Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Menjadi Diri Sendiri, Belajar dari Wreck it Ralph


Turns out I don't need a medal to tell me I'm a good guy, cause if that little kid likes me, how bad can I be... (Ralph, dalam Wreck it Ralph)
Maret hampir menginjak pertengahan. Setahun lalu, di waktu yang sama, di bulan Maret aku mungkin sedang terduduk dalam kebimbangan. Tak lain dan tak bukan adalah Kompetisi Mapres yang membuatku beberapa harus berpikir ulang: untuk apa? Kita hidup dalam kompetisi, kawan. Ya, kebanyakan kita hidup untuk mendapatkan medali penghormatan, bahwa kita layak disebut sebagai pemenang, layak disebut sebagai Mahasiswa Berprestasi, layak disebut sebagai apa yang kita inginkan.

Kompetisi Mapres tahun lalu, setidaknya membuatku belajar memahami bahwa kita tak perlu mendapatkan medali untuk bilang kepada orang bahwa kita adalah pemenang, bahwa kita adalah orang hebat. Namun, asalkan diri orang-orang terdekat kita, keluarga kita menyukai kita apa adanya, itu saja sudah cukup. Kalimat-kalimat ini, entahlah beberapa waktu terakhir membuatku tergugu, terdiam untuk merenunginya kembali.

Hal yang sama hampir aku pahami dari sebuah film animasi berjudul “Wreck It Ralph” keluaran Walt Disney, November 2012 lalu. Dalam Wreck It Ralph, dikisahkan Ralph, seorang penghancur dalam permainan Fix it Felix. Pada suatu ketika ia merasa jenuh lantaran sebagai orang jahat, ia selalu terbuang, terasing dan ia memutuskan untuk berhenti menjadi orang jahat. Pada pesta perayaan yang ke-30 permainan Fix it Felix, Ralph sebagai bagian dari permainan tersebut tidak diundang, dan ia dengan nekatnya mendatangi tempat perayaan dan mengacaukan suasana. Disinilah kisah bermula ketika Ralph sebagai orang jahat merasa berhak untuk mendapatkan medali yang biasanya hanya diberikan kepada Felix sebagai orang baik. Ralph mengancam akan mendapatkan medali yang lebih bersinar daripada yang didapatkan Felix. Ia pun keluar dari Arcade dan mencari medali yang diinginkannya.

Ralph kemudian menyamar sebagai tentara dalam permainan Hero’s Duty. Ia berhasil mengacaukan permainan dan menemukan medali yang diinginkan. Sayangnya, ketika keluar, ia terperangkap dalam sebuah pesawat yang membawanya ke permainan Sugar Rush. Medali yang dibawanya diambil oleh Venelope, gadis kecil yang dikatakan sebagai glitch dan dijadikan syarat untuk mengikuti pertandingan Rally. Saat pertandingan hampir dimulai dan Venelope siap, King Candy menemui Ralph sembari membawa medali yang dicarinya. King Candy mengatakan pada Ralph bahwa ia tak menginginkan keikutsertaan Venelope dalam petandingan karena menurutnya ketika Venelope berhasil melintasi garis finish, maka secara otomatis avatar Venelope akan masuk dalam daftar yang bisa dipilih pemain game Sugar Rush. Dengan kondisinya sebagai glitch, dikhawatirkan pemain akan mengira bahwa permainan Sugar Rush bermasalah dan akhirnya ditutup untuk selamanya. Itu berarti semua rakyat Sugar Rush akan menganggur di stasiun utama dan hanya Venelope yang tidak bisa keluar dari permainan tersebut.

Ralph berada di pilihan sulit saat itu. Apalagi, ketika Venelope keluar dan memberikannya sebuah medali permen buatannya bertuliskan “You Are My Hero”. Namun, Ralph ternyata termakan dengan apa yang dibicarakan oleh King Candy padanya. Ia menghancurkan Gokart milik Venelope, dan Venelope menangis sejadinya. Ralph Pulang dengan perasaan bersedih. Ia tak butuh medali emas itu, di tangannya masih tergenggam medali buatan Venelope. Tanp sengaja, ketika ia melemparkan medali emas miliknya mengenai layar Arcade, ia melihat Avatar Venelope sebagai Icon permainan Sugar Rush. Dalam hatinya, “Jika Venelope adalah sebuah kesalahan, mengapa Avatarnya berada di samping kotak Arcade?”

Ternyata, permainan Sugar Rush telah dimasuki oleh Turbo, dimana Venelope mulanya adalah Putri di Permainan Sugar Rush. Namun, Turbo menukar system permainan, dan mengunci ingatan rakya Sugar Rush. Satunya cara untuk mengakhiri itu semua adalah dengan membiarkan Venelope memenangkan pertandingan Rally. Karena saat ia menyentuh garis finish, maka system akan kembali ke semua.

Film ini meskipun dari sisi yang berbeda, setidaknya mencoba mengajarkan kita banyak hal salah satunya adalah kita tak perlu medali kemenangan untuk menunjukkan bahwa kita adalah kita, seperti yang kita inginkan. Bagiku, yang terpenting dari itu semua adalah menjadi diri sendiri. Kita tak perlu menjadi orang lain, menjadi mereka, karena kita juga punya suatu hal yang bisa kita banggakan. Seperti Ralph, ia tak perlu menjadi orang baik seperti Felix yang selalu dipuja dan mendapatkan medali. Ia cukup menjadi dirinya sendiri, karena sejatinya yang mengerti diri kita adalah diri kita sendiri, orang-orang terdekat kita.

Sama seperti halnya kompetisi Mapres ketika tahun lalu, di dua Mapres kategori aku ikut serta. Kini, yang kusadari adalah bahwa aku sebenarnya tak perlu berupaya untuk menunjukkan bahwa aku ini layak diberi medali, layak disebut sebagai Mapres Sosial, layak disebut sebagai Mapres Seni. Yang terpenting adalah bagaimana aku bisa menjadi diriku apa adanya, menunjukkan rasa sosial-ku dengan caraku sendiri, menunjukkan jiwa seni-ku dengan apa yang kuyakini, bukan berdasarkan apa yang orang katakan.

Itulah sebenarnya yang terpenting. Karena ketika itu semua telah kalian lakukan, maka dengan sendirinya orang lain akan melihat siapa kita berdasarkan apa yang kita lakukan, bukan berdasarkan apa yang mereka inginkan. Dan bagi kalian yang berniat menjadi seorang Mahasiswa Berprestasi, baik itu di tingkat jurusan, fakultas, ataupun Universitas, yang terpenting bagi kalian adalah niat. Jika niat kalian hanya untuk lebih terkenal seperti Mapres yang sudah ada, maka itu akan kalian dapatkan. Kalian tak perlu menjadi orang lain untuk memenangkan kompetisi Mapres, cukup jadi diri sendiri dengan apa yang menjadi passion kalian, dengan apa yang kalian punya saat ini. Karena semua orang yang telah berhasil menjadi dirinya sendiri, bagiku adalah seorang Mapres juga, meski tanpa sebuah medali.

Belajar menjadi diri sendiri, belajar memahami bahwa kita di dunia ini memiliki cara terbaik untuk menunjukkan apa yang kita percaya dan yakini untuk mewujudkan misi kita dalam hidup ini. (*)







  •  
  •  
  •  
  •  
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts