Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Kita (2)

Kita


Aku masih memendam semua rasa yang berkecamuk di dada hingga hari ini.

Kita lama tak berjumpa. Kapan terakhir kali kita bertemu? Aku ingat saat ramadhan sebelum aku pergi menginjakkan kaki di negeri Jiran. Hingga waktu berlalu begitu cepat dan menyadarkanku satu hal : semuanya telah berubah.

Dulu, sebelum kurangkai semuanya, aku hanya bisa berharap lebih dalam. Biarlah doaku berpilin kelak. Kini, aku kehilangan harapan itu. Agaknya aku memang tak pantas untuk berharap. Semuanya telah berubah. Mungkin kau, aku atau kehidupan kita yang telah berubah.

Kita terjeda oleh jarak.

Akupun sadar untuk membatasi interaksi kita. Mencoba menghilang dari kehidupanmu. Menjauh. Mungkin nanti waktu yang akan berbaik hati mempertemukan kita kembali.

Ah, mungkin aku telah tersadarkan, bahwa keterjedaan itu yang membuat kita belajar banyak hal untuk berproses menjadi yang lebih baik lagi. Ia Sang Pemilik Hidup tak mungkin salah menentukan garis hidup kita.

Mungkin aku yang terlambat menyadari bahwa semua ini berjalan atas garis hidup yang telah Ia tentukan. Mungkin inilah akhir ketika aku harus menghentikan semua harapanku. Meski aku tahu, mungkin saja di ujung sana takdir yang akan berpihak padaku.

Biarlah kata itu abadi menjadi pengikat jarak antara kita : sahabat.

Aku akan terus menjaganya. Dan terus melanjutkan keterdiamanku hingga waktunya tiba, atau kutemui orang seperti dirimu di tempat lain. 

Aku pulang membawa sepotong hati yang baru…


Maret 2014,


#Perjalanan panjang yang menyadarkanku, bahwa semua telah digariskan oleh-Nya. Aku hampir tak berdaya mendengar percakapan itu dengan tak sengaja. Biarlah keterjedaan jarak antara kita yang akan menjawab semuanya. Mungkin pula, kau yang lebih tahu siapa yang harus dipilih…


Catatan ini mungkin hanya fiktif dan rekaan penulis semata. :)
  •  
  •  
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts