting untuk melihat sejauh mana kinerja FTUI yang katanya sudah meraih ISO dan OHSAS itu. :)

3. Seminar (Research Proposal)
 
Mata kuliah ketiga ini yang membuat panas dingin. Saya pun menyadari tidak maksimalnya saya mengerjakan ini. ah, penyesalan memang selalu di akhir.

Saya ingin cerita ketika sidang seminar. Semuanya berjalan tidak terencana. Tidak sesuai harapan. Hingga menjelang akhir, saya diminta keluar untuk dosen berembug mempertimbangkan hasilnya. Saya dinyatakan lulus. Padahal, saya sudah pasrah karena banyak kekeliruan yang saya lakukan.
 
Saya pun merasa di ambang kebingungan saat ini. Revisi dan juga poin mana yang harus saya lanjutkan untuk menyelsaikan Thesis saya. Semoga ada keajaiban selama satu semester ini untuk menyelesaikannya! Amiin.
 
Oke sepertinya sekian untuk cerita di semester kedua dan Ketiga. Tulisan ini masih akan berlanjut. :)
Baca selengkapnya

Saturday, June 23, 2018

Buat Paspor Yuk! Begini Cara Membuat Paspor di Tahun 2018!


Jadi ceritanya Rabu lalu baru saja ke kantor imigrasi untuk pembuatan paspor baru. Lebih tepatnya mengganti paspor yang lama karena sudah hampir expired. Dan surprised, beda banget dengan saat pembuatan paspor lima tahun yang lalu.

Kali ini, saya akan cerita bagaimana cara membuat paspor di tahun 2018. Mengapa di tahun 2018? Ya, karena dari browsing beberapa waktu lalu sebelum membuat paspor, kog yang ada masih info yang lama. Agak membingungkan karena banyak yang sudah tidak relevan dengan perkembangan terkini dalam pembuatan paspor, meskipun syarat yang diminta masih sama.

Membuat paspor sebenarnya cukup mudah. Dokumen yang diperlukan pun tidak begitu banyak. Berikut dokumen yang perlu kita siapkan untuk membuat paspor yakni :
1. KTP, boleh surat keterangan apabila e-ktpnya masih belum ada.
2. Kartu keluarga
3. Akta lahir/Ijazah/surat nikah
4. Sertakan kartu mahasiswa/kartu karyawan (bila diminta)

Dokumen tersebut di fotocopy cukup 1 kali masing-masing. Khusus untuk KTP, fotocopy di 1 halaman A4 (tidak perlu diperbesar dan digunting tetap dalam ukuran A4). Untuk akta lahir/ijazah atau surat nikah, kita pilih mana yang yang ada. Bila nama orang tua ada penggantian (berbeda dengan di KK), sebaiknya gunakan ijazah. Saya mengalami hal tersebut ketika membuat paspor lima tahun lalu sehingga petugas menyarankan untuk menggunakan dokumen ijazah saja. Ingat, hanya ijazah SD/SMP/SMA saja ya, karena ijazah S1 tidak mencantumkan nama orang tua.

Meskipun tidak tertulis resmi, sertakan juga kartu tanda mahasiswa bagi yang berstatus mahasiswa atau kartu pegawai atau siapkan surat keterangan kerja. Hal ini biasanya akan diminta sebagai dokumen tambahan. Lima tahun lalu saya menyertakan kartu mahasiswa dengan difotocopy seperti KTP (dalam kertas A4). Kemarin juga saya menyertakan kartu mahasiswa karena saya sekarang berstatus mahasiswa pasca sarjana.

Setelah dokumen siap, maka kita harus mencari jadwal untuk datang ke imigrasi. Berbeda dengan pelayanan sebelumnya dimana pembuatan paspor dilakukan secara manual ataupun online dalam artian manual yaitu kita harus datang ke kantor imigrasi pagi-pagi sekali untuk berebut nomer antrian yang belum tentu dapet, sedangkan online kita harus melakukan pre-pendaftaran dengan mengisi form online dan upload dokumen yang sudah di scan kemudian datang ke kantor imigrasi sesuai jadwal untuk verifikasi berkas dll.

Sejak pertengahan tahun lalu, lebih tepatnya sejak pelayanan online mengalami masalah di website imigrasi, diciptakanlah pelayanan baru dimana pembuatan paspor menggunakan satu pintu yaitu antrian paspor.

Dengan antrian paspor ini kita wajib memiliki jadwal kedatangan kita ke kantor imigrasi sesuai dengan waktu yang tersedia. Dengan kata lain, kita tidak perlu lagi mengantri sejak subuh, melainkan kita cukup datang sesuai dengan jadwal yang kita pilih beserta lokasi kantor imigrasi yang kita tuju (terdekat). Jika kita tidak mempunya jadwal antrian, maka percuma saja jika kita datang ke imigrasi. Dijamin tidak akan dilayani untuk pembuatan paspor!

Bagaimana untuk mendapatkan nomer antrian paspor?

Caranya cukup mudah, hanya dengan membuat akun di https://antrian.imigrasi.go.id/. Kita tinggal pilih kantor imigrasi yang kita tuju (terdekat), lalu pilih jadwal yang tersedia sesuai dengan waktu luang kita. Antrian paspor ini juga bisa kita buat melalui aplikasi yang tersedia di playstore khusus untuk android. Cukup mudah bukan!

Ya, keliatannya cukup mudah. Siapa sangka setelah membuat akun antrian paspor, yang kita perlukan hanya sabar dan rajin untuk mengecek aplikasi antrian. Mengapa? Inilah yang pertama saya kecewakan setelah membuat akun tersebut tanpa kejelasan. Saat akan memilih jadwal kedatangan di kantor imigrasi terdekat, kebanyakan muncul "Kuota telah habis, silahkan memilih kantor imigrasi lainnya".

Begitupun ketika kita memilih kantor imigrasi lainnya. Sama saja. Mostly, seantero Jabodetabek akan sama. Beda halnya kalo nasib kita sedang baik, maka kita akan langsung mendapatkan jadwal tanpa ada pesan seperti di atas.

Jeda waktu saat kita mendapatkan jadwal untuk ke kantor imigrasi biasanya seminggu karena kuota yang tersedia masih cukup banyak. Tetapi tidak menutup kemungkinan hanya berselang sehari jika nasib baik sedang berpihak pada kita.

Intinya, banyak bersabar dan sering-seringlah mengecek aplikasi antrian paspor! Tipsnya adalah lakukan pengecekan saat weekend (minggu malam) atau saat sore hari (menjelang kantor tutup hingga menjelang malam dengan asumsi data kuota terbaru sudah diupdate).

Saya masih kurang mengerti mengapa developer sistem antrian paspor hanya membuat antrian dengan limit waktu terbatas (biasanya 3 hari), tidak dengan memberikan batas kuota tertentu tiap harinya namun dibuka untuk satu bulan ke depan. Karena yang ada sama saja kita si pembuat paspor mengalami ketidakpastian karena jadwal antrian yang belum kita dapatkan. Mungkin hal ini hanya berlaku untuk Jabodetabek dimana rate pembuatan paspor sangat tinggi setiap harinya.

Selanjutnya setelah mendapatkan jadwal antrian, maka kita datang ke kantor imigrasi sesuai yang kita pilih di aplikasi antrian. Meskipun tertera jam berapa kita harus datang, namun yang membedakan sebenarnya adalah pelayanan pagi dan siang. Jadi misalkan di jadwal yang kita dapatkan diharuskan datang pukul 10.01-11.00 WIB, sebenarnya kita boleh saja hadir lebih awal. Waktu ini untuk menjaga agar tidak terlalu crowded di jam-jam tertentu.

Bila jadwal terlewatkan, maka kita ulangi kembali untuk mendapatkan jadwal melalui aplikasi antrian. Hehe

Setelah tiba di kantor imigrasi, segera lakukan check-in di mesin yang tersedia melalui petugas. Tunjukkan barcode yang ada di aplikasi antrian kita, selanjutnya petugas akan men-scan barcode tersebut. Disini akan diklasifikasikan jenis pelayanan yang akan kita ambil. Apakah pembuatan paspor baru atau penggantian paspor lama. Bagi yang pernah membuat paspor sebelumnya, bisa dilakukan penggantian paspor. Cukup dengan memfotokopi paspornya. Sedangkan bagi yang baru membuat paspor, maka akan disertakan pula form pendaftaran yang harus diisi sembari menunggu nomer antrian untuk dipanggil.

Kita akan mendapatkan map kuning permohonan paspor (free) dan form pendaftaran bagi pendaftar baru. Semua fotokopi dokumen kita sertakan di map tersebut. Tunggu nomer antrian kita dipanggil oleh sistem. Jadi gak ada deh rebutan atau antrian panjang di kantor imigrasi seperti lima tahun lalu.

Setelah nomer kita dipanggil, data kita akan diinput dan diverifikasi berkas yang kita bawa. Petugas biasanya akan bertanya untuk apa kita membuat paspor dan jenis paspor yang akan kita buat. Jawablah dengan tenang dan santai: misalkan untuk persiapan liburan ke Singapura atau Malaysia yang paling mudah. Jangan kesal bila petugas terkesan agak 'kepo' menanyakan kapan keberangkatan, apakah sudah membeli tiket, dan lain sebagainya.

Untuk jenis paspor, pilihlah sesuai kebutuhan: paspor biasa 48h atau e-paspor. Hal ini akan berpengaruh ke biaya pembuatannya. Biaya untuk paspor biaya 48h adalah 355 ribu, sedangkan untuk e-paspor adalah 655 ribu. Untuk yang sering melakukan kunjungan ke Jepang, sebaiknya membuat e-paspor karena tidak perlu repot mengajukan visa bila kesana.

Untuk perpanjangan paspor, petugas hanya akan mengupdate data kita yang telah ada. Jadi prosesnya agak lebih cepat.

Setelah semua dipastikan tidak ada kendala, maka kita akan difoto, diminta sidik jari dan terakhir print out slip permohonan untuk pembayaran dan pengambilan paspor nantinya. Sebaiknya segera membayar biaya pembuatan paspor setelah menerima slip permohonan tersebut. Biasanya ada bank di dekat kantor imigrasi. Jangan lupa menyimpan bukti pembayarannya.

Paspor akan jadi dalam waktu 3-5 hari kerja. Untuk mengecek apakah paspor kita sudah jadi atau belum, kita bisa mengirim pesan whatsapp ke nomer imigrasi sesuai kantor imigrasi masing-masing. Pesan balasan otomatis akan memberikan informasi mengenai status paspor kita.

Bila sudah jadi, silakan kembali datang ke kantor imigrasi untuk pengambilan paspor. Bagi yang melakukan pergantian paspor, paspor lama kita akan diberikan kembali bersamaan dengan paspor baru yang kita buat. Jadi jangan khawatir akan kenangan stempel imigrasi ataupun visa dari negara-negara yang pernah kita kunjungi!

Selamat menjelajah! :)
Baca selengkapnya