Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

We are not alone, Guys! Act Now! (Catatan TUNZA hari 2-3)


Alarm handphone-ku berbunyi nyaring. Meramaikan kesunyian ruangan. Selimut tebal masih membalut tubuhku. Air conditioner menyala, namun sengaja ku atur dengan suhu agak tinggi, 28 derajat Celcius. Mataku masih saja terpejam. Mematikan alarm sebentar, lantas kembali menutup ramat selimut.
“Allahu Akbar…Allahu Akbar….”
Lamat kudengar suara adzan subuh berkumandang. Sempat terbuai dengan lantunannya yang merdu. ‘Wake Up, Bang!’ Perintahku pada diri sendiri.
Aku pun bangun lantas ke kamar mandi. Membangunkan teman-teman yang lain untuk shalat subuh. Hari ini, 28 September 2011. Ini hari kedua TUNZA. Agenda hari ini seperti yang tercatat di guidebook adalah workshop ditambah dengan regional discussion sore harinya. Keberangkatan kami pun agak siang, tidak seperti kemarin yang harus bersiap lebih pagi. Setidaknya, bagi mereka yang malas bangun pagi, seandainya bangun pukul 08.00 WIB pun masih bisa berangkat bareng kami.
Usai shalat subuh, kubuka jendela. Tempatku menginap di Hotel Marbella terletak di lantai 12. Hotel ini terdiri dari 17 lantai, namun sebenarnya hanya 14 lantai. Hal ini karena terdapat tiga lantai yang sengaja ditiadakan lantaran kepercayaan mereka terhadap feng shui, yakni 13,14 dan satunya aku lupa.
suasana pagi dari lantai 12 hotel Marbella
Dari dalam ruangan tampak sinar jingga mentari mulai menembus kegelapan. Jingga yang indah. Sebenarnya ada sebuah balkon, tetapi pintunya terkunci dan harus bilang ke manager dahulu jika ingin membukanya. Sebenarnya, hotel ini memiliki view yang bagus dibandingkan dengan hotel tempat menginap delegasi TUNZA lainnya. hanya saja letaknya yang jauh dari jalan besar atau pusat kota. Entah alasan apa panitia menempatkan delegasi Indonesia kebanyakan di sini. Mungkin agar tak bisa kemana-mana dan mengikuti acara dengan baik sesuai jadwal yang telah direncanakan.
Sekitar pukul 07.00 WIB aku dan teman-teman sekamarku turun ke bawah untuk sarapan pagi. Pukul 08.00 WIB shuttle bus mengantar kami menuju SABUGA.
@@@@@

            Pukul 09.00 WIB, kami tiba di SABUGA. Registrasi dengan menunjukkan ID dan menuju plenary room. Kali ini dipisah antara children dan youth.
            Di dalam plenary room, terdapat bangku-bangku yang telah disusun dengan sebuah country name di tiap bangku. Ada hampir seratus lebih country name. Seorang fasilitator mencoba mengumumkan kepada peserta plenary bahwa bagi yang ingin presentasi mewakili negaranya diharapkan duduk di bangku yang telah disediakan. Tiap Negara hanya diwakili oleh dua orang. Kulihat bangku dengan country name ‘Indonesia’. Ternyata, ada Adeline di sana. Kemudian, salah seorang pemuda juga dari Indonesia disuruh menemaninya.
Suasana awal plenary session
            Kini saatnya presentasi mewakili Negara masing-masing. Giliran pertama ditujukan bagi delegasi dari Kamerun. Dari presentasinya melalui video, saya menangkap kegiatan yang mereka lakukan adalah mengajak anak-anak untuk menanam pohon dan cleaning beach.
            Kemudian, dilanjutkan dari Belgia yang mempresentasikan tentang rio+20. Dan ketiga dari India. Saya menangkap presentasi delegasi dari India sebagai bentuk protes terhadap pemerintah. Dari isi presentasi yang disajikan terlihat ia tidak suka dengan sikap pemerintah.
            Awalnya, aku berpikir bahwa semua Negara dengan perwakilannya akan presentasi. Hal ini sangat kuharapkan untuk mendapatkan inspirasi untuk kuterapkan di komunitasku. Tetapi, setelah break, plenary session dilanjutkan dengan sharing dari beberapa ahli. Salah satunya adalah salah seorang yang juga terlibat dalam ‘Earth Summit 1992’. Beliau mengatakan bahwa diperlukan partisipasi dari semua organisasi lingkungan dalam mengawasi jalannya hasil dari ‘earth summit’. Yang lain menambahkan, selama ini social movement menjadi seperti ‘silent voices’.
            Usai plenary, aku mendapatkan tambahan ilmu tentang rio+20. Awalnya, aku berpikir bahwa rio+20 hanyalah sebuah nama biasa, sebuah konferensi yang diselengggarakan di Brazil. Ternyata tidak. Rio+20 adalah sebuah Konferensi Tingkat Tinggi dalam bidang lingkungan bagi seluruh Negara-negara di seluruh dunia setelah 20 tahun sejak Earth Summit 1992. Sebelumnya, juga pernah ada Rio+5 yaitu pada tahun 1997.
            Yang terus berputar di kepalaku, mengapa sekarang baru pada bertindak, menyuruh melakukan pengawasan? Padahal 20 tahun waktu yang cukup lama. Bahkan, sangat cukup untuk membuat bumi ini lebih buruk, seperti saat ini. kita lihat saja 20 tahun terakhir, berapa ratus ribu atau bahkan juta hektar hutan Indonesia dan Brazil yang hilang?
@@@@@

            Setelah Makan siang, ada dua sesi workshop yang harus dihadiri peserta di hari kedua ini. saya mendaftarkan diri untuk mengikuti workshop “Youth, Environment and Sustainable Development” dari Humano Mortal Rejudals di sesi pertama dan “Best Practice of Environmental community projects” dari Bayer AG untuk sesi kedua.
            Pada workshop pertama, ternyata pembicaranya menggunakan bahasa spanyol. Namun, ada seorang fasilitator yang menerjemahkan ke dalam bahasa inggris. Aku agak terganggu dengan proses ini. Dari pemaparan yang diucapkan pun, tak banyak yang menambah pengetahuanku. Intinya, lebih kepada apa yang bisa kita lakukan untuk bumi ini. Dan tentunya, harus dimulai dari diri sendiri. Tak sekedar berbicara hingga berbusa-busa di depan.
berfoto bersama usai workshop 'Youth, Environmental and sustainable development'
            Di workshop kedua, ternyata workshop yang diorganisir Bayer telah penuh. Terpaksa, akhirnya aku memilih workshop di sebelahnya dengan tema ‘Youth Talking communities.’ Pesertanya tidak penuh. Sebenarnya sejak awal aku berencana memilih workshop ini, namun tidak jadi. Aku tertarik karena sekilas dari temanya aku menangkap akan membicarakan tentang komunitas kita. Ternyata, ketika di dalam yang dibicarakan berbeda. Tentang project. Kemudian kami di tugaskan untuk membuat sebuah project. Aku sibuk dengan seorang anak dari Kalimantan yang menanyakan detail project yang akan dibuat termasuk menerjemahkannya dalam bahasa inggris.
@@@@@

            Usai workshop, ada sebuah regional discussion yang harus kami hadiri. Indonesia termasuk dalam regional Asia Pasifik. Sekitar pukul 17.30 WIB Regional Discussion baru dimulai. Pertama-tama diperkenalkan networking dalam TUNZA. Kami tergabung dalam Asia-Pasific Youth Environmental Network. Kalau menurut zona Asia, Indonesia termasuk dalam SEAYEN(South East Asia Youth Environmental Network) dengan kordinatornya Aileen Yap dari Singapura.
            Jam menunjukkan pukul 18.00 WIB. Aku dan beberapa teman memutuskan turun dan keluar lantaran proses diskusi yang membosankan. Sebenarnya terakhir kali kami disuruh berkumpul dengan tiap zona di asia. Indonesia harus berkumpul dengan Negara-negara ASEAN. Aku bersama beberapa teman keluar untuk shalat maghrib.
            Usai shalat, tadinya aku ingin kembali ke tempat regional discussion, tetapi salah seorang temanku memberitahukan bahwa Bisma, teman sekamarku telah kembali ke hotel. Maka, tanpa pikir panjang aku dan beberapa teman ke luar SABUGA. Benar saja, shuttle bus telah menunggu di luar. Tanpa ragu aku masuk.
            “Mas, katanya Mbak Shilva ia masih di dalam sedang diskusi” kata Rida, peserta dari UGM. Lho? Aku bingung. Setelah kuperhatikan, shuttle bus yang sedang kunaiki diperuntukkan bagi children, sedangkan youth lainnya masih mengikuti regional discussion.
@@@@@

            “Wake Up, Bang!” Perintahku pada diri sendiri. Hari ini, 29 Oktober 2011. Hari ketiga TUNZA. Semalam, aku tak sempat ikut diskusi di Ballroom Hotel lantaran kondisiku yang terlalu lelah sepanjang hari. Kabarnya, mereka membahas ‘Deklarasi Bandung’ dalam group discussion dan memilih beberapa orang perwakilah dari Indonesia yang akan dimajukan menjadi ‘Tunza Youth Advisory Council(TYAC)’.
            Hari ini, agendanya kurang lebih sama dengan kemarin. Kami tiba di SABUGA sekitar pukul 09.00WIB. kali ini, aku bersama beberapa teman memberanikan diri untuk berkeliling ke Booth Pameran yang disajikan. Pertama mencoba birdwatching dari komunitas BICONS, kemudian belajar cara membuat daur ulang dari plastic kemasan. Sebenarnya sudah sejak lama aku mengetahui daur ulang dari plastic kemasan ini, namun belum sempat untuk mencoba membuatnya. Alhasil, beberapa menit diarahkan oleh Ibu penjaga stand, aku bisa membuat sendiri.
            Sesi pertama di hari ini sama dengan kemarin yaitu plenary session. Kali ini presentasi dari UNEP tentang penelitian yang dilakukan terhadap keadaan bumi saat ini. dilanjutkan oleh presentasi project dari beberapa delegasi. Dan terakhir, sebelum having lunch, ada pemilihan TYAC. Indonesia mengajukan tiga nama untuk ini yaitu Gracia, Monica dan Vania. Terlebih dahulu setiap calon harus speech agar ia dipilih.
@@@@@

            Sesi workshop, aku sengaja memilih workshop dari Indonesia. Sejak kemarin, terasa sangat membosankan mendengarkan workshop yang diorganisir dari luar negeri. Aku pilih workshop ‘Bamboo for our livelihood’ dari Yayasan Kehati dan ‘Urban Farming’ dari Bandung Berkebun. Workshop dari Bandung Berkebun sebenarnya adalah workshop untuk anak-anak. Namun seorang  fasilitator mempromosikan bahwa akan ada souvenir menarik berupa goodie bag dan paket dari sponsor. Aku mengajak Rida untuk turut serta. Di hari terakhir ini, mencoba mencari ‘sesuatu’ yang gratis-gratis. =)
            Workshop sesi satu ternyata tak membosankan. Apalagi ada demo pertunjukkan bambu sebagai alat musik. Lebih penting, kami mendapat souvenir berupa alat music sederhana dari bamboo. Ruangan workshop mendadakn berisik. Terlihat peserta dari luar negeri sangat antusias membunyikannya. Sesi games yang dihadirkan membuat peserta kembali bersemangat. Tanpa sadar, ternyata sedang diliput siaran dari Metro TV. Aku baru tahu usai kembali ke Jakarta saat sedang browsing mencari-cari berita tentang TUNZA.
berfoto bersama usai workshop 'Bamboo for our livelihood' dari Kehati
            Workshop kedua, tak jauh beda. Sangat interaktif. Kuperhatikan, rata-rata peserta yang hadir adalah children. Aku dan temanku cuek saja. Sempat terjadi mati lampu sekitar dua kali, namun karena pihak organisir sepertinya tahu situasi, ia lantas tetap semangat membuat semua peserta untuk lebih bersemangat. Waktu mati lampu digunakan untuk bermain games. Di akhir sesi, ada praktik langsung berkebun. Aku baru tahu, ternyata medium berkebun lengkap dengan tanamannya yang di display di dalam SABUGA adalah hasil kerja mereka. Dan, seperti yang dijanjikan, sebelum kami bubar dibagikan dua buah goodie bag untuk tiap peserta. Satu berisi pot, sendok tanah dan bibit serta panduan berkebun. Satunya lagi berisi t-shirt, tas pinggang dan Teh Kotak.
@@@@@

            Di luar SABUGA, beberapa temanku ramai bermain egrang. Lantas, berfoto dengan seorang berkulit hitam dari Kamerun. Maghrib menjelang, padahal di dalam plenary sedang ada regional discussion, tetapi kami di luar sini asyik bergembira. Berfoto bersama. =)
            Usai shalat maghrib, kami tertarik untuk bermain Ular Tangga Raksasa. Diri kami sendiri sebagai pion-nya. Karena berisiknya suara kami, seorang dari regional Africa hingga berteriak, “Silent Please!” Jelas, mereka sedang berdiskusi untuk menentukan TYAC yang akan dipilih.
            Akhirnya, setelah beberapa berguguran dalam permainan Ular Tangga lantaran saling ‘tabrak’, kami makan malam. Di guidebook, tertulis jamuan makan malam dari Pemerintah Indonesia. Beberapa menu tak enak. Bahkan, kami menilai lebih enak masakan di Hotel. Padahal, aku sangat menginginkan makan pecel ayam lengkap dengan sambalnya.
@@@@@

saat pengumuman TYAC
            Kami memasuki Plenary Hall. Suasana sudah sangat ramai. Kabarnya akan diumumkan TYAC. Beberapa TYAC sebelumnya maju satu-persatu ke depan. Seorang TYAC dengan perlahan, membuat penasaran semua peserta yang hadir mulai membacakan TYAC yang mewakili pemuda dunia. Dalia dari Venezuela, nama pertama yang disebutkan. Tibalah sebuah nama yang membuat kami, peserta dari Indonesia bertepuk tangan lebih keras diikuti peserta dari Negara lainnya, yaitu Gracia Paramitha.
            Usai semua nama TYAC disebutkan, ada sebuah pengumuman mengenai fieldtrip untuk esok hari. Kami bubar untuk makan malam. Aku dan beberapa teman agak heran, ternyata teman-temanku yang lain belum sempat makan malam. Kami dengan sikap tanpa berdosa segera keluar mengantri shuttle bus menuju hotel.
@@@@@

            Perjalanan kembali menuju hotel. Kami kembali ke kamar masing-masing. Beristirahat. Dari jendela kamar aku bisa melihat suasa malam kota Bandung. Lampu-lampu menyala riang, berpendar diantara gelap malam. Aku tertarik untuk menikmati malam sejenak melalui balkon. Kemarin, salah seorang temanku telah meminta kunci balkon. Aku tuliskan beberapa kalimat pembelajaranku selama dua hari ini.
            “Friendship Forever”. Aku mendapatkan banyak teman baru di sini. Berbeda karakter, namun dalam kesamaan visi dan semangat. Itu yang membuat lebih indah.
            “Be A Change”. Seperti kata Gandhi, aku terinspirasi oleh semangat-semangat mereka yang terus melakukan perubahan, meski kecil.
            Terpenting, refleksi bagi diriku, “Act Now!” Tidak hanya hebat berbicara melalui forum-forum internasional, namun tidak melakukan apapun. Mulailah lakukan semua dari diri sendiri. ACT NOW!

Oktober 2011
Bambang Sutrisno
Teruntuk komunitasku tercinta, Teens Go Green


We are not Alone Guys!
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts