Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Proses Pembelajaran

Proses Pembelajaran

“Al-‘ilmu qabla ‘amal”
(Berilmulah, sebelum beramal)


Pekan Lalu, terdapat sebuah pameran lingkungan bertajuk Climate Change Education forum & Expo. Pekan ini, tepatnya 1-5 Juni terdapat sebuah pameran lingkungan bertajuk Pekan Lingkungan Hidup Indonesia. Acara yang sebenarnya sama visinya, namun kenapa harus dipisahkan?

Kebetulan, saya dan teman-teman Teens Go Green berpartisipasi di kedua pameran tersebut. Kali ini di Pekan Lingkungan Hidup Indonesia, yang kebetulan kami mengisi stand PT Pembangunan Jaya Ancol pada 2-3 Juni lalu.

Area Pameran


Pameran kali ini diadakan di Parkir Timur Senayan. Dengan tenda besar, lapangan parkir di sulap menjadi ruang pameran mewah. Karena ternyata sama saja dengan di JCC. Udara dingin AC bertiup di sana-sini. Outdoor ataupun indoor sama saja.

Di luar, ada beberapa tenda terpisah. Sesuai dengan konten acara ini. Ada ruang seminar, kampung daur ulang, eco driving, serta green music (semua yang berhubungan dengan lingkungan diberi nama eco atau green).

Stand PT Pembangunan Jaya Ancol berada di dalam tenda besar bersama dengan stand CSR lainnya. Beberapa stand sebenarnya juga kami temui sewaktu pameran Climate Change pekan lalu, seperti Indonesia Power, Cifor, Walhi, Pertamina.

Di area pameran kali ini juga terdapat kantin, dan arena bermain anak. Tempat ibadah yang tersedia menurut saya kurang layak, hanya property tambahan yang sebenarnya tak direncanakan, karena tertulis jelas itu adalah tenda UKM binaan dari salah satu provinsi di Indonesia. Tempat wudhu pun hanya satu, dan itu pun terbuka. Padahal, seharusnya disediakan tempat ibadah dan wudhu yang tertutup apalagi untuk mereka yang berjilbab. Saya pun sempat terbayang, ketika Pak Menteri berkunjung, shalat dimana ya? Apakah ia mau shalat di tempat tersebut, sembari dikerubungi lalat? (kebetulan tempat shalat banyak lalat).

STYROFOAM Vs Teens Go Green

Jangan heran jika kalian melihat Styrofoam berkeliaran di sana. Terlebih pada kemasan makanan yang dengan terang hampir semua pedagang di stand makanan menggunakannya. Hari pertama saja, kami sampai kelaparan lantaran tak menemukan makanan yang tidak dibungkus Styrofoam. kami pun membeli makanan di luar area pameran, itupun sama saja. Menggunakan Styrofoam. Untunglah, setelah bernegosiasi, penjual mau membungkus dengan kertas nasi. Lucunya, si penjual tak bisa membungkus dengan kertas nasi tersebut. Alhasil, nasi yang kita beli di bungkus dengan bentuk yang tak karuan.

Beberapa stand yang kami temui, di depan, samping, kiri, kanan, semua makan menggunakan kemasan Styrofoam. Maka, ketika mereka melihat kami, malah mereka malu sendiri seperti maling yang kepergok. Beberapa kami dapatkan gambarnya. Ada juga yang cuek saja, mungkin karena lapar jadi dilahap saja makanannya.

Beberapa pengunjung yang mampir ke stand kami, kebanyakan mengerti mengenai bahaya Styrofoam, tidak bisa terurai di alam. Namun, ketika mereka akan mengaplikasikannya terutama saat makan, mereka tidak bisa menolak karena penjual menggunakan Styrofoam. Mungkin, pikir mereka daripada takut kelaparan.

Ini pekan lingkungan, ya dari judulnya tertera. Seharusnya, semua yang turut berkontribusi terhadap lingkungan diperhatikan. Saya tak habis pikir dengan penyelenggara pameran ini. Hampir semua yang ada hanya sebagai formalitas. Semua serba kata green, eco dll. Padahal sama saja. Saya ingat sebuah ayat Al-qur’an yang mengatakan,”Janganlah kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan”. Seperti pemakaian Styrofoam, bilangnya berbahaya bagi kesehatan, lingkungan , tetapi tetap menggunakan Styrofoam.


Inilah tantangan kami, sebagai komunitas yang focus pada isu Styrofoam. mungkin, ini adalah salah satu yang akan menambah pengalaman kampanye sekaligus sebagai sebuah pembelajaran kami di lapangan ke depannya. Teens Go Green, Styrofoam? No, Thanks!

Belajar dari Seorang Bu Nandang

Kemarin tepatnya, ketika saya bersama tiga orang teman saya ikut workshop pembuatan produk daur ulang di stand Pertamina. Awalnya, saya hanya tertarik dengan souvenir yang diberikan, namun lama kelamaan, hal itu pudar menjadi semangat sekaligus kekaguman.

Bu Nandang, seorang ibu yang kini telah mendapat berbagai penghargaan, yang saya ingat dia sebagai salah satu wanita teladan nasional. Kemarin, kami diajari membuat produk dari kertas Koran. Awalnya kertas Koran di linting menjadi panjang, agak sulit memang. Setelah terkumpul tujuh hingga 9 buah, kemudian di anyam perlahan sehingga menjadi bentuk yang kita inginkan kotak tisu, guci, tas, dll.

Prinsipnya adalah Zero Waste. Semua sampah di manfaatkan tanpa tersisa. Kini, ia sebagai pelatih di LKP Bu Nandang. Pernah ia menyelenggarakan resepsi pernikahan dengan semua asesoris, termasuk pakaian pengantin dari barang daur ulang. Saya sempat kagum mendengarnya.

Sewaktu saya tanyakan mengenai Styrofoam, dan sini banyak yang memakainya, ia menjawab,”itulah, kan jelas, ‘Al-‘ilmu qabla amal, berilmulah sebelum beramal’”. Menurutnya, kebanyakan orang-orang melakukan upaya penghijauan, kegiatan lingkungan untuk mendapatkan penghargaan. Banyak yang berkampanye, menjaga stand-stand pameran, tapi tidak memiliki ilmu yang cukup. Yang terpenting adalah seberapa kita bermanfaat buat sekitar kita.

Kini, ia sebagai pendidik dan pelatih dalam pemanfaatan daur ulang kertas. Menurutnya, seorang pendidik harus mendidik dengan hati nurani sehingga menghasilkan didikan yang berkualitas. Dia hanya menyediakan kartu nama, tanpa brosur, leaflet dan sebagainya. Hal ini menurutnya turut berkontribusi untuk menjaga lingkungan. Semakin banyak brosur, semakin banyak pohon yang ditebang. Malah, ia memberitahukan bahwa brosur yang sering kita ambil dan kebenyakan kita buang sebenarnya masih bermanfaat. Ia menunjukkan salah satu produknya sebuah bingkai, tas, dan bross. Sangat menarik. Saya merasa terinspirasi untuk tidak membuang brosur-brosur yang saya ambil saat pameran dan akan memanfaatkannya.

Selama kurang lebih 45 menit, saya dan teman saya mengikuti workshop bu Nandang, sembari bertanya satu dua hal. Karena kami pun harus bersiap-siap untuk menutup stand, maka kami pulang. Rencana awal untuk mendapatkan souvenir terlupakan sudah. Yang terpenting adalah ilmu yang kami dapat.

Epilog : Sebuah pembelajaran


“Merugilah orang yang di tiap harinya tidak menjadi lebih baik”. Pepatah itu kurang lebih sama dengan “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin”. Ya, di tiap harinya setiap manusia merasakan proses pembelajaran. Namun terkadang hal itu tak kita sadari.

“Ilmu itu liar, kawan. Ikatlah ia dengan menuliskannya”-Negeri 5 Menara-

Catatan ini sebagai bagian kecil dari proses pembelajaran. Pembelajaran ‘tuk menjadi yang paling bermanfaat bagi sekitar. “Khairukum an fa’uhum Linnas, yang terbaik di antara kalian adalah yang paling bermanfaat”.
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts