Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Self-Interest dan Pencapaian



“ Jadilah Bintang yang bersinar di kegelapan… Orang tak perlu tahu bagaimana cara kau menjadi bintang yang bersinar…”

            Aku ingat, ketika 2 tahun lalu menyaksikan acara yang sama, Malam Apresiasi Prestasi Mahasiswa FTUI. Waktu itu, ketika masih di tingkat awal menjadi mahasiswa, terbersit keinginan untuk menjadi seperti orang-orang yang di depan. Menginspirasi dan memiliki banyak prestasi.
            Setahun kemudian, tepatnya ketika tingkat 2 beberapa bulan lagi terlewati. Tersemat keraguan dalam dada. Waktu itu aku menyaksikan Malam Apresiasi di tk. UI dengan harapan bisa mendapatkan asupan semangat dan inspirasi sebelum UTS seninnya. Dalam dada saat itu bergemuruh, hingga aku akhirnya menyadari malam itu juga. “Tiap-tiap manusia memiliki misi atau jalan hidupnya masing-masing. Berkaryalah di bidang yang kamu suka. Menjadi seorang Mapres itu pilihan.”
            Itu kalimat yang kukatakan pada temanku ketika ia memintaku tahun depan untuk ikut, minimal menjadi mapres sosial di fakultas.

CCCCC

            Malam itu, 19 Maret 2012. Aku ingat apa yang kuputuskan. Besok, 20 Maret 2012 adalah deadline pengumpulan Formulir dan berkas kelengkapan Mapres. Selepas mengajar tadi, aku kembali ke rumah di priuk, tidak ke Depok. Dalam pikiranku berkecamuk dua pilihan. Ya atau tidak. Meng-apply Mapres atau tidak. Setelah hampir satu jam tak jelas, akhirnya kuputuskan untuk tidak meng-apply Mapres kategori utama. Alasannya sederhana, karya tulisku masih tak jelas. Lagipula, aku harus belajar untuk persiapan presentasi esok. Kuputuskan malam itu juga untuk apply Mapres Kategori Seni dan Sosial, meskipun dengan modal nekat. Beberapa hari kemudian, dua buah sms tiba di hp-ku. Isinya menyatakan selamat bahwa aku terpilih sebagai nominasi Mapres Seni dan Sosial.
            Waktu begitu cepat berlalu. Malam Puncak MAP 2012 pun tiba. Aku tak terlalu berharap banyak. Bagiku, semua adalah pemenang. Malam itu, aku mendapatkan Juara 3 Mapres kategori Sosial dan Seni. Alhamdulillah…
            Malam itu juga, kejadian 2 tahun lalu terulang. Seorang mahasiswa dari Elektro kembali meraih penghargaan Mahasiswa Berprestasi Utama FTUI 2012. Dialah Alfan Presekal. Jalan hidup tiap orang memang berbeda-beda, kawan. Tergantung apakah kita ingin hidup kita terarah atau tidak. Alfan menunjukkan percepatan upgrading dirinya selama tiga tahun menjadi mahasiswa.
CCCCC

Self-Interest dan Pemaknaan Prestasi

            Sebuah karya bisa menginspirasi seseorang. Menginspirasi untuk menciptakan karya. Lalu menginspirasi lainnya. itulah yang kupahami. Berkarya, lalu menginspirasi. Bagiku, sebuah penghargaan adalah bonus dari buah karya dan prestasi yang kita torehkan. Sangat dangkal niat kita jika kita menciptakan karya hanya karena ingin mendapat pujian. Padahal jelas, Manusia terbaik adalah mereka yang bermanfaat.
            Seorang teman menyangsikan diriku, apa seni yang kulakukan? Sengaja aku diamkan. Dalam hati aku tersenyum. Seni itu luas, Kawan! Bagiku, seni lebih kepada keindahan dan ekspresi jiwa, bukan terbatas pada music atau lantunan suara yang indah. Itulah jua yang kukatakan pada seorang panitia MAP yang memintaku untuk tampil. Perspektif kita saat ini memang lebih lekat bahwa seni adalah penampilan. Padahal banyak pelukis, satrawan, sineas, yang juga seniman. Namun, mereka berbicara dengan karya, bukan dengan penampilan yang mereka tampilkan.
            Aku berpikir, bahwa setiap orang memiliki jiwa seni yang berbeda. Maka, seniku adalah bagaimana membuatnya bermanfaat bagi orang lain. Turut mengajak mereka. Menyuarakan kebaikan, dan menginspirasi. Itulah yang kuniatkan.
            Dengan dasar niat untuk bermanfaat dan mengaktualisasikan diri, aku minatku jatuh pada environmental issue. Bersama organisasiku tercinta, Teens Go Green, aku berusaha untuk memberikan kemanfaatan, terutama pengembangan minat bagi generasi muda. Maka di sini, aku kembali meyakini, bahwa tataran sosial itu luas. Tidak terbatas pada pemberian bantuan saja kepada yang membutuhkan. Maka, sangatlah dangkal jika kita terlibat dalam aktivitas sosial hanya untuk merebutkan gelar Mapres Sosial. Kaidahnya sederhana, “Lakukan kebaikan dan lupakan!”
            Itu pula mungkin yang membuat jarang mahasiswa yang apply Mapres Sosial. Karena telah meniatkan seutuhnya untuk kebaikan. Hmm, ini pula yang menjadi refleksi diriku setelah mengumpulkan formulir Mapres. Apakah kompetisi ini hanya sekedar memperbanyak CV, melupakan niat untuk senantiasa belajar? Kalian tentu punya jawaban masing-masing.
            Tetaplah menginpirasi dan bermanfaat untuk sekitar!

Depok, 31 April 2012
Bambang Sutrisno


  •  
  •  
  •  
  •  
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

2 comments:

  1. selamat ya.. menjadi inspirasi meupakan keinginan semua orang, tapi menjadi inspirasi dalam hal positif adalah hal yang luar biasa menurut saya..sekali lagi selamat..

    ReplyDelete
  2. terima kasih mas pandi...
    Salam kenal.. :D

    ReplyDelete

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts