Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Tentang Kebermanfaatan: Seberapa Besar Manfaat Kita untuk Orang Lain?


Aku memulainya dengan ketidakpunyaan. Ya, dulu sewaktu memulai kuliah aku meminjam uang untuk melunasi biaya perkuliahan. Diawal semester berjalan pun, sering sekali aku meminjam uang untuk melunasi biaya semester, meskipun kecil namun aku tetap tak mampu untuk melunasinya. Memang, aku tak pernah melibatkan ibu dan bapak dalam hal ini.

Adanya teman dan juga kakak kelas membuatku merasa beruntung bisa dibantu. Saat itu, bilangan seratus dua ratus memang cukup besar. Padahal, biaya kuliah setiap semester yang harus aku bayar kurang dari satu juta rupiah. Tetap saja, namanya juga tak ada yg bisa dibuat untuk membayar.

Hingga beberapa strategi untuk menambah penghasilan aku coba mulai dari mengajar, mengikuti lomba yang berhadiah uang tunai, beasiswa dan juga mengikuti kegiatan volunteer(meskipun tidak berharap dibayar, namun dengan Gratisnya aku tetap merasa bisa berkegiatan dan aktif). Di semester-semester berikutnya, aku sudah bisa membayar biaya kuliah tanpa harus meminjam uang lagi, meski terkadang harus mengajukan cicilan agar lebih ringan bebannya.

Banyak yang bilang ketika kita pernah merasakan berada dalam kondisi yang orang lain rasakan, maka ikatan yang ada akan semakin kuat. Itulah yang aku alami saat ini ketika menghadapi kenyataan bahwa masih banyak dari adik-adik mahasiswa yang kukenal juga mengalami keadaan yang pernah kurasakan. Di awal semester selalu aku tawarkan bagi mereka yang kesulitan bisa meminjam uang ke diriku tanpa ada jaminan atau tenggat pengembalian. Meski belum banyak yang kupunya, setidaknya bisa membantu mereka.

Mungkin inilah timbal balik dari apa yang pernah kualami, berharap mereka pun kelak akan melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan. Kita hidup sekali, maka buatlah hidup kita menjadi lebih penuh manfaat. Aku merasa bersyukur masih dikelilingi oleh orang-orang yang dengan ikhlas menunjukkan rasa cintanya untuk membantu orang lain. Dari mereka sebenarnya aku banyak belajar bahwa menjadi baik dan senang membantu orang lain tidaklah instan, tetapi harus dibiasakan.

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain... "

Begitulah kata hadits. Maka, seharusnya kita memulai untuk menjadikan hidup kita lebih penuh manfaat untuk orang-orang di sekitar kita.

Beberapa waktu lalu obrolan dengan salah seorang teman lama mengenai kesibukannya saat ini setelah menjadi seorang dokter. Katanya, untuk apa jika bekerja tanpa memberikan kebermanfaatan kepada orang lain?

Ya, mungkin itulah yang kucari. Bekerja untuk memberikan kebermanfaatan. 

Depok, 6 September 2015
bamsutris
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts