Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Memilih antara Hal yang Benar dan Mudah dalam Hidup

Pilih jalan yang benar
 
Di suatu malam ketika iseng menanyakan kepada seorang adik di asrama tentang keikutsertaannya dalam sebuah kompetisi inovasi bisnis, ia dengan antusias menjelaskan terkait ide yang ia ajukan. Obrolan kami melebar hingga ke berbagai kompetisi serupa yang diadakan oleh lembaga yang sama.

Hingga tiba-tiba, rasa pesimis itu muncul tanpa diduga. Ia menyayangkan bahwa kompetisi seperti ini hanya diikuti oleh sebagian kecil dari mahasiswa saja, padahal potensi dana yang dikeluarkan sangatlah besar.

Salah satunya adalah akses informasi yang hanya dimiliki oleh sebagian kecil mahasiswa saja. Proposal yang lolos pun bisa ditebak, hanya berkutat di orang-orang tersebut. Seorang mahasiswa senior yang kebetulan aktif di sebuah komunitas bisnis dan memiliki lebih dari satu ide bisa mengajukan 5-6 proposal sendiri. Bisa dibayangkan jika tiap proposal yang lolos misalkan didanai Rp 30 juta. Empat saja yang lolos sudah mendapatkan Rp 120 Juta.

Tentu, dari pihak penyelenggara ada ketentuan bahwa peserta hanya boleh mengajukan 1 proposal saja. Tetapi, hal ini tidak menutup kreatifitas para mahasiswa untuk bisa mengajukan semua idenya, bahkan dengan memperoleh keuntungan yang lumayan. Mereka mencari tim mahasiswa yang ingin mengikuti kompetisi tersebut dengan idenya. Pilihannya ada 2: ikut kerja keras menyelesaikan proposalnya atau terima jadi (hanya mengirimkan data diri sebagai formalitas) dengan perjanjian tertentu dan membagi hasil yang didapat untuk si pembuat proposal.

Cara kedua inilah rupanya banyak dilirik oleh mahasiswa yang sekedar ingin menambah daftar prestasi di CV, alih-alih merasa diri sibuk karena tugas kuliah yang juga banyak.

Sebagai seseorang yang akan memasuki tingkat akhir, ia sempat berpikiran ingin melakukan hal tersebut. Sayangnya, deadline kompetisi yang juga sudah mendesak memaksa untuk kembali sadar berada di jalan yang seharusnya.

Pertanyaannya, apakah hal tersebut salah?

Saya teringat dengan sebuah pesan dari Bu Safitri Siswono dalam sebuah sesi professional life dari program Orde Insani, sebuah program professional leadership development skill yang digagas oleh SKHA Consulting.
 
“Jika kita dihadapkan pada pilihan hal yang benar dan mudah, maka selalu pilihlah hal yang benar.”

Pesan tersebut menjadi salah satu value yang coba saya tanamkan dalam diri. Untuk selalu membawa diri kita berada dalam ranah yang benar, bukan mudah.

Hal yang benar, mungkin tidak mudah untuk melewatinya. Hal yang mudah pun, belum tentu benar. Jika dihadapkan pada kedua pilihan tersebut, tetapkan hatimu untuk memilih hal yang benar.

Mendapatkan uang dengan mengikuti kompetisi, mungkin wajar. Tetapi ketika kita mengambil hak orang lain dengan mengajukan proposal lebih dari ketentuan dan memanipulasi data dibalik itu apakah itu suatu hal yang benar?

Saya sering berpikir, mungkin pilihan mudah terlihat lebih menggiurkan. Kita tak perlu usaha ekstra untuk menjalaninya. Tetapi, dibalik kemudahan itu, mungkin keberkahannya hilang.

Ya, keberkahan. Hal yang tak kasat mata, namun kita rasakan. Ketenangan yang kita rasakan dalam keseharian. Indahnya rasa syukur dalam setiap detik hidup kita. Indahnya rasa ikhlas yang menemani perbuatan kita.

Mungkin kita sering lupa, bahwa implikasi pilihan kemudahan dari hal yang tidak benar secara tidak langsung memberikan pengaruh dalam hidup kita jangka panjang. 
 
Maka, selalu memohon bimbingan-Nya untuk menetapkan hatimu di jalan yang benar, jalan yang Ia ridhoi.

(Bambang Sutrisno)
 
Ps: Bahan reflesi diri penulis.
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts