Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Apakah kau mencintaiku?


"Apakah kau mencintaiku?" 

Begitulah salah satu games ice breaking yang kelasku mainkan saat memegang Sesi Orientasi Belajar Mahasiswa UI gelombang 1 dan 2. Jawabannya tentu bisa ya atau tidak. Meski hanya permainan, namun diperlukan cukup keberanian untuk melakukannya.

Begitulah mungkin yang diperlukan ketika seseorang ingin melamar pujaan hatinya. Diperlukan keberanian untuk mendatangi sang wali si calon yang akan dilamarnya. Apakah keberanian saja cukup? 

Kemarin ketika mendengar kabar teman dekat seangkatan dan sejurusan yang akan melangsungkan pernikahan, kembali saya merefleksikan diri, apakah saya cukup keberanian untuk mendatangi Bapaknya si dia untuk mengatakan 'Saya ingin meminang putri Bapak'.

Bukan, mungkin bukan keberanian. Lebih tepatnya, apakah saya cukup siap? Apakah persiapan yang saya lakukan untuk melalui fase tersebut sudah maksimal? Berkaca dari diri sendiri dan teringat apakah saya memang pantas untuknya? Pantas menjadi ayah dari anak-anak kami kelak.

Seperti permainan 'Apakah kau mencintaiku?', mungkin jawabannya juga sama. Bisa ya atau tidak. Mungkin iya, dialah jodoh yang akan melengkapi separuh agama saya. Mungkin pula orang yang selama ini hadir di mimpi saya bukanlah jodoh terbaik yang akan saya dapatkan.

Semua jawaban itu sejatinya mungkin telah dipersiapkan dengan matang okeh Sang Maha Pengatur Rencana. Kita boleh berencana, namun semuanya Ia juga yang akan menentukan. Tugas kita hanya berikhtiar, berdo'a lalu bertawakkal, menyerahkan semuanya pada garis yang telah ia tetapkan.

So, apakah kamu cukup siap dan berani untuk melamar si dia dalam waktu dekat ini?

Depok, 27 Agustus 2015
Bamsutris
  •  
  •  
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts