Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Pelangi Kecil



Ba Fathah Ba, Ba Kasroh Bi, Ba Dhammah Bu. Ba-bi-bu.”
Dari balik langit senja aku bisa tersenyum. Setidaknya, aku tak perlu khawatir kini. Alif telah mampu menggantikan posisiku untuk mendidik anak-anak yang lebih kecil, meski sekali dua ia tetap butuh bantuanku.
Aku selalu tersenyum mendengar suara-suara nyaring mereka. Persis sama sepertiku kecil dahulu. Agaknya ruangan penuh sesak beratapkan jalan layang di salah satu sudut ibukota ini tak mengurangi keriangan mereka. Tak juga semangat mereka untuk menuntut ilmu, meski terkadang tuntutan ekonomi membuat diri mereka tertekan.
Alif, anak didik pertamaku yang kini duduk di bangku kelas 3 SMP di salah satu SMP negeri di Jakarta. Waktu itu aku tak sengaja bertemu dengannya saat ia sedang menjajakan koran di lampu merah. Aku tertarik dengan kejujurannya yang tidak mau mengambil uang kembalian yang aku berikan. “Itu bukan hakku, Kak. Aku tidak mau menerima uang kecuali dengan kerja keras diriku.” Begitu katanya.
Tak lama setelah itu, aku pun sering bertemu dengannya, hingga akhirnya timbul keinginanku untuk mendirikan sekolah alternatif di sini, di kolong jalan layang yang sempit ini. Berusaha memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengenal dunia luar. Dunia ilmu pengetahuan. Bagiku, menuntut ilmu adalah hak semua orang, termasuk anak-anak di sini. Alif adalah salah satu yang beruntung di antara mereka yang hingga kini masih bersekolah. Beberapa teman sebayanya kebanyakan telah putus sekolah dan lebih memilih untuk bekerja membantu perekonomian keluarga.
Sekolah alternatif ini menjadi pilihan bagi mereka yang kini putus sekolah, meski tanpa ijazah. Aku selalu menekankan kepada mereka, “Menuntut ilmu itu wajib sepanjang hayat. Maka, meskipun kalian tidak bersekolah lagi di sekolah resmi, jangan pernah biarkan hari-hari kalian terlewati tanpa menuntut ilmu. Barang siapa melakukan perjalanan menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Syurga.”
Sebulan terakhir ini, aku hanya bisa memantau mereka beberapa kali. Itupun di akhir pekan seperti saat ini. Aku masih harus menyesuaikan keadaan pekerjaan baruku yang sering ke luar kota akhir-akhir ini. Aku sudah menyerahkan semuanya kepada Alif, dan ia menyanggupinya. Bahkan ia meminta izin kepadaku untuk menggunakan sekolah alternatif sebagai basecamp belajar bersama teman-temannya selama ujian berlangsung. Akupun langsung mengangguk menyetujuinya.
Shodaqallahul Adzim…”
Terdengar kalimat penutup dari Alif. Beberapa anak berlarian menuju pintu keluar. Berebut mencari sandal mereka. Aku melambaikan tangan ke arah mereka. “Sampai jumpa pelangi kecil.” Itulah julukan yang kutujukan untuk mereka, anak-anak Sekolah Alternatif Pelangi.

*****
“Assalamu’alaykum Pelangi. Hari ini, siapa yang mau menggambar?” Sapaku membuka pertemuan sore itu. Semua anak mengacungkan jari mereka dengan antusias.
“Nah, ini Kakak punya pensil warna dan crayon untuk mewarnai, kalian boleh berkreasi apa saja. Nanti karya kalian bisa di tempel di dinding sini.”
Dalam hitungan menit, semua telah sibuk membuat kreasi gambar masing-masing. Ruangan Sekolah Alternatif kini tak beraturan lagi. Persis seperti kapal pecah. Hari ini, aku sengaja memberikan kebebasan bagi mereka untuk berkreasi.
“Lif, sini!” Aku memanggil Alif yang juga sedang asyik berkreasi. Ia segera menghampiriku.
Lif, bagaimana ujian kamu? Sudah selesai bukan?”
Ia mengangguk.
Nah, rencananya kamu mau melanjutkan ke mana?”
Alif hanya menggeleng. Wajahnya tampak pasrah.
Aku belum bicarakan hal ini pada ibu Kak. Aku takut ibu tidak mengizinkan jika aku ingin melanjutkan sekolah ke SMA.” Wajahnya muram. Aku tak berani mendahului perkataannya.
Baiklah, kamu sebaiknya bilang dahulu sama ibumu. Masalah biaya itu nanti bisa dicari belakangan. Yang penting, kamu bisa melanjutkan sekolahmu untuk masa depan nanti.”
Ia mengangguk, mengucapkan terima kasih padaku, lantas kembali melanjutkan kreasinya yang sudah setengah jadi. Anak-anak lainnya kini sedang asyik mewarnai dengan beragam warna. Menuangkan kegembiraan mereka dalam aneka warna. Ada juga yang asyik mewarnai gambarnya seperti pelangi.
Sebenarnya aku telah menyiapkan rencana sendiri untuk sekolah Alif. Namun urung kuungkapkan. Aku berniat untuk mengangkat Alif sebagai adik asuhku. Terlebih dahulu, aku ingin mendengar sendiri keinginannya untuk bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Aku ingin Alif memilih sendiri sekolah sesuai minat dan bakatnya.
Terlintas bayangan masa kecil, ketika aku suatu kali melalaikan mengaji lantaran mencari belalang di ladang untuk dijual ke pasar, guru ngajiku mengingatkan, “Dengan ilmu pengetahuan, islam bisa menerangi zaman keemasan waktu itu, ketika bangsa Eropa masih gelap gulita. Bahkan, hingga kini, banyak ilmu pengetahuan yang awalnya ditemukan oleh ilmuwan islam dan mereka terkenal di Eropa sana. Tidakkah kalian ingin menjadi seperti Ibnu Sina atau Al-Khawarizmi kelak? Ataukah kalian lebih suka menghadapi masa depan nanti dalam keadaan gelap? Bahkan Rasulullah saja bersabda, bahwasanya Allah akan memudahkan jalan para pencari ilmu.”
Sejak itu, aku tak berani lagi membolos sekolah, juga mengaji. Aku selalu rajin datang lebih awal. Aku bermimpi, suatu saat nanti, aku bisa menjadi cahaya dengan ilmu yang kupunya, seperti Ibnu Sina waktu itu. Bercahaya di zamannya. Membangun dan mencerdaskan negeri tercinta ini. Agaknya, hingga kini, aku baru bisa berperan sebatas mendidik melalui sekolah alternatif ini.

*****
Aku suka sekali melihat pelangi. Melihatnya sungguh indah. Meski berasal dari rupa warna yang berbeda, mereka bisa bersatu menampilkan keindahan. Itulah yang kulihat dari sekolah alternatif ini. Aku tahu, mereka memiliki permasalahan yang berbeda-beda, kondisi yang juga berbeda, namun aku ingin memberikan keyakinan kepada mereka bahwa mereka bisa menatap masa depan yang sama, masa depan yang indah. Seperti indahnya pelangi.
“Dengan ilmu pengetahuan, kalian akan tetap terkenang, meski kalian telah tiada. Dalam dunia matematika, siapa tidak kenal Al-Gebra? Semua orang kenal. Karena merupakan dasar dalam perhitungan.” Semua terdiam penuh rasa penasaran.
Maka, jangan pernah kalian berhenti belajar. Jadilah seperti Pak Habibi. Kalian bisa memajukan Indonesia dengan ilmu pengetahuan yang kalian punya. Siapa yang ingin jadi seperti Pak Habibi yang bisa membuat pesawat sendiri?” Aku mengakhiri ucapanku. Semua anak antusias mengacungkan jari.
Berselang berapa hari kemudian, Andi dan Agus menghampiriku. Mereka mengatakan akan melanjutkan sekolah lagi. “Aku ingin seperti Pak Habibi, Kak.” Kata Andi. Aku tersenyum penuh haru sembari menepuk bahunya.
Kalau kalian kesulitan biaya, jangan sungkan untuk bilang ke Kakak ya.”
Alif tersenyum mendengar temannya tidak jadi putus sekolah. Ia mendekat ke arahku. “Kak, Alhamdulillah, Alif boleh melanjutkan sekolah sama ibu.”
Aku tersenyum mengucap hamdalah. Lantas mengabari rencanaku untuk mengangkatnya menjadi adik asuh beserta tiga orang teman Alif lainnya.
Ia melonjak kegirangan. Berkali-kali mengucapkan terima kasih padaku. Sebenarnya, ini mimpiku sejak lama.
*****

Kak, aku ingin menjadi seperti Kakak nanti kalau aku sudah besar.” Tutur Alif di suatu senja usai pulang sekolah. “Aku ingin membangun banyak sekolah di negeri ini untuk mereka yang tidak mampu sehingga mereka bisa tetap belajar. Dari situ, semoga tercipta orang-orang hebat seperti Ibnu Rusydi, Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dll yang namanya akan abadi dalam peradaban ilmu pengetahuan.”
Alif tidak ingin menjadi seperti ilmuan-ilmuan islam tersebut?”Tanyaku.
Alif juga ingin seperti mereka, Kak. Alif ingin seperti Ibnu Sina nantinya yang ahli di bidang kedokteran. Maka itu, Alif akan belajar yang rajin mulai saat ini. Do’akan ya Kak.“
Aku mengangguk.
Menuntut ilmu memang wajib. Sayangnya, urusan tersebut belum menjadi prioritas di negeri ini. Tak ada alasan untuk tak memenuhi kebutuhan tersebut selagi ada kesempatan.
Semoga Pelangi-pelangiku tumbuh menjadi generasi-generasi terbaik ke depannya yang siap menorehkan sejarah dalam peradaban ilmu pengetahuan bagi dunia islam.
Adzan Maghrib berkumandang merdu, aku bergegas.
Pendidikan lingkungan bersama anak pesisir
Depo, Desember'11
Bambang Sutrisno
Catatan :
Terinspirasi oleh mereka yang senantiasa mengabdi di Sekolah Ruang BEM dan TIS.
  •  
  •  
  •  
  •  
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts