Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Hari Lingkungan Hidup bersama Ciliwung

Hari Lingkungan Hidup bersama Ciliwung


Oleh: Bambang Sutrisno

Hari ini bertepatan dengan Hari Lingkungan hidup sedunia. Ya, hari ini adalah tanggal 5 juni. Saya bersama Teens Go Green Jakarta serta beberapa komunitas lainnya seperti Transformasi Hijau, Dongeng Kanvas, Komunitas Ciliwung Condet, dll mempunyai cara tersendiri dalam merayakan Hari Lingkungan hidup kali ini. Rencananya Hari Lingkungan Hidup kali ini akan kami satukan dalam acara Launching Tahun Kunjungan Wisata Ciliwung 2011 yang bertempat di Condet, Jakarta Timur.

Tempat Teduh di Pinggiran Ciliwung

Pertama Kali menginjak ke lokasi, beberapa teman Teens Go Green yang saya ajak agak terheran dengan kondisi lokasi yang masih rimbun oleh pepohonan. Di sela-sela terlihat juga pohon salak yang merupakan tumbuhan asli daerah condet. Beberapa terlihat pohon besar yang menutupi sehingga suasana terasa seperti bukan di Jakarta pada umumnya yang terlihat gersang.
Sewaktu tiba di Ciliwung Condet..
Adalah Bang Qodir, Sang tuan rumah yang dijadikan lokasi Launching Tahun Kunjungan Wisata Ciliwung 2011. Tak salah memang, sebagai penduduk asli Jakarta seharusnya memang ada warisan cagar budaya yang perlu dilestarikan. Pohon-pohon salak condet di sana adalah sedikit yang masih tersisa. Maka itu, perlu dilestarikan agar kelak anak cucu kita bisa merasakan salak asli daerah condet sekaligus sebagai ikon tumbuhan khas DKI Jakarta.

Selain pohon salak, terdapat beberapa pohon besar lainnya seperti pucung atau kluwek, pohon bamboo, dll. Dinding Sungai Ciliwung di sini masih berupa tanah biasa sehingga akan menyebabkan erosi ketika volume air meningkat. Untunglah di beberapa bagian terdapat pohon bamboo sehingga pengikisan tepi sungai terhindarkan.

Foto Komitmen Teens Go Green dan Face Painting

Tidak seperti biasanya ketika pameran dengan background yang telah dirancang, kali ini Teens Go Green melakukan foto komitmen yang berkaitan dengan Sungai Ciliwung. Anak-anak antusiasme sekali dalam melakukan foto komitmen ini. Foto ini juga sekaligus ajakan kepada masyarakat agar lebih peduli pada kondisi Ciliwung karena Ciliwung milik kita bersama.
Sebelum berfoto, awalnya beberapa anak berminat ingin di gambar wajahnya mengunnakan face painting setelah melihat beberapa anggota Teens Go Green yang wajahnya telah di gambar. Lama- kelamaan, hampir semua anak ingin di gambar wajahnya. Bahkan hingga Face Painting yang kami bawa habis. Dari wajah, mereka berkreasi di tangan mereka sendiri.

Proses Face Painting..
Selain face Painting, kami juga turut menyebarkan stiker dan leaflet Anti STYROFOAM. anak-anak yang telah di gambar wajahnya, bahkan berebut untuk meminta stiker. Saya yang kebetulan memegang stiker sampai kewalahan dikerubuti oleh banyak anak seperti itu.
Beberapa orang dewasa tertarik dengan apa yang kami lakukan sehingga mereka turut serta ikut berkomitmen melalui foto. Selain itu, ada juga yang bertanya lebih lanjut mengenai stiker STYROFOAM yang kami sebarkan, terutama mengenai dampak yang ditimbulkan bagi lingkungan dan kesehatan.

Dari pagi, kami dan teman-teman Teens Go Green serta Transformasi Hijau asyik dengan kegiatan yang kami lakukan, meskipun acara belum di mulai. Maka, ketika acara dimulai, terutama ketika Ibu Gubernur tiba di tempat lokasi dan memberikan sambutan, kami pun tetap asyik dengan yang kami lakukan.

Kreasi Kertas Majalah Bekas bersama Transformasi Hijau

Adalah Mbak Putri dan Mbak Wilda yang tengah asyik duduk di atas sebuah tiker ketika kami tiba. Mereka sedang menggambar pola lalu mengguntingnya mengikuti pola yang dibuat. Setelah kami dekati, ternyata mereka sedang berkreasi membuat pembatas buku dari majalah bekas.
Proses pembuatan Pembatas buku dari kertas majalah
Cara buatnya cukup mudah. Pertama-tama kalian tentukan akan membuat apa. Di sana telah di sediakan beberapa cetakan seperti bentuk jerapa, singa, kuda, dan gambar wajah. Tentukan warna yang kalian sukai dan menjiplak tiap bagiannya.

Sebagai permulaan, saya membuat gambar wajah. Membuatnya mudah saja hanya ada dua cetakan yang harus saya jiplak. Satu sebagai rambut dan lainnya sebagai bagian wajah. Setelah itu, keduanya di gunting mengikuti alur cetakan, dan di satukan. Diberi alas yang lebih tebal sebagai dasar, serta di beri tali. Jadilah pembatas buku yang unik.

Selain Face Painting, anak-anak sangat antusias membuat pembatas buku ini. Selain bentuknya yang unik, caranya pun tergolong mudah. Tiker dengan tumpukan kertas majalah bekas yang di gelar pun kini laksana kapal pecah lantaran bentuknya yang tak karuan. Kertas majalah di sana sini, bercampur dengan alat tulis serta guntingan kertas sisa. Anak-anak bebas berkreasi di sini, menemukan asyiknya belajar.

hasil karya pembatas buku dari majalah bekas
Mendongeng, turut mengajak ‘tuk mencintai lingkungan
Mendongeng. Mungkin inilah yang kini kebanyakan kita tinggalkan. Metode mendongeng sebenarnya baik untuk proses pembelajaran bagi anak dalam penanaman nilai tertentu serta menambah imajinasi sang anak. Sayangnya, kebanyakan orang tua kini tak lagi suka mendongeng. Semua tergantikan oleh acara sinetron yang kurang mendidik bagi si anak.

Dongeng Kanvas, melalui dongengnya mengajak anak untuk tidak membuang sampah ke Sungai, terutama Ciliwung. Sampah menjadi permasalahan pokok kita saat ini. Penanaman nilai bahwa sungai bukanlah tempat sampah perlu dilakukan untuk menumbuhkan kebiasaan bagi anak.
Anak-anak saat mendengarkan dongeng
Melalui bahasa yang mudah, interaktif, serta suara yang lucu, anak-anak antusias mendengarkan dongeng. Kebanyakan dari mereka mendengarkan dongeng dengan wajah yang telah di Face Painting. Acara mendongeng selesai ketika Bu Gubernur tiba di lokasi. Warga pun kini ramai di lokasi.

Sebuah Harapan

Hari Lingkungan Hidup, bagi saya tidak hanya untuk hari ini. Tetapi juga untuk di tiap bilangan hari. Acara hari ini adalah mozaik kecil dalam menumbuhkan harapan bagi terciptanya kondisi Ciliwung yang lebih layak. Itu tentu peran kita semua.
Maka, semoga Mozaik kecil hari ini bisa memberikan inspirasi sekaligus penyadaran betapa pentingnya lingkungan bagi kehidupan kita. Dan itu bisa kita mulai dari diri kita sendiri, mulai dari hal yang kecil, serta mulai saat ini. Act Now!
harapan kami semua untuk ciliwung..
  •  
  •  
  •  
  •  
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts