Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Ibu, Maafkan Aku...!

 
"Bu..."

Kalimatku terhenti. Tercekat di tenggorokan. Rasanya sulit sekali dikeluarkan. Entah apa yang mengganjalnya. Kutatap lamat-lamat wajah di depanku. Wajah teduh yang penuh kasih. Aku tak bisa menatapnya terlalu lama. Selalu saja meneteskan air mata.

Padahal, baru beberapa menit lalu aku tiba di rumah. Memang, sejak dua hari kemarin aku menginap di Depok karena ada urusan kampus. Aku terdiam sejenak. Menunduk. Memperhatikan diam-diam wanita paruh baya di depanku. Ya, beliau ibuku tercinta.

Urusan ini terasa lama sekali. Waktu seakan terhenti. Menyaksikan gejolak dalam dada, namun tertahan di lidah. Ini kali ketiga aku ingin mengatakannya pada ibu. Mengatakan untuk meminta maaf padanya selama ini. Ramadhan tinggal menghitung hari. Bagaimana mungkin aku belum meminta maaf padanya? Meminta maaf pada kedua orangtuaku. Terlebih ibu.

Padahal, sudah berhari lalu aku melantunkan maaf pada teman-temanku, sahabat, saudara-saudaraku. Aku ingat betul penggalan khatib pada khutbah Jum'at di loby teknik siang tadi.

"... Beribu pesan singkat dituliskan untuk meminta maaf pada sahabat, teman, sanak famili yang tak bisa berjumpa secara langsung. Namun, apakah kita ingat untuk meminta maaf terlebih dahulu pada orang yang sangat mencintai kita, kedua orang tua kita, ibu kita yang telah melahirkan kita?..."

Aku tersenyum tak mengerti saat itu. Bagaimana bisa aku lupa? Mata terasa hampir basah. "Ibu, maafkan aku". Rintihku dalam hati. Aku ingin bertemu ibu. Meminta maaf padanya. Secepatnya. Jika perlu detik ini juga. Sayang, ibu tak memiliki handphone. Beliau tak bisa menggunakannya. Aku harus menunggu hingga tiba di rumah nanti.

©©©
 
Ah, aku ingat betul ramadhan-ramadhan lalu. Ya, aku selalu antusias menyambut ramadhan. Semangat membaja. Mempersiapkan bekal sesiapnya.Nyatanya, belum di akhir semangat itu hampir hilang. Grafik ibadah mencapai anti klimaks. Awal-awal saja menanjak, lalu saat menemui titik balik, menurun tajam. Apakah ini lantaran aku lupa meminta maaf pada ibu di awal ramadhan? Seperti ada keridhaan yang kurang. Ridha dari ibu.

Ramadhan memang selalu menyajikan ekstase di hati untuk berbenah diri. Bukan cuma ekstase bagiku, melainkan paksaan untuk berbenah diri. Siapa sangka, jika seorang perokok yang di luar ramadhan tak bisa menahan dirinya untuk tidak merokok. Saat ramadhan tiba, ia mampu menahan dirinya selama 12 jam tidak merokok. Ramadhan mampu memaksanya. Dan, ini juga yang akan memaksaku kini untuk berbenah. Meminta maaf pada ibu lebih awal, tidak lagi menunggu Iedul fitri.

Perkara meminta maaf pada ibu ternyata tak mudah. Aku harus mempersiapkan kata-kata lebih siap lagi. Selalu saja, tercekat ditenggorokan. Tadi, ketika kutiba di rumah, sembari mencium tangan ibu, aku sebenarnya ingin langsung mengatakannya. Hasilnya? Tak bisa.

Aku malah menanyakan bapak di mana. Padahal, jelas kutahu bapak sedang ke Jawa. Ziarah ke makam kakek-nenek. Beberapa hari lalu bapak yang memberitahuku, bahwa ia akan ke Jawa. Berangkat ba’da Jum’at tadi.

Mengetahui ternyata aku belum juga bisa meminta maaf pada ibu, aku bergegas melepas sepatu, segera merapikannya. Meletakkan tas di kamar, dan mengganti baju. Tergesa-gesa. Segera menemani ibu di ruang tengah.

Ba’da maghrib itu rumah terasa sangat sepi. Adikku entah ke mana. Padahal, biasanya ia sedang duduk di ruang tengah bersama ibu. Hanya ibu sendiri. Duduk di kursi panjang ruang tengah. Lantunan suara anak-anak mengaji terdengar dari celah-celah. Nyaring, terdengar jelas lantaran depan rumahku adalah mushala. Yang kutahu, hari ini adalah penutupan pengajian. Aku baru saja tiba, mungkin tak sempat menghadirinya.

Kali kedua, aku mencoba meminta maaf pada ibu. Mengatakan dengan setulus hati. Kudekati ibu. Duduk di sebelahnya. Seperti saat aku sering bercerita dengannya.

“Bu....”

Lagi kukatakan. Terdiam agak lama. Mencoba merancang kata.

“ Kamu lapar, Tris? Mau ibu belikan ketoprak? ” Ibu balik menanyakanku. Aku menggeleng. Yang kutahu, inilah salah satu bentuk cinta ibu. Perhatian yang besar.

“ Aku makan yang ada saja. Bu. Tak usah beli ketoprak segala.”

Lagi, aku belum bisa mengatakannya. Aku hanya melihat cintanya. Kali ini dalam bentuk perhatian. Sama seperti sebelum-sebelumnya.

©©©

Dan ini kali ketiga. Aku terdiam agak lama. Menunggu respon ibu. Beliau menoleh kepadaku. Aku agak ragu. Malu-malu. Ah, beliau ibuku sendiri. Masa aku malu? Tak mungkinlah beliau akan menertawakanku. Pikirku dalam hati.

Aku masih agak ragu.

“Bu, ramadhan nanti....”
 
 Kalimatku terputus. Ibu menatapku.

“Bu, ramadhan nanti, aku tidak lagi ingin ada salahku yang mengurangi keberkahan pahala di bulan ramadhan...” agak acak kuungkapkan kalimat pembuka itu.

“ Maksudmu, Tris?”

“Bu, ma..maafin semua kesalahan dan dosa Trisna selama ini pada ibu ya?” Kalimat itu aku ucapkan juga. Mataku basah. Ingin kupeluknya. Aku tak bisa melihat bagaimana raut mukanya saat itu. Aku mencium tangannya. Sungkem padanya.

“ Iya, ibu maafkan. Ibu juga meminta maaf atas semua kesalahan ibu..”

Sayup-sayup terdengar. Aku mengangguk dalam pangkuannya. Ba’da maghrib itu, aku menyaksikan lagi cintanya. Ibu selalu meridhai anaknya.

©©©

Angin mendesau rindu. Lembut menyapa. Membelai rambutku. Anak-anak riang berlarian kesana kemari. Menari-nari di hamparan serambi masjid. Melompat-lompat penuh gembira. Bagiku inilah waktu paling kusukai. Bercengkerama dengan senja. Dari atas serambi masjid ini, aku bisa melihat hamparan atap-atap rumah penduduk. Awan putih, dengan langit membiru menghias angkasa. Sempurna.

Senja itu, memang sengaja aku ke Masjid Raya Jakarta Islamic Center. Tujuan utamaku adalah mengembalikan buku pinjaman yang sudah telat. Memang, inilah tempat favoritku. Maka, tak ada salahnya aku menghabiskan sore di sini.

Inilah saat terakhir aku ingin meluruskan niat pada ramadhan kali ini. Senja itu jadi saksi. Saksi muhasabah-ku. Saksi kuat tekadku. Maaf ibu beberapa hari lalu melegakan hatiku. Tak ada lagi sesak.

Rabbi, aku niatkan semua ibadahku di Ramadhan ini karena Engkau...”

Ramadhan akan menjelang. “Alhamdulillah, insyaAllah aku siap....”


Jakarta, Ramadhan 1431 H

Bambang Sutrisno

*Cerpen ini menang juara 2 Lomba Cerpen Pelita Ramadhan Kampus 2010

  •  
  •  
  •  
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

1 comment:

  1. Subhanalloh, semoga kita bisa memanfaatkan ramadhan ini dengan semaksimal mungkin, yg sebelumnya kita juga menyiapkan diri dengan saling meminta maaf kepd keluarga, terutama ibu.

    tetap semangat.

    ReplyDelete

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts