Wednesday, July 10, 2019

Travel Story : Jogja Kota Kenangan (Bagian 2)




Pulang ke kotamu...
Ada setangkup rindu...
Masih seperti dulu...

Entah mengapa Jogja terasa begitu berbeda. Sejak zaman kuliah beberapa kali mengunjungi Jogja, mulai sekedar berlibur mengunjungi teman, menghadiri teman wisuda hingga berkegiatan bersama teman-teman yang baru dikenal.

Penduduknya yang ramah, makanannya yang enak dan murah, suasananya yang selalu menumbuhkan rindu. Salah satu misi di liburan kali ini yaitu menikmati makanan khas Jogja yang jarang ditemui di Depok.

Hari kedua usai check out dari penginapan, kami meluncur ke Mie Ayam Bu Tumini 2 yang letaknya di Jalan Imogiri, sekitar Giwangan. Kabarnya Mie Ayam Bu Tumini 2 dijalankan oleh anaknya. Rasanya pun tidak jauh berbeda.

Yang membuat penasaran adalah bagaimana rasanya? Karena di Kukusan Depok sendiri ada Mie Ayam Galang yang juga terkenal enak dan ramai, bahkan di hari biasa.

Begitu sampai, memang cukup ramai. Apalagi di siang hari yang terik. Orang-orang rela untuk keluar rumah hanya untuk menikmati semangkuk mie ayam. Menunya pun cukup bervariasi mulai dari mie ayam biasa, mie ayam ceker, mie ayam jumbo, bahkan ekstra ayam dan ekstra ceker.

Jika dibandingkan dengan mie ayam pada umumnya, mie ayam Bu Tumini mempunyai mie yang besar dan padat. Kuahnya pun kental. Rasanya agak manis khas masakah jawa seperti gudeg bacem dll. Worthed banget lah untuk dicoba!

Dari Mie Ayam Bu Tumini kami menuju penginapan kami yang baru yaitu OYO 590 Wisma Arya 2 yang terletak tak jauh dari Plaza Ambarukmo. Entah mengapa kami memilih penginapan tersebut, selain karena harganya yang murah juga karena secara tampilan menjanjikan.
Kami tiba lebih awal dari waktu check in pukul 14.00 WIB tanpa membuat permintaan khusus terlebih dahulu. Untungnya pihak penginapan berbaik hati segera menyiapkan kamar yang akan kami tempati.

Dibandingkan dengan sebelumnya, penginapan kali ini lebih nyaman dan bersih. AC, TV, water heater semua berfungsi dengan baik. Kasurnya pun empuk, standar penginapan di hotel. Minusnya ya lokasinya memang agak jauh dari pusat kota, tak masalah karena kami sudah puas berkeliling di Kota saat hari pertama.

Kami lagi-lagi memesan di Pegi-pegi hingga akhirnya menemukan penginapan ini. Tampaknya standar OYO memang kebih baik dibandingkan RedDoorz dan Airy. Kami menginap hingga 2 malam berikutnya.
----

Pantai Selatan Gunung Kidul yang Mempesona

Laut walau bagaimanapun selalu mempesona. Tujuan kami berikutnya setelah check in di penginapan adalah menuju pantai selatan untuk menikmati sunset. Hari minggu itu jalur menuju gunung kidul cukup ramai. Pun arus balik. Hilir bergantian bus-bus besar yang sepertinya telah menikmati keindahan pantai.

Jalanan yang mulus terasa sangat nikmat meskipun berkendara dengan roda dua. Hampir 60 Km jarak perjalanan kami yang menempuh waktu sekitar 1,5 jam. Menjelang pukul 16.00 kami tiba di Pantai Kukup.

Sebelum masuk ke kawasan Pantai Gunung Kidul - ada banyak pantai di kawasan ini yang lokasinya berdekatan- pengunjung diminta untuk membayar tiket sebesar Rp 10ribu per orang. Selanjutnya di tiap pantai nanti kita hanya akan dikenai biaya parkir kendaraan roda 2 sebesar Rp 2 ribu per kendaraan.

Pantai Kukup menjadi pantai pertama yang kami kunjungi. Suasana pantai yang cukup ramai sore itu. Pasir putih kecokelatan menyapa kaki kami. Ombak pantai selatan bergulung-gulung menari kian kemari. Mentari hampir tenggelam di balik bukit. Sinarnya teduh berbalut jingga. Kami segera menyentuh air laut, menikmati sore itu bermain dan mengambil gambar tiada henti.



Usai dari pantai kukup, kami pergi ke pantai berikutnya. Suasana sudah semakin sore. Tujuan kami selanjutnya adalah pantai Sepanjang yang memang garis pantainya cukup panjang. Pasir disini lebih bersih. Sayangnya matahari sudah hampir hilang tak terlihat.

Teman-teman menyarankan untuk ke pantai yang lebih awal yaitu pantai Baron untuk mendapatkan matahari tenggelam. Kami pun menuju pantai Baron. Tiba di sana, keinginan kami untuk bermain di pantai hilang. Air telah pasang. Air laut telah bertemu dengan muara sungai. Biasanya kami bisa bermain di bibir pantainya.

Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Setidaknya, kami sudah cukup puas menikmati Pantai Kukup dan Pantai Sepanjang. Berhasil mengabadikan beberapa moment foto bersama-sama.

Bis-bis besar tampak masih memenuhi Pantai Baron. Kami beranjak sebelum hari semakin gelap.
-----

Kebun Buah Mangunan dan Candi Prambanan


Pagi hari kami berencana ke sekitar Dlingo untuk menuju Jurang Tembelan. Melewati kawasan Imogiri, akhirnya kami tiba di daerah Mangunan. Di sini banyak lokasi wisata baru yang tercipta. tiba di Jurang tembelan, kami urungkan niat karena hanya sebuah spot foto biasa yang tidak lebih indah dari filter intagram.

Kami akhirnya menuju Kebun Buah Mangunan. Tak disangka, spot yang kami datangi menawarkan keindahan yang luar biasa. Sayangnya kami datang agak siang menjelang pukul 09.00 WIB. Andai saja bisa lebih pagi dari rencana kami sebelumnya.

Kebun Buah Mangunan adalah sebuah puncak bukit yang letaknya lebih tinggi dari sekitarnya. Dari puncak itu akan terlihat hamparan bukit-bukit lainnya yang menjulang. Pagi itu cukup sepi, selain karena hari senin juga matahari sudah beranjak naik sehingga tak lagi terlihat kabut-kabut di atas bukit.

Tak jauh dari kebun buah Mangunan ada Pinus yang juga dijadikan tempat wisata. Jogja memang memiliki keistimewaan menggerakkan masyarakat untuk menciptakan wisata berbasis desa, tak heran tempat wisata baru tumbuh menjamur di Jogja.

Usai dari Kebun Buah Mangunan, kami menuju Candi Prambanan. Suasana hari itu cukup terik. Agak ragu sebenarnya untuk masuk ke Candi Prambanan karena sangat panas, akhirnya setelah mencari promo kami mendapatkan harga yang lebih murah dari traveloka (selisih hampir Rp 15ribu), lumayan untuk kami berempat totalnya bisa hemat Rp 60ribu.

Meskipun cukup panas, Candi Prambanan selalu menawarkan kesan megah bukti kejayaan masa lalu. Apalagi cerita yang membumbuinya membuat cerita tentang Prambanan menjadi sangat menarik untuk diikuti. Tampak selain wisatawan lokal, ada banyak wisatawan mancanegara yang menikmati keindahan Prambanan.

Setelah asyik berkeliling, akhirnya kami memutuskan pulang.


-----

Penutup.

Liburan kali ini agak kurang nyaman sebenarnya. Bukan karena masalah penginapan ataupun transportasi, tetapi lebih ke waktunya yang seakan kurang terasa bebas. Rencana awal kami hampir seminggu untuk menikmati liburan akhirnya gagal karena beberapa hal. Padahal saat itu masih dalam pekan liburan.

Pertama; Ravi yang seolah dikejar untuk segera menyelesaikan revisinya. Padahal seharusnya bisa lebih santai. Ravi memutuskan untuk pulang lebih dulu Selasa Pagi. Kedua; Fadlu yang tiba-tiba bilang akan ada kuis di hari selasa sehingga memutuskan untuk pulang Senin sore.

Hari itu, usai dari Prambanan, setelah beristirahat sebentar di penginapan, kami mengantar Fadlu menuju Stasiun. Usai Fadlu pergi, rasanya semangat liburan kami hilang. Bahkan keinginan untuk menikmati malam di Malioboro pun hanya dipenuhi dengan numpang sholat di Mall Malioboro, lalu kami beranjak pergi ke Waroeng SS dekat penginapan untuk makan malam.

Keesokan paginya, Ravi pulang ke Depok. Tersisa saya dan Wahyu. Rencananya kami akan ke Kebumen, sehari menikmati Kebumen lalu saya akan kembali ke Jakarta.

Sampai jumpa di liburan berikutnya.

 

Bagikan

Jangan lewatkan

Travel Story : Jogja Kota Kenangan (Bagian 2)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.