Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Catatan Community Leaders Training : Ayamin Plus (Day 1)

Ayamin Plus Community Leaders 2016 Batch 1
 Pada 17-19 Maret lalu, saya terpilih menjadi salah satu peserta Community Leaders Program 2016 yang diselenggarakan oleh Ghadan Institute dan Nama Foundation dari Saudi Arabia serta diorganisir oleh Wafa Indonesia. Program ini merupakan program pembinaan untuk membentuk Social Enterpreneur muda yang juga diselenggarakan di Tanzania, Kyrgiztan dan Lebanon.

Sebelum bercerita ke sesi training, saya akan ceritakan terlebih dahulu mengenai program Community Leaders yang sangat keren ini menurut saya. Jadi, program ini adalah sebuah pilot program yang pertama kali diadakan untuk mencari pemuda potensial untuk mengembangkan kewirausahaan berbasis sosial. Mengapa dilaksanakan di empat Negara tersebut? Harapannya ke depan program yang berhasil bisa berekspansi ke regional masing-masing, misalnya Indonesia ke ASEAN, kemudian Lebanon ke Timor Tengah, Kyrgiztan ke Asia Utara dan Tanzania ke Afrika.

Fase yang saya lalui kemarin adalah fase awal. Ada Beberapa fase yang akan dilalui selama program berlangsung. Setelah Ayamin Plus (Fase training pembinaan), selama 3 pekan peserta akan dimentori dan dicoaching oleh dua orang untuk membuat action plan project. Setelah itu, peserta akan mempresentasikan action plannya masing-masing. Dua puluh peserta dengan action plan terbaik akan mendapatkan seed funding untuk mengimplementasikan project nya dalam waktu satu tahun. Selanjutnya, mereka akan memasuki fase dua dengan mengikuti training di Turkey selama sekitar 21 hari. Dari sana, mereka akan mendapatkan pendanaan kembali untuk mengimplementasikan project nya selama 2 tahun.

Peserta yang terpilih rata-rata adalah social activist atau social entrepreneur yang memiliki pengalaman volunteering dari berbagai bidang. Maka tidak heran peserta ayamin plus yang saya ikutin memang terasa luar biasa dari training kebanyakan.

Baiklah, saatnya bercerita ke bagian trainingnya. Sudah siap?

Day 1:

Our Experiences Matter, but Stay Humble

Sesi pertama adalah perkenalan. Kami berkenalan secara bergantian dengan bermain games "Someone with 'something' move... ". Kami mengenalkan diri kami masing-masing, asal kami, kesibukan saat ini juga pengalaman volunteering yang pernah kami jalani. Kami diminta untuk memperkirakan berapa tahun kami telah terlibat sebagai volunteer.

Ternyata, setelah dijumlahkan dari semua peserta totalnya 97 tahun atau hamper 100 tahun. Bisa dibayangkan 100 tahun pengalaman volunteering adalah hal yang luar biasa. Pengalaman memang hal yang baik, tetapi di program ini kita akan sama-sama belajar.

Community Leaders should place theirself in the Challenges zone.

Pada sesi kami diminta untuk memilih zona yang menurut kami sesuai ketika trainer menyampaikan sebuah situasi. Ada tiga zona yakni comfort zone, challenge zone dan pain zone. Ketiga zona ini adalah analogi dari tiap kondisi yang kita lalui dalam setiap aspek kehidupan. Terkadang, kita terlalu nyaman untuk berada di comfort zone, merasa enggan untuk keluar dari zona tersebut. Sebagai seorang community leaders, kita harus belajar untuk memposisikan diri kita di challenge zone. Kita harus bisa senantiasa siap dengan berbagai tantangan yang akan kita hadapi di depan, bukan menyerah lalu pasrah di pain zone.

Build your home village, and working with the community

Pada sesi ini kami disuguhkan sebuah video inspiratif TED yang mengisahkan tentang Francis, seorang arsitek lulusan Jerman yang berasal dari sebuah negara miskin di Afrika: Ghanda. Ia menceritakan kisahnya membangun kualitas kehidupan di desanya dengan menerapkan ilmu arsitektur yang telah ia pelajari. Bangunan pertama yang menjadi proyeknya adalah pembangunan gedung sekolah. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari seorang Francis misalnya sebagai community leaders kita harus bisa down to earth. Francis mau terjun langsung ke masyarakat tanpa menganggap dirinya lebih hebat dari masyarakat hanya karena pendidikan yang telah ia peroleh. Meskipun awalnya tak dipercaya, ia pun pantang menyerah. Akhirnya ia berhasil membangun desanya dan mewariskan ilmu perancangan bangunan kepada masyarakat di desanya. Kisah Francis bisa dilihat disini.

Tiga hal yang bisa kita dapatkan dari Francis, yaitu;
1.      Knowing the problem
2.      Facing Difficulties
3.      Victory or happiness

Communicate effectively

Pada sesi ini kami bermain Lego. Masing-masing peserta dibuat berpasangan dan duduk saling membelakangi. Di hadapan tiap peserta diberikan lego secara acak untuk disusun menjadi ‘sesuatu’. Peserta di sebelah kanan membuat sesuatu dari Lego yang didapat, kemudian menginstruksikan teman pasangannya untuk membuat hal yang sama tanpa harus berhadapan secara langsung.

Disinilah kami belajar bagaimana seorang community leaders harus mampu memiliki komunikasi yang efektif. Terkadang dalam komunitas, kita sebagai leaders tidak memberikan kesempatan komunitas yang sedang kita bantu untuk berkomunikasi.
Dari Lego’s game, ada prinsip HEAR model, atau bisa dijabarkan menjadi :
1.      Hear
2.      Empatize
3.      Analyze
4.      Respond


Tell your story in thousand words, but make it simple

Pada sesi ini, kami diminta untuk menceritakan cerita yang kami dengar dari teman di sebelah kami, lalu menceritakan kembali ke teman di sebelah kami lainnya. Cerita ini dikembangkan secara simultan berdasarkan gambar yang diberikan secara acak.

Di akhir sesi, orang terakhir yang mendengan cerita akan mencoba menebak apa sebenarnya yang diceritakan dan menerka gambar mana yang sebenarnya sedang diceritakan. Dari games sederhana ini kita belajar bagaimana membangun komunikasi yang efektif di dalam komunitas. Terkadang, Bahasa yang kita gunakan terlalu tinggi sehingga komunitas target yang kita tuju tidak mengerti Bahasa kita. Sebagai seorang community leaders kita harus belajar bagaimana berkomunikasi menggunakan Bahasa yang simple dan juga emosional serta unik.
----
Ayamin Plus Community Leaders 2016

Hari ke-1 usai. Sebelum sesi berakhir, kami diminta untuk menuliskan aktivitas kami menggunakan prinsip traffic light. Lampu merah dianalogikan sebagai aktivitas yang pernah kita jalani dan sudah berhenti. Lampu kuning dianalogikan sebagai aktivitas yang sedang kita lakukan saat ini. Lampu hijau dianalogikan sebagai aktivitas yang akan kita lakukan di waktu yang akan datang.

Setelah me-list aktivitas berdasarkan traffic light, sebagai tugas di rumah kami diminta untuk me-list lima karakter positif dalam diri yang menjadi keunggulan disertai dengan cerita nyata yang pernah dialami terkait karakter tersebut.

Berlanjut ke Day 2



Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts