Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Transformasi Diri (Tribute to Teens Go Green)

"In three words I can sum up everything I've learned about life: it goes on." 
— Robert Frost

November, 2007 lalu, seseorang menyuruhku untuk mengikuti sebuah program,”Hijau Jakartaku, Biru Langitku”. Awalnya, kupikir ini hanya program biasa untuk anak SMA. Jadi, ya aku turut serta saja meramaikan. Tepat 1 desember 2007, program ini di resmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, di Dufan, Ancol. Aku baru tahu, ternyata ini adalah inisiasi sebuah program bernama Teens Go Green.
****

Pagi itu, 28 Januari 2008, dengan niat awal belajar di sekolah, ternyata ada sebuah undangan untuk mengikuti Workshop Visioning Teens Go Green. Aku, Ratih dan La Nashia diijinkan untuk mengikuti acara tersebut. Tempatnya di GSA, Ancol.

Hari itu, adalah hari pertama kegiatan Teens Go Green, dan ada kesan mendalam untuk turut serta di sana. Banyak hal yang kudapat,  teman baru, ilmu baru, pengalaman baru, juga semangat baru. Kami pulang dengan membawa sebuah visioning board hasil karya kami sendiri.

Selanjutnya, beberapa kegiatan awal Teens Go Green lainnya di sepanjang 2008 aku ikuti. Mulai dari Peer Learning Ekosistem hutan, kota, pesisir, juga lainnya. Hingga puncaknya di Ajang Kreasi 2008. Sejauh ini, sekolah selalu longgar dalam member izin, terlebih kami bertiga, aku, Ratih dan Nyanya sudah dikenal oleh pihak sekolah. Bahkan, kadang kami diantar oleh sekolah, atau oleh orang tua Nyanya ke Acara Teens Go Green. Meskipun aku, Ratih dan Nyanya sudah kelas tiga, tapi kami tetap aktif untuk mengikuti kegiatan TGG. Sekolah sama sekali tak melarang. Bahkan, suatu ketika sedang libur, aku sampai di telepon oleh guruku karena ada surat undangan dari TGG.
****

Awal 2009, dimulai dengan sebuah Educamp di kawasan GSA. Kegiatan ini, diadakan dua kali, untuk angkatan 2008 dan 2009. Aku mengikuti Educamp angkatan 2008. Educamp bagiku adalah sebuah konsep berkemah dengan mengutamakan nilai edukasi. Inilah bagiku yang menarik dari TGG.

Sekarang, rata-rata tiap sekolah sudah memiliki enam orang perwakilannya di TGG.  Berarti bertambah banyak ya. Ah, tidak juga, bagiku sama saja. Beberapa dari mereka yang aku kenal baik yaitu Ratna Juwita dan Adi Nugroho dari SMAN 20. Ternyata, perkenalan dengan Ratna atau Nana berlangsung hingga kini, sama-sama menjadi pengurus di TGG.

Saat educamp itu juga, dibentuk tiga kelompok ekosistem. Hulu, tengah dan hilir. Aku menempati kelompok hulu. Dari sinilah, aksi kami dimulai. Kami dalam satu kelompok bebas untuk membuat rancana aksi. Sepanjang itu bermanfaat dan dapat kami lakukan. Yang aku tahu, kelompok hulu adalah kelompok teraktif dan tersolid dalam merencanakan aksi-aksi. Ada pembuatan daur ualng di SMAN 13, Operasi semut di berbagai tempat, hingga pembuatan kreasi-kreasi unik ciptaan kami sendiri.

Pertengahan 2009, aku merasa masih belum mengenal semua anak TGG. Bahkan, masih ada rasa canggung untuk sekedar menyapa. Namun, ada keterikatan kuat di sini. Teman-teman baru yang sevisi dalam lingkungan. Juli 2009, ada Educamp di Halimun. Bagi yang mendapat stempel terbanyak berkesempatan untuk ikut. Aku dan Putra waktu itu mendapatkan stempel terbanyak, sayangnya kami tak bisa ikut. Tahun 2009 pun diakhiri dengan Ajang Kreasi.

Saat ini, aku sudah memasuki dunia kuliah. Nyanya sudah ke bandung, namun sesekali tetap mengontak kami. Ratih, karena jadwal kuliah yang padat jadi tak bisa aktif. Kini tinggal aku sendiri dari sekolah. Ternyata tidak, ada tiga adik kelasku yang juga masih aktif. Bagiku, ini adalah pilihan, ketika aku memutuskan untuk tetap aktif di TGG.

Aku memegang daftar semua nama anggota TGG di tiga kelompok. Semua nya berjumlah sekitar 150 orang. Awalnya ada 80 sekolah yang mengikuti program ini, seharusnya semuanya berjumlah 240 orang. Nyatanya, ketika aku menghubungi hampir semua yang ada di kontak, banyak yang tidak merespon. Aku seperti kehilangan banyak orang saat akan mengikuti suatu acara. Hanya orang yang itu-itu saja yang hadir.
****

Itulah awal 2010. Ketika kupikir, jumlah kami semakin menyusut. Semua karena seleksi alam. Sekali lagi, hidup itu pilihan, kawan! Ya, mungkin ini salah satu pilihanku untuk mengisi kegiatan. Di 2010, kami semakin erat. Ini seperti menjadi bagian dari hidupku, selain di sekolah, di rumah, juga di kampus.

Mei 2010, dibentuklah kepengurusan TGG pertama. Aku menjadi salah satu calon ketuanya. Kami di voting, dan akhirnya memilih Nana sebagai ketuanya. Aku masuk dalam jajaran tim pengurus. Dengan dibentuknya kepengurusan, maka kami memiliki akses lebih untuk melakukan kegiatan sendiri, lebih mandiri, namun tetap akan dipantau oleh Para Fasilitator.

Jika dahulu kami hanya sebagai partisipator, maka kami kini bertindak sebagai actor. Beberapa bulan terakhir kepengurusan berjalan cepat, namun dengan progress yang tidak maksimal. Hal ini lantaran belum ada dasar bagi kami. Juga SDM yang semakin hari semakin sedikit.

Maka, awal oktober 2010, kami sebagai pengurus mendapatkan pelatihan Fasilitator. Kami dibekali banyak hal dalam fasilitasi, dalam berorganisasi. Sekaligus, membuat Visi TGG untuk tahun-tahun mendatang.

Inilah regenerasi kedua dari TGG, kami merekrut anggota baru kelas X SMA/SMK. Di sini awal kami terjun langsung menyiapkan acara. Seperti kami pertama dahulu ketika masuk TGG. Meski sederhana, untuk permulaan cukup baik.
Akhirnya tahun 2010, ditutup dengan Ajang Kreasi yang lebih besar dari sebelumnya. Di sini kami sebagai tim pelaksana. Alahmdulillah, semua berjalan sesuai rencana.
****

Januari, 2011. Raker kami yang pertama dalam kepengurusan, atau yang ke-3 sejak TGG dibentuk. Di sini, kami menyiapkan bekal untuk menuju TGG yang mandiri. Kami merumuskan isu besar, SOP, juga Proker setahun ke depan.
Februari 2011, inilah awal kami memulai. Educamp Grade Putih di GSA. Acara itu tergolong sukses untuk pemula seperti kami, aku yang memberanikan diri menjadi PJ acara tersebut merangkap sebagai fasilitator utama.

Diriku mulai bertransformasi, dari yang dahulu hanya sebagai partisipator kini menjadi motor yang menggerakkan elemen-elemn penting. EduCamp tiap ekosistem pada April-Mei pun sangat menyenangkan. Tahun ini pula, sejak April lalu kami meluncurkan produk kampanye terbaru kami, "Foto Komitmen" saat peringatan hari Bumi 2011.

Bagiku, ini adalah pilihan. Meski sudah duduk di semester 4 bangku kuliah, entah kenapa semangatku masih ada di TGG. Kini diriku semakin bertransformasi. Inilah sejatinya proses pembelajaran.

Juni lalu, dari TGG mimpiku terwujud, sebuah tulisanku dimuat di koran Media Indonesia. Liburan tiga bulan kemarin pun terasa begitu padat, kami berkesempatan menikmati liburan yang menyenangkan, bermain di sepanjang Ciliwung, Ke Pulau Pramuka, Green Camp, hingga aku dua kali On Air di Green Radio.

Akhir September lalu, aku berkesempatan mewakili TGG ikut serta dalam TUNZA international children and youth Conference yang semakin menambah networking dan pertemanan dengan pemuda-pemuda dari seluruh dunia dalam social movement di bidang lingkungan.

Kini, ketika aku lihat ke belakang. Semua itu menjadi pencapaian yang patut di syukuri. Proses belajar yang panjang. Aku yang sekarang, mungkin berbeda dengan saat ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di TGG. Inilah transformasi itu. Seperti kata Om Robert Frost, "In three words I can sum up everything I've learned about life: it goes on.". Sampai kapanpun, rangkaian detik ini adalah proses belajar yang panjang, tanpa pernah kita sadari.

Desember,2011
-b5-

*Special thanks to Para fasilitator yang sudah membimbing, dan teman2 TGG yang SUPER Semangat. Mimpi2 Kita akan terus kita realisasikan dalam perjalanan panjang ini, Kawan!

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts