Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Relawan : Menginspirasi Untuk Indonesia!


Pak Anies Baswedan ketika mendirikan ‘Indonesia Mengajar’ pertama kali dan menjadikannya sebagai organisasi profesi, hanya 200 orang yang mendaftar. Namun, ketika mengubahnya menjadi pengabdian, ribuan orang mendaftar. Pengabdian, itulah kuncinya. Mengabdi untuk mencerdaskan bangsa. Mereka para pendidik ‘Indonesia Mengajar’ dikirim ke daerah terpencil Indonesia, agar kelak di tengah keterbatasan itulah mereka bisa tumbuh dan belajar lebih banyak dari keterbatasan. Dari situlah akan timbul ‘sense of crisis’, begitulah kata Pak Lendo, seorang pendiri Sekolah Alam.

Pengabdian erat kaitannya dengan seorang relawan. Setiap manusia pada dasarnya adalah relawan. Namun, penghayatan dari setiap insanlah yang membedakannya. Itu pula yang akan membedakannya sebagai sosial worker, sosial-preneur, ataupun sekedar aktif di kegiatan sosial.

Menurut Pak Erie Sudewo dalam Seminar Socio-preneur, menjadi relawan itu sebuah pilihan, termasuk ketika kita memilih untuk hidup. Beliau menjelaskan, seorang socio-preneur adalah mereka yang mampu memecahkan masalah sosial dengan prinsip-prinsip bisnis.
---- 

Relawan : Menginspirasi untuk Indonesia!

Indonesia, negeri yang kaya. Namun, rakyatnya miskin. Indonesia kini berbeda dengan dahulu. Dahulu, Indonesia dipimpin oleh para pemikir. Mereka rela masuk penjara, diasingkan karena membela Negara. Kini, Indonesia hanya dipimpin oleh mereka para manajer administrasi. Bahkan, banyak yang tidak dipenjara padahal telah nyata bersalah. Mengubah semua paradigm seolah merekalah si pembela rakyat. Itulah pemimpin kita kini.
 
Sewaktu Presiden Obama berkunjung ke Indonesia 2011 lalu, beliau berpidato dengan latar dinding putih polos. Di lain waktu, ketika beliau berkunjung ke India, beliau berpidato. Namun, di belakangnya berlatar photo pahlawan besar India. Itulah yang membedakan bangsa kita. Pola Pikir ‘Sampah’ tengah menggerogoti bangsa ini. Perlahan tapi pasti membawanya menuju kehancuran. Setiap tahun hutang bangsa kita terus bertambah.

Tahukah kawan, 2010 lalu besar APBN Negara kita? Sekitar 1200 Trilyun Rupiah. Di pihak lain, tahukah berapa Laba Freeport di tahun 2010? Sekitar 8000-an Trilyun Rupiah. Miris menyaksikannya. Mereka, para pemimpin bangsa ini yang telah menjual negeri kita. Lebih cinta bangsa asing dibanding bangsa sendiri.

Dari sense of crisis itulah banyak orang mulai membentuk kepekaan untuk memajukan bangsa ini. Pak Erie Sudewo salah satunya. Di tahun 90-an, beliau mendirikan Dompet Dhuafa yang kini menjadi salah satu organisasi umat yang besar. Bermanfaat untuk masyarakat. Sekolah yang didirikan Dompet Dhuafa, ‘Smart Exelencia’ menjadi sekolah terbaik di Indonesia. Itu membuktikan bahwa pendidikan bukan hanya untuk orang-orang kurang mampu, tetapi untuk semua.

Terlepas dari kondisi bangsa, seharusnya kita sebagai generasi muda memiliki jiwa patriotism yang tinggi bagi bangsa. Kesalahan dari negeri ini adalah pemikiran. Pola pikir yang kini kacau. Maka itu, berbuatlah dengan hati. Karena ia akan menuntut kita pada jalan yang lurus.

Indonesia, adalah contoh terbaik untuk tidak dicontoh. Semoga generasi mendatang bangsa ini mampu membawa bangsa ini menuju kamakmuran. Amin.

Depok, 7 Mei 2012
Bambang Sutrisno


Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts