Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Cerita Tentang Bapak : Pengorbanan yang Tak Pernah Terlihat

Bapak menggendong kakakku saat muda dulu

"Bang, Bapakmu sakit. Dari tadi pagi 'berak darah', Sekarang sampai tidak bisa bangun sama sekali" Di kejauhan Ibu menelepon. "Ini sekarang lagi di Bandung. Semalam ikut ke tempatnya Mbak Nur. Kamu Pulang ya ke rumah nanti sore." Terdengar nada cemas dari getar suaranya.

" Terus sudah dikasih obat, Ma? Lagian, ngapain ke Bandung si Ma?" Nadaku bercampur cemas dan kesal.

Sepanjang pagi itu, entah apa yang kupikirkan. Gerakku lambat sekali. Kakakku berkali-kali menelepon memintaku segera pulang. Adikku tak berhenti mengirim pesan yang membuatku tak bisa berpikir jernih.

Kekhawatiran itu akhirnya pecah. Di kereta, aku hanya menatap kosong dari jendela. Jalan-jalan yang menjauh di belakang seiiring gerak laju kereta. Aku tak berhenti mengucap asma-Nya seraya membaca Al-fatihah. "Engkau Maha Pemberi yang Terbaik untuk Hamba-Nya".
----

Pukul 16.00

Aku tiba di rumah. Melihat tubuh itu kaku tidak bergerak. Terbaring lemah. Namun, berbarengan dengan itu, aku bergegas menuju Mushola menyegerakan Sholat Ashar. Mungkin Do'a adalah yang terbaik yang bisa kulakukan saat ini.

Bapak tidak mau diajak ke Rumah Sakit. Diagnosisku Bapak terkena diare dari gejalanya. Ia butuh banyak cairan sebagai pengganti cairan yang hilang dari tubuhnya. Bila terlambat, maka fatal akibatnya.

Aku diminta mengabari Lek Supi, adik Bapak di Jawa. Dialah adik Bapak satu-satunya yang tersisa. Kakak-kakakku yang lain juga diminta untuk diberitahukan. Kita tidak akan pernah tahu kapan. Kita hanya bisa berharap untuk diberikan yang terbaik oleh-Nya.

Hingga setelah maghrib, akhirnya Bapak dibawa kakak ke Dokter. Dugaanku benar, ternyata Bapak terkena diare. Dokter menyarankan untuk melihat kondisinya terlebih dahulu, bila tidak membaik, maka akan diupayakan untuk di rawat di rumah jika tidak dimungkinkan di rumah sakit.
----

"Tak usah sekolah sekalian jika tak mau disana... " Bentak Bapak ketika aku ragu memasuki sekolah menengah pertama terbaik di kotaku. Aku, satu diantara teman-temanku yang berhasil masuk ke sekolah terbaik. Beradaptasi kembali dengan lingkungan yang asing bagiku. Pilihan itu, jika tidak aku mungkin tak akan pernah bersekolah dan menjadi seperti sekarang. Aku yang dulu pemalu, minder dan tak pernah menyadari bahwa dibalik kekurangan itulah sebenarnya kelebihan yang kupunya.

Bapak mendidikku untuk tumbuh menjadi orang yang apa adanya, selalu ikhlas dan mengalah dalam berbagai situasi. "Akan ada balasan terbaik dari-Nya atas apa yang kita upayakan" Pesannya padaku.

Ah, meski ibu yang selalu bercakap banyak setiap kali aku di rumah. Namun, Bapak lah yang memperhatikanku lebih banyak. Mengkhawatirkanku meski tak pernah ia ungkapkan. Ia yang hanya menatapku dari kejauhan disaat aku datang.
----

Aku tak habis rasa ketika mendengar betapa bangganya beliau bercerita tentang wisuda. Putra satu-satunya yang diwisuda. Putra kebanggaannya selama ini. Putra yang kini menjadi tumpuan dan harapan baginya.

Tetapi, demi melihat tubuh tua renta yang kini terbaring tak berdaya itu, aku berlari menyusulnya. Terlalu banyak pengorbanan yang tak tampak darinya. Terlalu banyak kekecewaan di hatinya karena kami, anak-anaknya. Maka, biarlah kini aku mengganti semua pengorbanan itu.

Kini di usianya yang beranjak senja, hanya kamilah anak-anaknya yang menjadi harapannya. Terima kasih untuk semua pengorbanan Bapak selama ini. InsyaAllah, kami anak-anakmu akan terus menjagamu. Terima Kasih Ya Rabb Engkau masih memberikan kesempatan kepada kami untuk berbakti kepada Bapak.

Depok, 13 Januari 2016
Bams

----
ps: Alhamdulillah, Bapak saat ini sudah lumayan membaik kondisinya. Semoga bisa terus stabil demikian. :)
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts