Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Belajar Menyetir Mobil : Belajar Mengendalikan Emosi


Ini tentang mengendalikan emosi. Belajar menyetir mobil lebih tentang bagaimana kita bias mengendalikan emosi kita. Karena kita perlu ketenangan dan pikiran yang jernih saat berkendara, bukan dengan pikiran ruwet yang mengacaukan diri kita.

Kali kedua dan ketiga belajar menyetir mobil. Ada hal yang berbeda. Meski sudah menguasai teori dasar dan hafal bagaimana memulainya, justru tantangan terbesar sekarang adalah bagaimana mengendalikan emosi.

Sore itu, ketika memulai untuk berlatih kedua kalinya. Ada rasa gugup, tegang yang menyelimuti. Apalagi semakin banyak yang berada di mobil. Memecah konsentrasi dan juga pikiran untuk fokus. Aku memulai tes kedua ini di depan balai sidang UI, berjalan perlahan menyusuri kuburan bis kuning, lalu menuju bunderan perpustakaan lama. Hampir saja terjadi tragedy menambak pembatas jalan lantaran aku tidak fokus dalam menyetir yang seharusnya berbelok, lalu aku biarkan setir dalam keadaan normal.

Ada banyak hal yang mungkin bisa memecah konsentrasi kita ketika berada di kursi kemudi. Selain jalanan di depan, keriuhan di dalam mobil juga bias membuat kita kehilangan fokus. Inilah yang harus kita pelajari sebagai seorang pengemudi. Learn to be distracted. Saat berkendara sungguhan nantinya akan ada banyak hal yang memecah konsentrasi kita.

Latihan dilanjutkan dengan mengelilingi lingkaran perpustakaan lama. beberapa kali hingga menjelang maghrib. Ada satu hal yang kusadari sangat kurang dalam diriku yaitu bagaimana untuk bias lebih fokus dalam keadaan terdistract. Bahkan untuk mengganti gear, aku masih kebingungan. Tangan kiri yang siap mengganti posisi gear dan tangan kanan yang tetap di posisi stir, serta kedua kaki tampak tidak sinkron. Beberapa kali hampir menabrak.

-----
Latihan kali ketiga di hari yang berbeda. Ada banyak kemajuan yang kupelajari di hari ini. Memulai mengendarai mobil dari depan balai sidang, lalu masuk ke parkiran Fakultas Farmasi dan berbalik arah. Saat keluar menuju kuburan bis kuning, mobil berhenti. Aku sedikit panik lantaran ada mobil yang juga akan melintas. Keadaan berhasil kukuasai.

Latihan terus berlanjut di bundaran perpustakaan lama. Berulang kali aku berputar memastikan untuk lancar mengganti gear. Hanya fokuslah yang diperlukan. Lalu, menjelang Zuhur, kami menuju masjid. Awalnya aku agak ragu ketika teman-teman menyuruhku terus membawa mobil menuju masjid UI. Jalanan minggu itu lancar. Beberapa pejalan kaki yang merupakan pengunjung UI Open Days hari itu berjalan ramai di trotoar. Ketika akan belok di depan halte ui pondok cina, kepanikan menyerangku. Aku gugup. Dari arah belakang sebuah mobil terlihat akan melintas. Sebelah kanan pun sama. Pejalan kaki juga tak mau berhenti menyeberang. Akhirnya mobil berhenti.

Di dalam mobil itu, emosi mengendalikanku. Klakson mulai berdatangan. Kaca mobil terbuka, entah apa yang mereka lihat ketika memandangku. Aku berusaha meraih kembali diriku. Akhirnya mobil kembali nyala dan kujalankan hingga parkiran masjid UI. Kami sholat untuk memenuhi panggilannya. Bagiku untuk menenangkan diri.

-----
Ini lebih tentang mengendalikan emosi. Maka beruntunglah bagi mereka yang bias mengendalikan emosi mereka. Selalu tenang ketika masalah datang menghampiri. Dengan pikiran tenang, semua masalah akan mampu teratasi dengan baik.

Kendalikan emosimu, atau emosi yang akan mengendalikan diri kita.

Depok, 3 Maret 2016
@bamsutris
  •  
  •  
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts