Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Teens Go Green : Berbagi Bersama Anak-Anak Pesisir Jakarta

Kalian yang tinggal di Jakarta, pasti sangat tidak menyangka sekali, ternyata di tepian ibukota yang metropolitan ini, tepatnya di pesisir ibukota, terdapat perkampungan nelayan yang rata-rata penduduknya berpenghasilan sebagai nelayan. Kalian tentu bisa membayangkan bagaimana nasib mereka, sedangkan kita tahu bahwa laut Jakarta sudah tercemar.

Apalagi, bila kalian sempat melihat-lihat kondisi pesisir Jakarta kini, berbeda jauh sekali dengan kebanyakan pantai yang ada. Pantai Jakarta kini telah ditutupi oleh Dam atau bendungan. Fungsinya adalah mencegah erosi, serta abrasi pantai, juga menahan air laut ketika pasang. Padahal, jika kita sejak dahulu telah menjaga pantai dengan tumbuhan bakau-nya, tentu tak perlu repot lagi dengan pembuatan Dam.
…..
Hari Senin lalu, tepatnya 20 Juni 2011, Teman-teman Teens Go Green bersama dengan sekolah SMAN 115 mengadakan kegiatan Bakti sosial untuk anak-anak pesisir di Cilincing, Jakarta Utara. Kegiatan ini bertujuan untuk berbagi kebahagiaan serta belajar arti pentingnya menjaga lingkungan. Terdapat sekitar 30 peserta anak-anak nelayan dengan usia 5-15 tahun yang ikut serta dalam acara ini.

Teman-teman dari SMA 115 Jakarta telah mengumpulkan sumbangan berupa buku tulis, susu, serta pakaian layak pakai yang telah dikumpulkan dari siswa-siswi sekolahnya. Teens Go Green sendiri dalam kegiatan ini bertugas sebagai pengisi materi lingkungan agar anak-anak yang ikut serta dalam kegiatan ini memiliki kesadaran dalam menjaga lingkungan, minimal dengan tidak membuang sampah ke Laut. Penyampaian materi dari Teens Go Green berupa sebuah dongeng tentang global warming. Ada juga games untuk melatih jiwa keberanian anak-anak di sana.

Awal acara terasa sangat membosankan. Anak-anak yang terlibat terlihat kurang bersemangat. Setelah teman-teman Teens Go Green memberikan pengantar, kami mulai sadar bahwa mereka perlu diberikan pemicu agar semangat. Maka, rencana kami berubah. Untuk mencairkan suasana, Sinta, Ani, Syifa, Ratih dan Tiara membimbing anak-anak untuk mengikuti games. Siapa yang berani maju akan mendapatkan souvenir dari Teens Go Green berupa pin dan buku tentang ekosistem. Satu- dua anak awalnya malu-malu. Lama-kelamaan, hampir semua ingin tampil di depan. Bernyanyi lagu khas anak-anak seperti balonku, bintang kecil, pelangi yang kini sudah tak lagi popular di kalangan mereka.

……..
Dongeng : Si Biang Kerok

Ketika kakek dan nenek kita hidup, kondisi bumi mungkin belum seperti saat ini. kondisi suhu di permukaan bumi yang kini sangat terasa panas ketika siang adalah efek dari pemanasan global.

Cerita dimulai dengan sinar matahari yang menyinari bumi, mengirimkan anaknya untuk menyinari bumi mulai pagi hari, kemudian kembali ketika sore hari. Aktivitas di bumi yang semakin padat, terlebih industry yang mengeluarkan CO2 dan CFC membuat atmosfer bumi seperti terlapisi oleh suatu tembok yang sangat tebal.

Suatu hari, sang anak matahari kembali menjalankan tugasnya untuk menyinari bumi. Ketika sore hari, sang anak matahari ingin pulang, ternyata tidak bisa. Semuanya tergembok. Bahkan hingga di paksa, tetap tidak bisa.

Anak matahari harus pulang, kalau tidak ia akan membuat bumi semakin panas. Sehingga semua yang ada di bumi akan terbakar, es di kutub pun meleleh dan menenggelamkan semua yang ada di bumi.

Ini adalah ulah si Biang Kerok, atau biasa kita sebut CFC. Di akhir cerita digambarkan kondisi bumi yang sedang sedih dan terus menangis. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Adalah Kak Ani, yang dengan lincahnya mendongeng meramaikan suasana. Beberapa panitia yang terlibat terlihat antusias dengan cerita yang dibawakan. Anak-anak terlihat diam penuh ketertarikan.

Sebagai penutup cerita, di jelaskan bahwa kita, termasuk Teens Go Green memiliki banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuat bumi ini tetap dalam kondisi baik. Hal tersebut antara lain menghemat listrik dan energy, menggunakan transportasi umum (termasuk naik sepeda atau berjalan kaki jika dekat), menanam pohon, tidak membuang sampah yang bisa di daur ulang, Mengurangi sampah plastic dan tidak menggunakan kemasan STYROFOAM, serta turut menyebarkan info terkait hal ini ke semua orang.

Pertemuan pagi itu kami tutup dengan berfoto bersama menggunakan atribut khas kami, berfoto komitmen. Pagi itu, semoga semangat kami tertular kepada mereka. Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat.
……

Tak jauh dari lokasi bakti sosial, sebuah kali bermuara. Terlihat airnya yang tergenang. Sampah plastik dan potongan sampah putih atau STYROFOAM turut menghiasi. Kedua sampah ini seperti menjadi musuh utama di kota Jakarta. Menjadi pencemar yang menghambat laju air hampir di semua kali yang melintas di Jakarta.

Tentu kalian berpikir, benar saja terjadi banjir, airnya saja tak bisa mengalir lantaran sampah plastik dan STYROFOAM. Mungkin suatu saat nanti, entah itu kapan, kota ini akan seperti kota-kota modern di eropa sana yang bebas dari sampah, atau mungkin kota ini malah akan menjadi kota terburuk di dunia. Entah, hari itu pula apakah bumi ini masih cukup umur untuk menanggung semua beban yang kini menyakitinya? Apa yang bisa kita lakukan, lakukan mulai sekarang, mulai hal yang kecil, dan dari diri sendiri serta menyebarkannya kepada orang lain.

TEENS GO GREEN….!!!! ACT NOW….!!!!^^

Nb : mohon maaf bila ada kesalahan penulisan, informasi atau apapun.
Depok, Juni 2011
b5
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts