Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Belajar Menuntaskan Apa yang Telah Dimulai


Mungkin setiap orang pernah mengalami hal ini, ketika sedang mengerjakan suatu pekerjaan dan sudah setengah jalan. Lalu, memutuskan untuk berhenti. Ya, belakangan saya sering sekali mengalaminya. Menyibukkan diri untuk mempersiapkan, memulai. Lalu, memutuskan untuk mengakhirinya sebelum sempat menyelesaikannya.

Biasanya hal ini sering saya alami ketika hendak mengikuti suatu kompetisi, apply beasiswa, ataupun mengikuti suatu kegiatan yang memerlukan syarat administrasi yang agak ribet. Apa yang sebenarnya dirasakan waktu itu? Saya merasa ada kekhawatiran yang begitu besar dalam diri saya sehingga memutuskan untuk berhenti di tengah jalan. Mengakhiri apa yang telah di mulai.

Belakangan saya mulai menyadari, bahwa memang untuk mendapatkan sesuatu tidaklah selalu mudah. Selalu ada pengorbanan dan usaha keras yang harus dilakukan. Usaha keras itulah yang nantinya akan membuahkan rasa syukur kita ketika mendapatkannya. Bayangkan saja, jika kalian mempunyai sebuah handphone dari hasil dibelikan oleh orang tua dibandingkan dengan hasil pembelian dengan uang hasil kerja keras kita sendiri. Tentunya kita akan lebih menghargai hasil dari kerja keras kita sendiri karena kita telah berusaha untuk mendapatkannya. Dengan keringat dan tenaga yang telah kita korbankan.

Agaknya benar kata Thomas Paine, “Apa yang kita peroleh dengan terlalu mudah pasti kurang kita hargai. Hanya kemahalanlah yang memberi nilai kepada segalanya. Tuhan tahu bagaimana memasang harga yang tepat pada barang-barangnya.” Kalimat Thomas Paine tersebut membuat saya menyadari memang setiap usaha berbanding lurus dengan hasilnya. Apa yang kita dapatkan akan sesuai dengan kadar usaha yang telah kita korbankan.

Menuntaskan apa yang telah kita mulai. Tentunya, tidak mudah untuk menuntaskannya. Kadang di tengah jalan itulah niat kita berbalik lantaran jalannya cukup terjal. Disinilah sebenarnya tergambar seberapa besar tekad yang kita miliki. Saya menyadari, beberapa kali memang saya memiliki tekad yang lemah. Terkalahkan oleh kekhawatiran dan rasa takut yang begitu besar.
 
Kata Steven Covey, “Setiap kali kita berpikir masalahnya ada ‘di luar sana’, pikiran itu sendiri adalah masalahnya.”

Dari sinilah saya juga belajar, bahwa sebenarnya masalah terbesar adalah diri kita sendiri. Apa yang kita khawatirkan itu berasal dari dalam diri kita. Beberapa kali saya rasakan ketika hendak mengikuti suatu perlombaan. Bayangan yang ada dalam diri adalah ketakutan akan tidak layaknya karya yang kita hasilkan.
 
Namun, beberapa kali ketika rasa takut itu telah berhasil diatasi, tanpa diduga membuahkan kemenangan sebagai bonus mengalahkan rasa takut tersebut. Maka, di sini sebenarnya adalah belajar bagaimana menguatkan mental kita. Semakin banyak kita terlatih untuk menguatkan mental, lama-kelamaan mental itu terbentuk dengan kuat sehingga tak ada lagi rasa takut.

(Belajar) menuntaskan apa yang telah dimulai menjadi rangkaian pembelajaran diri untuk belajar membulatkan tekad, mengalahkan rasa takut dalam diri, menghargai kerja keras, dan tentunya sebagai langkah untuk memperbaiki diri. Proses belajar yang tak akan berhenti dan terbatas dalam ruang dan waktu.

“Faidza Azzamta Fatawakkal Alallah, Setelah kamu membulatkan tekad, Maka bertawakkal-lah pada Allah”


Depok, April 2012
Bambang Sutrisno
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts