Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Catatan Perjalanan Teens Go Green (2008-2013)


“Proses ini, mungkin yang membuat kita lebih dewasa…”
Yayasan Kehati, 16 Februari 2013

Ruang rapat besar ini. sudah lama kita tak berkumpul full team seperti ini. tidak, kali ini pun tidak full team. Hanya kami, beberapa team inti. Evaluasi 5 tahun yang mungkin akan berjalan lambat, mengevaluasi diri sendiri, itulah yang sulit. Tidak. di sini, kami memliki orang-orang hebat. Mungkin itulah yang tak pernah tersadari.

Dulu, ketika semangat itu meninggi, aku belajar banyak hal dari setiap proses pembelajaran ini. kertas-kertas plano yang tertempel di dinding, meta plan yang penuh dengan ide-ide segar kami, kertas hvs yang penuh corat-coret, beraneka warna, spidol yang tak teratur, dan ruangan yang bentuknya sudah tak karuan. Inilah gaya kami merancang mimpi. Gaya belajar yang menurutku cukup menyenangkan. Di luar dari gaya khas kebanyakan orang.

Hari ini, semua proses situ kembali hadir di depanku. Evaluasi 5 tahun. Tanpa terasa, organisasi ini, telah 5 tahun berjalan. Tentunya, menghadirkan beragam cerita dan kebersamaan yang tak akan pernah habis dan bosan untuk di kenang.

Rapat dimulai agak alot, ngaret seperti biasa (mungkin kebiasaan orang Indonesia). Dibuka dengan hal tak biasa: lagu Indonesia Raya. Sabai dan Rimang terlihat asyik menyaksikan tingkah kami. Mereka, dua anak yang lucu dan menggemaskan. Mungkin begitulah tabiat anak kecil seusia mereka, dengan tatapan polos menyaksikan kami tingkah orang dewasa.

Lagu selesai, dilanjutkan dengan paparan evaluasi sekretariat dan Kak Edy yang beberapa bulan terakhir telah mencoba menganalisis organisasi kami. Pesimis, itulah yang kurasakan. Entahlah apa yang salah. Semua mencoba mempertanyakan: mengapa? Aku semakin pesimis, suasana menjadi semakin keruh.

Lalu, sebelum menjauh, sebuah ice breaking kembali membangkitkan semangat. Mungkin lebih tepatnya selingan saja. Kami, diberikan sebuah kartu tarot. Lalu, kami diminta untuk menggambarkan salah satu elemen yang menurut kami paling cocok dengan peran yang kami lakukan selama ini di TGG.

Kebetulan, aku memilih sebuah dewa dengan tangan terkatup jadi satu. Menurutku, inilah peranku selama ini di TGG. Kupikir, keberadaanku selama ini sebagai penasehat, pendamai, pemersatu dan penyemangat. Mungkin agak berlebihan, tetapi itulah yang coba kulakukan di TGG.

Lalu, hingga semua usai, pemaparan SWOT yang mencengangkan, dan hal-hal diluar dugaan lainnya. secara umum, aku belajar dari semua proses ini dalam berorganisasi. Aku belajar banyak hal, belajar memberikan kontribusi sesuai dengan yang kumiliki.

Hari itu, semua berakhir menyisakan pertanyaan untuk esok. Akankah berlanjut?
----

17 Februari 2013

Hari kedua, workshop evaluasi TGG. Aku tiba lebih telat. Melanjutkan pembicaraan kemarin yang belum usai. Menilai sejauh mana keberhasilan TGG selama 5 tahun lalu. Membuat harapan yang ingin dicapai di masa mendatang. lalu, tiba-tiba, sebuah pertanyaan yang membuat kami terdiam agak lama: Akankan berlanjut? Kami berdiskusi agak lama.

Hari itu, organisasi kami di ujung tanduk. Sekali saja kata itu keluar, mungkin semua tinggal kenangan. Jika kami ucapkan tidak, maka rapat hari itu pun usai. Tak ada lagi TGG. Tak ada lagi kebersamaan. Tetapi, kami semua sepakat. Kami akan melanjutkan ini semua. Ya, kami siap melanjutkannya.

Maka, atas kesepakatan 10 orang dari kami, TGG lanjut. Menyelesaikan mimpi yang belum terselesaikan. Visi-misi baru pun siap di bentuk. Milestone 5 tahun mendatang siap di rancang. Master plan 5 tahun siap dirumuskan. Kami semua harus siap dengan kemandirian. Tidak ada lagi kenyamanan dalam cottage mewah saat raker, semua serba sederhana.

Hari itu, bagiku yang membuatku sadar adalah sesi terakhir ketika Kak Ai memberikan sebuah ice breaking. Kami, diberikan sebuah post-it, lalu kami diminta untuk menggambarkan sebuah symbol yang menggambarkan orang di sebelah kanan kami. Di sebelahku kebetulan Kak Rina. Aku bingung akan menggambar apa. Akhirnya kupilih Bola. Mengapa? Kupikir, Kak Rina adalah orang hebat, wanita hebat. Ia seperti bola yang bisa kesana kemari menempatkan dirinya sesuai perannya, sebagai ibu rumah tangga, sebagai fasilitator TGG, sebagai seorang karyawan. Itulah Kak Rina. Aku belajar banyak dari beliau yang senantiasa menginspirasi.

Lalu, terakhir, Kak Ai. Beliau menggambarkan diriku. Aku terdiam, mencoba meresapi apa yang beliau katakan. “Bambang itu seperti bohlam lampu. Kadang bersinar, menyinari sekitarnya, terang. Kadangpula, sinarnya meredup, meskipun tak pernah mati. Satu kebiasaan buruk Bambang, terkadang ia membuat semangat orang lain, tetapi tiba-tiba ia meredupkan semangat itu.”

Aku mencoba merenungi apa yang Kak Ai katakan. Bagiku, itu sebagai masukan, sebagai bahan pembelajaran bagi diriku untuk lebih baik lagi. Tanpa sadar, aku merasa beruntung berada di organisasi ini, mereka secara tak langsung mendidikku untuk senantiasa belajar, memberikan koreksian bila ada yang salah dari apa yang kulakukan.

Hari itu, semua berakhir. Tetapi, menyisakan mimpi yang siap untuk diwujudkan.




Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts