Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Take a Break

Duduklah takzim, memandang air mengalir, memandang langit biru dengan awan putihnya yang indah.
Aku lupa siapa yang pertama kali mengucapkan kalimat ini atau kubaca di bagian mana dari sebuah buku. Hingga kini, kalimat ini menjadi salah satu penghibur ketika lelah dan gundah menyergap. Aku suka sekali memandang birunya langit, atau sekedar menatap jingganya senja. Ketika berjalan di jembatan Teksas-pun, aku sesekali mencoba berhenti sebentar untuk sekedar menatap tenangnya air yang tersapu angin. Menyisakan gelombang kecil yang meneduhkan. Di situlah, saat ketika waktu seakan berbicara. Mencoba menenangkan apa yang kita risaukan.

Di lain waktu, ketika gerimis mulai turun, aku terkadang sengaja melambatkan langkah kaki, mencoba menengadahkan kepala, menyaksikan bagaimana butiran-butiran air itu turun lantas membasahi muka kita. Bagiku, kala itu dunia seakan berhenti berputar. Hanya aku seorang diri. Disitulah ada semacam fatamorgana yang tak terlihat oleh mata, namun bisa dirasakan keberadaannya.

Setiap orang tentu memiliki pemahaman dan pemaknaan yang berbeda-beda akan hal ini. ‘Take a break’. Istirahat sejenak dari hiruk pikuknya keramaian. Kalian pernah mencobanya?
Mungkin, kita memiliki cara masing-masing melakukannya. Bagiku, di atas semua itu, yang utama dalam setiap ‘break’ yang kulakukan adalah berharap. Ya, menyimpulkan harapan lebih dalam kepada sang pemilik hidup: Berdo’a. Aku meyakini hal ini dalam hati, bahwa di atas semuanya, hanyalah Sang Pemilik Hidup ini tempat bergantung. Saat memandang langit senja yang kemerahan, kusandarkan harapan itu bersamanya. Memandang tanpa kata, namun hati terhubung dalam do’a yang berpilin. Bagiku, tak ada kalimat seindah do’a ketika kita mampu mempercayainya.

Maka, ‘take a break’ menjadi semacam ritual yang tak tertuliskan: spontan dan keharusan. Aku menyadarinya. Karena menurutku, setiap insan memiliki ruang diri yang lebih banyak untuk berbicara dengan dirinya sendiri, dengan Tuhannya dibanding untuk sekedar masuk dalam aktivitas keramaian. Ibadah Sholat salah satunya menjadi ruang diri untuk menyimpulkan beragam harapan kepada Sang Pengatur Segalanya ini, mengevaluasi dan ‘take a break’ sejenak dari keramaian. Dan masing-masing dari kita memiliki ruang, waktu serta cara terbaik untuk rehat sejenak dari semua aktivitas ini.

Selamat Istirahat Sejenak. :)




  •  
  •  
  •  
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts