Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Menyelami kedalaman Hati Bidadari Surga


Bidadari-bidadari surga

“Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (Al-Waqiah:22). Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah. Mereka baik lagi cantik jelita (Ar Rahman:70)”

“Bidadari-Bidadari Surga”. Ya, kebanyakan dari kita mungkin akan berpikir bahwa mereka adalah makhluk yang sempurna. Tanpa cacat. Tanpa kekurangan sedikitpun. Memiliki kecantikan yang luar biasa. Namun, bidadari surga yang digambarkan Tere Liye dalam salah satu novelnya sama sekali berbeda dari gambaran kita selama ini. Berbeda secara fisik, ataupun rupa. Ia yang jauh dari paradigma kebanyakan kita selama ini.
Adalah Laisa. Salah satu tokoh sentral dalam novel ”Bidadari-Bidadari Surga”. Dia bukanlah wanita yang sempurna secara fisik. Bahkan sebenarnya jauh dari itu jika kita mengenalnya. Namun, kedalaman hatinya dalam memaknai hidup ini membuat ia layak menjadi salah seorang bidadari surga. Tidak. Novel ini tidak menceritakan tentang bagaimana menjadi seorang bidadari surga, melainkan pembaca akan merasa seperti menyaksikan kedalaman hati seorang kakak yang rela berkorban demi adik-adiknya. Pengorbanan yang tanpa pamrih sedikitpun.
Cerita bermula dari sakit kanker paru-paru stadium 4 yang diderita Laisa, dan menjelang sakaratul mautnya, terurai kisah yang mengharukan dari semuanya.Dalam keadaan sakit parah itu Laisa tetap tidak ingin merepotkan keempat adiknya Dalimunte, Wibisana, Ikanuri dan Yashinta. Akhirnya tiba, Laisa mengijinkan ibunya, Mak Lainuri untuk mengirimkan sms pertama dan terakhir untuk memanggil keempat adik-adik Laisa.
Adik pertama Laisa, Dalimunte, seorang professor fisika hebat yang tetap rendah hati. Dikisahkan dalam novel, Dalimunte berhasil meneliti untuk membuktikan bahwa mukjizat nabi Muhammad membelah bulan bukanlah omong kososng belaka, namun benar adanya bahwa bulan memang terbelah kemudian disatukan kembali.Hari itu, ketika sms dari Mamak Lainuri sampai padanya, ia sedang berada dalam Simposium Fisika untuk menjelaskan hasil penelitiannya tersebut. Dan, ketika ia membaca sms dari Mamak Lainuri, seketika itu juga ia hentikan penjelasannya. Tanpa berkomentar lagi. Saat itu juga, ia segera meniggalkan ribuan peserta simposium yang sedang fokus mendengarkan setiap detail penjelasannya. Baginya, urusan dalam sms itu lebih penting dari apapun.
Lain lagi dengan Ikanuri dan Wibisana, adik kedua dan ketiga Laisa. Saat itu, mereka baru saja tiba di Italia untuk membicarakan bisnisnya. Tepat saat pesawat landing, dan handphone dinyalakan, sms itu tiba. Mereka langsung mencari pesawat untuk kembali ke tanah air. Sayangnya, waktu itu semua tiket telah habis karena ada final Piala Camphion. Terpaksa mereka harus ke Paris, karena hanya disitulah yang terdekat. Kereta yang mereka tumpangi pun terhambat karena ada longsor yang menghalangi jalan kereta.
Adik bungsu mereka, Yashinta, seorang pecinta alam, tengah berada di puncak Semeru lengkap dengan kamera super zoom-nya untuk menangkap gambar-gambar cantik Peregrine di dekat kawah. Saat itulah, ketika ia sedang bersiap mengambil gambar Peregrine dengan pose yang menawan, sms itu tiba. Sama seperti ketiga kakaknya, tanpa pikir panjang ia langsung bergegas dari turun dari kawah.
Perjalanan mereka menguraikan setiap episode mengharukan novel ini. Kisah-kisah panjang yang menceritakan besarnya pengorbanan Kak Laisa. Dalimunte, yang sejak kecil belajar cara berbicara di depan umum dari Kak Laisa. Ikanuri dan Wibisana, yang sangat nakal, bahkan dengan tega mengatakan ”Kak Laisa bukan kakak kami. Jelek. Pendek.” dan Yashinta, yang sangat keras kepala dan akan sangat marah bila ada yang mengatakan Kak Laisa adalah pembantunya. Kenyataanya memang seperti itu karena memang fisik mereka yang sangat berbeda. Tere Liye menggambarkan sosok Laisa yang gemuk tapi gempal, kulit hitam, pendek, dan rambut gimbal.
Kak Laisa selalu memberikan teladan untuk tidak menangis dan mengeluh di hadapan adik-adiknya. Bahkan dengan besar hati dia merelakan dilangkahi ketiga adiknya, padahal dalam adat mereka dilangkahi itu bukan hal yang baik. Kak Laisa tidak pernah datang terlambat untuk adik-adiknya. Bahkan setelah mendapat hinaan “Kau bukan kakak kami” dari Ikanuri, Kak Laisa-lah yang justru berlari menembus gelapnya hutan Gunung Kendeng di tengah malam menyelamatkan Ikanuri dan Wibisana yang hendak dimakan harimau penguasa Gunung Kendeng. Kak Laisa tidak pernah minder, tidak malu dengan keadaan dirinya, malah dia menyuruh Yashinta terbiasa dengan hinaan orang yang mengira Laisa adalah pembantunya karena mereka memang berbeda, Yashinta yang sangat cantik, putih, tinggi semampai, dengan Laisa yang hitam pendek.
Menyusuri perasaan lembut Laisa yang harus terkoyak lagi dan lagi saat usaha Dalimunte untuk mencarikannya jodoh gagal dan gagal lagi di tahap yang sama, tatap muka. Tapi Laisa tetap wanita yang lembut hatinya yang membutuhkan pendamping. Begitulah yang dipikirkan adik-adiknya, padahal ternyata kemuliaan hati Laisa memandang bahwa melihat Lembah Lahambay lebih maju adalah karunia. Dan ia tak pernah ingin merusak kebahagiaan yang telah terjalin. Kebahagiaan melihat adik-adiknya sukses.
Episode akhir novel ini, mengajak kita untuk merenungkan kembali makna kemuliaan wanita yang sesungguhnya. Dialah Laisa, yang berkorban tanpa pamrih untuk adik-adiknya. Yang begitu tulus mencintai adik-adiknya dan keluarganya, sebenarnya tidak memiliki hubungan darah sedikitpun. Ketulusan yang tak pernah ia ucapkan dengan kata-kata, namun ia tak pernah datang terlambat untuk adiknya.
Yashinta. Ternyata, Kak Laisa menunggu Yashinta. Menunggu pernikahan terakhir di keluarga mereka karena ia tahu Yashinta tak akan menikah karena tidak ingin melangkahinya. Dan akhirnya, ketika ijab kabul itu terucap….
”Bagai parade sejuta kupu-kupu bersayap kaca, menerobos atap rumah, turun dari langit-langit kamar, lantas mengambang di ranjang menjemput lembut.” Kak Laisa tersenyum untuk selamanya. Kembali. Senja itu, seorang bidadari telah kembali ke tempat terbaiknya.
Itulah kalimat pada episode akhir novel ini. Setiap kisah yang dituturkan Tere Liye, tersirat berjuta makna. Saya sempat tercenung sebentar dengan epilog yang disampaikan di halaman terakhir, isinya seperti berikut ini.
Dengarkanlah kabar bahagia ini.
Wahai wanita-wanita yang hingga usia tiga puluh, empat puluh, atau lebih dari itu, tapi belum juga menikah(mungkin karena keterbatasan fisik, kesempatan, atau tidak pernah terpilih di dunia yang amat keterlaluan mencintai materi dan tampilan wajah). Yakinlah, wanita-wanita shalihah yang sendiri, namun tetap mengisi hidupnya dengan indah, berbagi, berbuat baik dan bersyukur. Kelak, di hari akhir sungguh akan menjadi bidadari-bidadari surga. Dan kabar baik itu pastilah benar, bidadari surga parasnya cantik luar biasa.
Inilah novel yang layak dibaca siapa saja. Karena di dalamnya, kita akan menemui makna sesungguhnya dari hidup ini. Kalian akan mengenal siapakah wanita yang pantas sebagai ”Bidadari Surga” sesungguhnya.
Selamat membaca! Selamat berbagi! Selamat menjadi manusia terbaik di dunia ini dengan menjadi yang paling bermanfaat bagi sekitar kita. Selamat menjadi Muslimah terbaik! dan Selamat menginspirasi dengan menjadi Mulimah Beauty 2011!
Selamat Menginspirasi sebagai Muslimah Beauty 2011!Selamat Menginspirasi sebagai Muslimah Beauty 2011!
Amin.
Wallahu a’lam bishowab.

*) ini tulisan saya yang berhasil menang di ngaBLOGburit blogdetik.com edisi 8 agustus 2011. Semoga bermanfaat!^^
  •  
  •  
  •  
  •  
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

1 comment:

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts