Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Finally, We Got the Visa of Malaysia…

Orang lain tak perlu tahu seberapa besar usaha yang kita lakukan saat membantu mereka…” –Catatan Pembelajaran Juli 2013
            Perkembangan teknologi informasi yang kian pesat ternyata membuat kita lebih mudah menemukan orang-orang yang ingin kita cari. Tanpa sengaja, seseorang memasukkanku dalam group facebook AYVP 2013, juga AYVP peserta asal Indonesia. Entah siapa inisiatornya. Setidaknya, ini membantuku untuk mengetahui background teman-teman yang akan aku temui nanti, serta mengupdate informasi terkait program.
            Setidaknya ada 12 peserta asal Indonesia. Dari ujung barat Indonesia ada Aulia, Mahasiswa UIN Banda Aceh, kemudian Jakarta ada aku dan Rizki dari UI, Andreas, Alumni UI dan Janti dari UNPAD, lalu dari UGM ada Rida dan Ricky, dari Universitas Brawijaya ada Rinda dan Trini, dari UM Surabaya ada Jepri, dari Makassar ada Adin dan dari Dompu ada Bang Ewan. Aku baru mengenal Rida dan Rizki yang kebetulan satu kampus, namun hubunganku dengan yang lain pun terasa kita sudah mengenal lama.
            Suatu ketika sebuah email dari sekretariat masuk memberitahukan bahwa kami diwajibkan membuat visa Malaysia. Mereka memberi tenggat waktu hingga tanggal 26 Juli 2013. Aku sama sekali tak ada ide soal pembuatan visa, apalagi sangat minim informasi mengenai pembuatan visa Malaysia karena kebanyakan info yang ada tak menggunakan visa bila warga negara Indonesia hendak ke Malaysia. Tetapi, kami akan menetap di sana lebih dari 30 hari, maka kami wajib memiliki visa. Kubuka web kedutaan besar Malaysia, tak ada informasi lengkap yang bisa kudapat, hanya formulir pengajuan saja yang bisa kuunduh.
            Aku menghubungi Rizki menanyakan tentang pembuatan visa. Aku dan Rizki juga berencana membuat proposal bersama untuk pengajuan dana ke UI. Satu hal yang membuatku agak malas adalah karena saat itu adalah bulan Ramadhan. Aku sebenarnya lebih memilih untuk tetap berada di kos daripada harus kesana-kemari. Maklumlah, siang hari di Depok sangat panas. Rizki mendapat informasi dari temannya tentang pembuatan visa Malaysia beserta persyaratan yang diperlukan. Kami, para peserta dari Indonesia juga terhubung melalui email. Agak menyulitkan juga sebenarnya. Awalnya percakapan menggunakan bahasa inggris, tetapi lama-kelamaan menggunakan bahasa Indonesia. Maklumlah, kita kan orang Indonesia. Hehe…
*****
16 Juli 2013 : Ternyata, Tak Perlu Visa (?)
            Sebagian dari kami berencana ke Malaysian Embassy untuk pembuatan visa. Sejak kemarin, aku berinisiatif membuat grup di whats app untuk mempermudah komunikasi. Baru aku, Rizki, Rida dan Janti yang bergabung. Setidaknya memudahkan komunikasi kita. Adin mengabarkan sudah tiba di Embassy. Aku masih mempersiapkan berkas yang harus dibawa. Setidaknya kita perlu membawa paspor asli, form pengajuan visa, offer letter, flight ticket, foto dan copy ktp sebagai kelengkapan berkas. Adin mengabari bahwa kita tak perlu membuat visa. Ia bingung. Janti yang kebetulan tiba di sana, mengkonfirmasi terkait perlu tidaknya visa. Ternyata sama saja. Kita tak perlu visa. Namun, aku masih diselimuti kekhawatiran. Entahlah. Rizki pun tak sempat masuk ke embassy. Ia menemui Adin dan Janti di depan gerbang. aku tak sempat bertemu mereka. Setidaknya, kami sudah mencoba berusaha.
            Siang itu, selepas ketidakjelasan pembuatan visa, aku kembali ke kampus. Ternyata Adin juga berencana main ke UI. Itulah pertemuan perdana aku dengannya. Aku, Rizki dan Adin beserta dua teman Adin. Kami berkeliling danau UI, mengambil beberapa photo. Satu hal yang masih menjadi pertanyaan, apakah benar kami tak butuh visa? Adin sudah merelakan ke Jakarta untuk membuat visa, namun belum ada kepastian. Mungkinkah?
Pertemuan Perdana Aku dan Kak Adin, serta Rizki di Perpustakaan UI


*****
Kami Butuh Visa
Waktu berlalu begitu cepat. Rida pun ternyata sudah terlanjur membeli tiket pesawat ke Jakarta. Ia ingin kepastian terkait pembuatan visa. Maka, hari jum’at ia ke Embassy, dan ternyata kita memang butuh visa karena kita akan menetap lebih dari 30 hari di Malaysia. Saat Rida akan membuat visa, ternyata ditolak karena berkasnya tidak lengkap. Ternyata kami membutuhkan Visa Letter dari pihak sekretariat yang menyatakan bahwa kami perlu membuat visa. Adin sudah kembali ke Makassar dengan hasil sia-sia. Tak mungkin ke Jakarta lagi, apalagi tiket pesawat yang kian melambung lantaran peak season hari raya.
Seninnya, aku, rida, Rizki dan Ewan berencana ke Embassy. Inilah sekaligus pertemuan perdanaku dengan Bang Ewan. Di sana, kami menelepon pihak sekretariat langsung sehingga usaha kami tidak sia-sia. Ternyata, ada missed komunikasi, pihak sekretariat salah mengirim email. Untuk berjaga, aku kirim email kepada pihak sekretariat untuk minta dikirimkan copy visa letter yang dibutuhkan. Akhirnya, hari itu kami berhasil mengajukan berkas pembuatan visa. Prosesnya cukup cepat. rabu nanti visa sudah bisa diambil. Ewan, Rida dan Rizki meminta aku yang mengambil visa mereka, lalu mengirimkannya via pos. Tak masalah. Bagaimana dengan teman-teman lainnya yang tidak bisa ke Jakarta?
Sebelumnya, aku sudah coba tanyakan kepada pihak Embassy apakah bisa diwakilkan untuk pembuatan visa? Mereka bilang bisa. Alhamdulillah. Aku pun siap membantu teman-teman baruku membuat visa, mengirimkannnya kembali ke alamat masing-masing.
*****
Tetap berpikir Positif          
Siang itu, usai mengajukan berkas pembuatan visa, aku kabarkan kepada teman lainnya melalui grup Whats App untuk menyiapkan berkas yang ada secepat mungkin dan mengirimkannya via ekspedisi paling cepat (Pos Ekspress, JNE, TIKI, dsb). Sebelumnya aku sudah mengingatkan untuk menyiapkan berkas-berkasnya, sehingga ketika aku kabarkan bisa, mereka hanya perlu mengirimkannya ke pihak ekspedisi. Namun, ternyata tak semudah yang kupikirkan. Beberapa dari mereka tak merespon secara cepat. Padahal, rabu nanti paling tidak harus sudah sampai semua berkasnya, sehingga aku bisa segera ke Embassy untuk mengambil visa dan mengajukan berkas yang baru.
            Aku sepertinya harus bersabar mengenai ini. Ramadhan sudah hampir tiba di penghujung. Aku pun harus rela pulang-pergi I’tikaf, lalu ke Embassy. Hingga selasa sore, baru kiriman dari Aulia yang tiba di tempatku. Sangat cepat menggunakan paket PCP. Aku pun baru tahu tentang PCP. Rabu pagi, usai dari tempat I’tikaf, aku pergi ke Embassy untuk mengambil visa milikku, Rida, Rizki dan Bang Ewan. Alhamdulillah, semua lancar. Finally, I got my visa.
            Hingga Rabu Sore, masih beberapa berkas yang belum sampai. Aku masih harus menunggu di kosan, padahal aku ingin sekali I’tikaf malam itu. Namun tak apa, semoga kebaikan ini berbalas kelak. Paket Rindha sampai sekitar pukul 22.00 WIB kamis. Sangat malam. Itulah paket terakhir yang kuterima. Semuanya sudah beres. Aku cek satu persatu kelengkapannya. Jum’at besoknya aku menuju ke Embassy. Agak malu sebenarnya karena aku sudah beberapa kali bola-balik. Hingga security hafal dengan mukaku.
            Berkas sudah aku masukkan. Selasa, 6 Agustus 2013 visa akan selesai. Aku pulang dan mengirimkan pesan kepada teman-temanku untuk mengirimkan uang pembuatan visa serta ongkos kirim JNE. Aku agak sedikit kesal lantaran respon teman-temanku yang lama, seakan aku tak serius. Padahal, aku sudah berusaha yang terbaik untuk mereka. Sebenarnya, aku hanya ingin tak membebankan diriku mengenai bea pembuatan visa, karena lumayan besar bila aku harus menanggung biaya hampir 10 orang atau hampir Rp 500.000 dan akan sangat merepotkan bila menagih saat kegiatan nanti.
            Setelah agak lama respon dari mereka, akhirnya semua beres. Selasa itu aku menuju Embassy untuk mengambil visa yang telah selesai. Aku terus memutar otak bagaimana cara agar tepat waktu sampai di tangan teman-temanku semua passport mereka. Aku terus bertaruh dengan waktu yang ada. Aku putuskan untuk mengirimnya melalui JNE, aku pun langsung menuju JNE pusat di Tomang. Jakarta akhir ramadhan sangat lengang. Bahkan, saat hari kerja pun tak ada kemacetan. Namun tetap saja, panasnya udara luar apalagi sedang berpuasa membuat ujian terasa sangat berat.
            Tiba di JNE, aku langsung menuju teller dan menanyakan paket tercepat. Ternyata ujian belum berhenti. Mereka tak bisa mengirim paket cepat ke Banda Aceh dan Dompu. Aku harus menelepon Bang Ewan dan Aulia, berhitung dengan waktu yang ada. Akhirnya diputuskan untuk Bang Ewan akan dikirim cepat hingga ke Mataram, kemudian akan diambil langsung oleh Bang Ewan disana. Namun, ternyata visa Aulia salah penempatan foto. Foto Ricky yang digunakan pada visa Aulia. Aku tak tahu harus bagaimana. Awalnya, aku berpikir sudah tak ada waktu lagi. Apalagi tak bisa pengiriman paket cepat ke Aceh, ditambah cuti hari raya.
            Rida mengirimkan pesan ke sekretariat mengenai ini, dan pihak sekretariat meminta untuk menggantinya segera ke Embassy. Embassy hampir tutup hari itu. Aku terus mengejar waktu untuk melakukan pergantian visa Aulia. Satu hal yang membuatku tertawa dari kejadian hari itu adalah ternyata teman-teman mengira Aulia adalah perempuan. Kami semua kaget. Ternyata bukan aku saja yang mengira. Hehe.
            Aku naik taxi menuju Embassy. Alhamdulillah, aku hanya menunggu hampir 15 menit. Namun, satu hal yang masih membuatku berpikir keras adalah bagaimana agar passport Aulia tiba tepat waktu. Akhirnya, kami memutuskan untuk mengirimnya ke JNE Medan, Aulia akan mengambilnya kesana. Malamnya, sembari menuju tempat I’tikaf aku mampir di JNE Cikini yang kebetulan buka 24 Jam. Aku kirim visa Aulia di sana. Alhamdulillah, semua sudah terkirim. Aku tinggal mengunggu kabar sampainya paket mereka. Aku merasa senang bisa membantu teman-temanku, meski kami baru mengenal dan belum pernah bertatap muka. AKu belajar banyak hal saat membantu mereka, belajar kesabaran, berpikir positif, dan juga pengorbanan. Tak terasa Ramadhan sudah di penghujung. Sampai bertemu di Malaysia, teman-teman!
To be continued…

           
Aku, Kak Adin dan Rizki sembari berkeliling UI. Inilah awal pertemuan kami.
  •  
  •  
  •  
  •  
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts