Sunday, April 12, 2020

Sebuah Kabar Duka tentang Bapak yang Baru Bisa Kutulis

Ruang IGD RSUD Koja
  
I never been felt so sad in my life.

Jauh sebelum kabar paling buruk datang, Aku telah dan sedang belajar untuk lebih siap menghadapi kehilangan.

Senin lalu hari tepat Bapak bertambah usia. Entah ide darimana, tanpa ada rencana, dua hari sebelumnya menelepon ibu bahwa akan mengirim uang untuk buat semacam syukuran untuk Bapak. Tak perlu kue, cukup do'a dari tetangga sekitar dan nasi kuning yang dibagikan.

Saat si bungsunya ini di rumah, ritual paling ditunggunya adalah di'injek-injek'. Aku sempat menanyakan kabarnya kala itu. Tak menyangka jika hari itu adalah hari terakhirku bercakap dengannya secara sadar.

"Masih banyak yang belum sempat aku sampaikan padamu..."

Usai Jum'atan saat kutemui di IGD, Bapak masih sadar dan mendengar kami, meski sulit untuk banyak bicara dengannya. Entah apa yang ia rasakan dengan bantuan alat pernafasan dan beragam selang melilit tubuhnya. Suara EKG berderit mengisi ruangan IGD hari itu.

Seisi ruangan, sebagian besar pasien kondisinya hampir sama; kritis.

Ini kali kesekian Bapak dirawat. Sebelum-sebelumnya juga pernah, namun kondisinya tak pernah mengkhawatirkan saat ini. Biasanya hanya kekurangan HB atau lainnya, perlu dirawat 3-5 hari lalu kondisinya pulih.

Hari itu, di IGD ruangan Bapak dirawat ada 3 orang yang pergi, Bapak salah satunya.
---

Hidup terus berlanjut.

Pernah seorang kakak bilang, "Jadi anak soleh itu gak cukup hanya do'a untuk ibu-bapak, Mbang, tapi coba jadi yang bermanfaat untuk sekitar".

Semoga Amal dan Ibadah Bapak diterima oleh Allah SWT. Amiin


---
Kurang lebih itulah yang kutulis di instagram pribadiku beberapa hari lalu. Hari ini, tepat 100 hari lalu aku mendapati kabar bahwa Bapak telah tiada.

Malam itu, tepat saat aku baru turun dari kereta, menunggu jemputan salah seorang adik MAB di Halte Pocin, Mbak Nur, Kakakku mengabari bahwa kondisi Bapak sudah tak sadarkan diri. Aku berlapang dada berusaha menguatkan diri seolah tak terjadi apa-apa.

Di kamar, usai menyelesaikan cucian dan mandi karena seharian di rumah sakit, air mataku tak terbendung. Kabar buruk itu datang lebih cepat dari yang kuperkirakan.

Kehilangan Bapak, cepat atau lambat mungkin juga Mama. Siapa lagi yang aku punya selain mereka? Bukankah selama ini merekalah alasan kenapa aku masih berjuang? Menyempatkan untuk pulang sekedar untuk berbagi kabar dengan mereka? Memastikan bahwa mereka baik-baik saja di rumah?

Aku yang selalu memohon pada-Nya agar mereka diberikan kecukupan rezeki di hari tuanya, diberikan kebahagiaan dan kesehatan serta selalu dijaga oleh-Nya.

Pusara Bapak di TPU Kp. Mangga, Jakarta Utara
---
Hari ini, tepat 100 hari sejak kepergian Bapak. Ibu satu-satunya yang merasa harus kujaga. Lebih mudah untuk kuajak dan juga kubujuk agar ia lebih banyak istirahat. Aku menyadari, sejak kepergian Bapak ia belum benar-benar beristirahat. Selalu saja banyak gangguan dari anak-anaknya. Hari ini, selain kami, mungkin teman-temannya di pengajianlah yang menjadi pelipur laranya, pengisi waktu luangnya dari rasa kesepian.

Walau bagaimanapun, kehadiran kami anak-anaknya, juga cucu tak mampu menggantikan separuh jiwanya yang telah pergi bersama Bapak.

Sebagai anak paling kecil, aku masih berjuang untuk menghadirkan kebahagiaan untuknya hingga kini. Bagiku, cukup dengan tidak merepotkannya adalah bagian dari ikhtiarku untuk membahagiakannya.

Dan kini, aku juga ibu menunggu hingga kondisi kembali pulih untuk terus melanjutkan hidup yang lebih baik ke depannya. Bismillah.

Bagikan

Jangan lewatkan

Sebuah Kabar Duka tentang Bapak yang Baru Bisa Kutulis
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.