Friday, April 17, 2020

Berbagi Pengalaman dengan Menjadi Public Speaker

Mengisi acara Teens Go Green (dok pribadi)
 
"There is no public speaking without preparation..."

Seorang teman beberapa tahun lalu mengingatkan hal tersebut. Terlebih dia memang memiliki bakat di bidang public speaking. Tak ada yang salah memang.

Saya sendiri adalah tipe orang yang mudah gugup, apalagi saat di depan umum. Biasanya keringat akan mengucur deras, tangan gemetar dan gerakan tidak terkontrol.

Satu hal yang pasti, saya percaya jam terbang, sering latihan dan kesempatan membuat public speaking saya semakin baik dari waktu ke waktu.

Jika boleh diingat, ketika masuk di Teens Go Green lah saya mulai memberanikan diri untuk sedikit demi sedikit berbicara di depan umum. Meski terkadang untuk sekedar sharing antar peer group saja saya selalu dag-dig-dug, merasa tidak pe-de apa yang ingin saya sampaikan. Padahal, mereka mungkin juga sama seperti yang saya rasakan saat itu.

Sebagai leaders di Teens Go Green, kesempatan demi kesempatan membuka peluang saya untuk menjadi pembicara menyampaikan materi untuk dibawakan. Itu pun tak mudah awalnya, dimulai dari menjadi leader di kelompok, berani mengungkapkan pendapat ketika forum internal hingga menjadi salah satu leader yang paling menonjol.

Mungkin 2008 kalau tidak salah adalah waktu pertama saya menjadi seorang pembicara. Saat itu, saya menjadi narasumber di sebuah program yang diadakan Daai TV Indonesia. Saya menyampaikan keterlibatan saya di Teens Go Green dan bagaimana aktivitas lingkungan saya bersama Green School SMAN 13 Jakarta.

Kalau dilihat kembali, bicara saya saat itu sangat tak terstruktur. Maklumlah, seorang yang demam panggung disuruh menjadi tamu di acara talkshow. Kebayang bagaimana rupanya.

Selanjutnya, yang saya ingat menjadi pembicara di sebuah seminar di kampus USBI yang saat ini menjadi Sampoerna University, saat itu saya menyampaikan mengenai kampanye Styrofoam? No, Thanks! yang dijalankan Teens Go Green.

Lalu, setelah itu pernah diundang untuk mengisi edukasi lingkungan yang diadakan oleh mahasiswa BINUS. Beberapa kali pernah juga pernah diundang untuk acara radio salah satunya di KBR 68h.

-----

Kini, jika saya diminta untuk menjadi pembicara di suatu acara atau kegiatan tak lagi merasa tidak pe-de seperti dulu. Bahkan di forum-forum serius, jika ada kesempatan mengapa tidak?

Saya begitu menyadari belajar public speaking tidak hanya melatih lidah agar lancar berbicara saja, tetapi juga sikap dan gaya kita. Di hadapan orang, kita harus bisa mengontrol itu semua.

Beberapa kali ketika demam panggung menghantui, rasanya apa yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari hilang begitu saja. Maka, kunci utama public speaking adalah relax sehingga kita bisa menguasai audiens sejak awal. Begitu audiens berhasil kita kuasai, dari situlah semuanya akan mengalir begitu saja. Tau-tau semuanya selesai.

Pengalaman selama di Teens Go Green mulai dari memimpin rapat internal, menjadi PIC untuk acara Camp hingga mengisi materi pembekalan dasar yang terus berulang memberikan saya kesempatan lebih banyak untuk belajar public speaking. Selanjutnya, kesempatan-kesempatan ketika menjadi pembicara di acara maupun forum di luar Teens Go Green menjadi panggung nyata untuk implementasi hasil belajar public speaking sebelumnya di forum internal.

Persiapan menjadi amat penting agar kita bisa lebih paham materi yang akan kita sampaikan. Kita tak mungkin akan berbicara kesana-kemari tanpa tujuan. Sebagai seorang public speaker, belajar presentasi yang baik adalah salah satu skill yang wajib dikuasai agar paparan yang kita sampaikan sesuai dengan audiens yang ada, tidak kaku, namun formal dan sesuai dengan target.

Bagaimana pengalaman public speaking kalian? Saya sangat terbuka bila ada masukan dan tips terkait public speaking dari kalian.

Bagikan

Jangan lewatkan

Berbagi Pengalaman dengan Menjadi Public Speaker
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.