Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Keep Moving Forward!(Cerita Tunza: Last!)

Field-trip time!

Sewaktu mengisi form field-trip aku sempat bingung akan memilih tujuan yang mana. Lalu, karena dari namanya sudah menarik aku pilih ‘Star Energy Steam’. Dari booklet aku tahu bahwa itu adalah tempat Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi(PLTP). Letaknya di Pengalengan, Bandung Selatan. Dua tujuan Fieldtrip lainnya yaitu Waduk Jatiluhur dan Tangkuban Perahu.

Pagi-pagi sekali kami rombongan yang akan mengikuti fieldtrip sudah berkumpul. Dari hotel berangkat pukul 06.30 WIB lantaran lokasinya yang agak jauh. Duduk bersama satu bus dengan teman-teman yang sejak kemarin kukenal. Mas Gilang, Dito, Rida dari UGM, Irfan, Bisma dari Binus, Kania, Ela dari Malang, dan lain-lain.

Bus ku adalah bus paling penuh dan ramai dibandingkan dengan bus lainnya. Sepanjang perjalanan ada saja hal yang menarik untuk dijadikan bahan tertawa. Bus lain terlihat sepi. Bahkan, masih banyak tempat kosong. Ada 5 bus yang mengantar kami menuju 'Star Energy Geothermal'.

Sekitar pukul 09.30 WIB kami tiba di rumah makan. Padahal, baru saja tadi pagi sarapan, sekarang sudah akan makan siang. Hal ini lantaran lokasinya yang cukup jauh dan takut tak sempat untuk makan siang di sana.

Mamasuki wilayah Pengalengan, yang terhampar di kiri kanan adalah hijaunya kebun teh. Hampir sama seperti di puncak. Memasuki wilayah PLTP, aku tertarik dengan bentuk rumah penduduk yang hampir sama. Tersusun rapi. Ada sebuah Sekolah yang didirikan oleh Star Energy yaitu Bintang Bangsa School.

Kebun Teh di sekitar star energy
Indonesia memiliki potensi tenaga panas bumi yang luar biasa dikarenakan Indonesia dilalui oleh jalur 'Ring of Fire'. Selain itu, energi geothermal adalah energi yang ramah lingkungan tanpa menyebabkan polusi yang berdampak bagi lingkungan.

Berfoto di lokasi Star energy
Usai presentasi, kami menuju lokasi pembangkitan. Dikarenakan jumlah kami yang banyak dan takut terjadi bahaya, maka kami hanya berkeliling melihat lokasi pembangkitan dari dalam shuttle bus.

Lokasi Pembangkit Listrik
@@@@@

Rider, pengawal kami!

Sejak kemarin, aku tak menyadarinya bahwa ternyata setiap shuttle bus yang melintas harus dipandu oleh 'rider'. Itu julukan bagi mobil polisi yang memandu shuttle bus delegasi TUNZA. Sejak hari pertama, setiap rombongan yang menuju lokasi convention center di SABUGA, Rider selalu memandu dan menjaga bus kami. Membuat agar jalan terasa lebih nyaman dan terhindar dari kemacetan.

Hari pertama kami berangkat lebih pagi sehingga kemacetan belum kami temui. Di hari kedua, ketiga macet di sana-sini terjadi. Angkutan kota dan kendaraan lainnya disuruh menepi dan mempersilakan kami para delegasi TUNZA untuk melintas terlebih dahulu. Aku merasa ini sangat-sangat eksklusif. Tiap orang di sepanjang jalan menoleh melihat ke arah bus yang kami naiki.

Ternyata memang, rider bertugas menjaga keselamatan kami. Terlebih, untuk delegasi dari luar negeri. Bahkan, saat field-trip sepanjang perjalanan rider mengawal kami depan-belakang. Bahkan, ada dua buah motor polisi yang juga mengawal di garda terdepan. Hingga masuk jalan tol, mereka tetap mengawal kami.

Di sepanjang jalan yang kutemui dan berpotensi macet, aku pun melihat banyak polisi jalan raya yang juga telah bersiaga. Sepertinya Polda Bandung telah menyiapkan semuannya bagi kelangsungan perjalanan field-trip kami yang nyaman. Hampir semua dikerahkan untuk turut membantu.

Inilah kali pertama aku merasa begitu eksklusif. Menyaksikan orang-orang yang bertanya heran ke arah kami. Sebelumnya, mungkin aku hanya bisa melihat rombongan konvoi presiden atau menterinya yang dikawal rider, tetapi sekarang aku sendiri yang merasakan turut berada di bagian rombongan yang dikawal dalam konvoi.
@@@@@

Kota Bandung

Malam hari usai field-trip, kami berencana hang-out. Tujuan utama adalah Cihampelas. Dito telah memesan tiga buah taxi. Sekitar pukul 19.00 WIB kami berangkat usai makan malam di hotel. Kami turun di Ciwalk.

Cihampelas terkenal sebagai pusat belanja pakaian di Bandung. Banyak aneka pakaian dari dalam dan luar negeri di sini. Tentunya, produk lokal pun tak kalah bersaing. Di Ciwalk kami berkeliling sebentar, bingung ingin kemana. Berfoto sebentar. Di sana kami bertemu peserta TUNZA dari Timor Leste sedang berbelanja.

Aku, Rida, Irfan dan Mas Gilang berpisah dengan yang lainnya. Mencari t-shirt dari Bandung. Pindah dari satu penjual ke penjual lainnya lantaran harga yang belum cocok. Lama memilih-milih, akhirnya kami sepakat membeli. Ada ada 17 potong yang kami beli.

Ciwalk
Di jalan bertemu dengan teman-teman lainnya. Mereka bingung akan kemana. Berdiskusi. Salah seorang ingin berkaraoke. Maklum, mereka masih SMA, masih labil dan hedonis. =)

Kami tetap berpisah. Aku, Rida, Irfan dan Mas Gilang. Menyusuri malam Cihampelas. Aku tak tahu daerah ini. Rencananya akan ketemuan dengan yang lainnya di Dago. Kami menyusuri gang kecil. Naik, turun berliku. Yang kutahu dari Irfan, ini tempat kost-an mahasiswa ITB. Lebih padat jika dibandingkan dengan tempat kost-an ku di Kukusan. Aku sempat membayangkan kehidupan teman-temanku yang kuliah di ITB, atau perjuangan Alif dalam ‘Ranah Tiga Warna’.

Berjalan terus hingga tembus taman sari. Kami naik angkot menuju Dago, turun di Dago Plaza. Dari luar aku melihat bahwa mall ini tidak seperti mall yang kutemui di Jakarta. Atau memang, aku yang tak pernah jalan-jalan ke mall di malam hari. Aku, Rida dan Irfan merasakan hal yang sama. Apalagi ketika telah tiba di depan pintu karaoke. Langkah kami terhenti. Seorang teman dari Bandung keluar menjemput kami. Mas Gilang ikut masuk. Kami bertinga terdiam. Tetap duduk di luar.

Aku, Rida, dan Irfan ke luar mall lantaran tak biasa dengan suasananya. Tak biasa dengan kehidupan malam. Waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB. Ternyata, kota Bandung masih ramai. Apalagi saat itu weekend. Banyak muda-mudi dengan bebasnya bercengkerama. Tertawa riang tanpa beban. Kulihat satu-dua di meja yang tersedia botol-botol minuman beralkohol.

Kami berjalan terus menjauh dari Dago Plaza. Berencana ke Alun-alun. Melewati 'Luxton' dan 'Holiday Inn' tempat menginap delegasi dari luar negeri. Setelah lelah, merasa bahwa waktu sudah semakin larut kami memutuskan kembali ke hotel.
@@@@@

Indonesia dan kebudayaannya…

Menjadi tuan rumah bagi penyelenggaraan event International merupakan sebuah kebanggaan. Selama TUNZA, ketika opening ceremony ditampilkan tarian khas Jawa Barat. Membuat para peserta berdecak kagum melihatnya.

Begitupun ketika di akhir acara. Ketika jamuan makan malam dari Gubernur Jawa Barat, para peserta dijamu dengan lagu khas sunda diiringi arumba(alunan rumpun bambu) dari Saung Udjo. Semua peserta bersuka cita.
Tak kalah menarik ketika closing ceremony, tanpa diduga, angklung dibagikan dari kepada peserta. Kemudian, seorang pemandu memandu semua peserta saat closing ceremony untuk memainkan angklungnya. Dimulai dari tiap nada do hingga si. Kemudian mencoba memainkan sebuah lagu.

Ruangan tempat Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 itu dipenuhi oleh alunan musik angklung. Setiap peserta antusias, termasuk aku. Alunan angklung terasa begitu membahana memenuhi semua ruangan.

Indonesia, dengan budayannya yang kaya. Ada lebih dari 300 bahasa dari setiap daerah di Indonesia. Masing-masing memiliki lagu, pakaian, tarian, kekhasan dan budayanya masing-masing. Batik menjadi ciri khas paling utama karena hampir semua delegasi Indonesia mengen akan batik saat opening dan closing ceremony. Beberapa lainnya yang ingin tampil beda, mengenakan pakaian adat masing-masing.

suasana Makan malam jamuan Gubernur Jabar
@@@@@

Souvenir, Name Card, dan Foto

Bertemu dengan orang baru tentu hal yang menakjubkan, apalagi dengan orang yang berbeda bahasa dan budaya. Ketika TUNZA, saat berkenalan adalah saat menunjukkan sesuatu tentang diri kita. Biasanya perkenalan akan berujung pada bertukar namecard.

Hari pertama aku sempat bingung saat berkenalan. Agak merepotkan dengan menuliskan data diri di sebuah buku catatan. Hari kedua, kebetulan booklet 'Teens Go Green' telah jadi. Namun, tetap saja di sana tak ada kontak pribadiku seperti email, facebook.

Hari berikutnya, aku siapkan booklet yang telah kutulisi nama, email dan facebook-ku di bagian belakang. Tak lupa pin ‘Styrofoam? No, Thanks!’ yang juga kubagikan. Beberapa kenalan tertarik dan bertanya lebih lanjut.

Dari Negara lain, ada beberapa delegasi yang juga menyiapkan souvenir. Dari Malaysia contohnya memberikan bross 'Malaysia tourism'. Ada juga yang memberikan sebuah bendera. Namun, kenangan paling nyata adalah dalam bentuk foto bersama.

Foto akhir Closing ceremony
@@@@@

Deklarasi Bandung, sustainable development dan implementasinya..


Deklarasi Bandung menjadi outcome dari penyelenggaraan TUNZA 2011. Deklarasi Bandung sebagai ‘children and youth voices’ yang akan dibawa dalam Earth Summit Rio+20 tahun depan di Brazil.

suasana adopt final deklarasi bandung
Sebelum TUNZA, di email-ku telah dikirm draft Deklarasi Bandung. Entah siapa yang membuatnya. Saat TUNZA, kami hanya mengkritisi isi dari draft yang telah dibuat agar tidak terjadi ambiguisitas atau kesalahan dalam memaknai.

Hal yang dibahas dalam Deklarasi Bandung mencakup peran pemuda sebagai generasi mendatang, apa yang bisa dilakukan, peran pemerintah, dan pembangunan berkelanjutan. Sustainable Development menjadi topik utama yang dibicarakan selama konferensi.

Pembacaan Deklarasi Bandung
Bagiku, semua hal ini tergantung dari pengaplikasian setiap orang. Bagaimana ia mau menjadikan hidupnya lebih ramah terhadap lingkungan. Menjadikan 'greenlifestyle' sebagai bagian dari keseharian.

Sejak awal konferensi dari hari pertama, aku dan beberapa teman sempat mempertanyakan tentang apa hasil dari TUNZA sebelumnya? Mengapa baru sibuk H-1 tahun sebelum Earth Summit? Padahal, 20 tahun setelah Earth Summit 1992 merupakan waktu yang lama untuk mengubah semuanya. Menjadikannya lebih baik atau semakin buruk. Pada periode 20 tahun terakhir saja hutan Indonesia telah banyak sekali yang rusak, bahkan hilang. Berganti menjadi kebun-kebun kelapa sawit. Bertransformasi menjadi tisu toilet atau kemasan Barbie.

Sebagai pemuda, aku dan beberapa teman tak bisa berbuat banyak. Hanya sebatas melakukan 'social movement' melalui komunitas-komunitas lokal. Berpikir, mengembangkan ide. Menjalankan project. Menuliskan setiap mimpi, kemudian berusaha merealisasikannya.

Aku ingat selalu kata salah seorang teman, ‘Keep Moving Forward, bang!’. Ya, mumpung masih muda, masih memiliki banyak kesempatan, gunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Kita tak sendiri. Banyak pemuda dari Negara-negara lain juga melakukan hal sama seperti kita. Membuat perubahan. ACT NOW!

Oktober 2011,
Bambang Sutrisno
"Keep Moving Forward, Bang!"

Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts