Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Perjalanan Menuju Kp.Ciwaluh



Setiap perjalanan memiliki kisahnya sendiri, sejauh mana kau mampu mengambil hikmah di dalamnya sebagai pemahaman hidup. (Educamp Teensgoogreen, Pasir Buncir)

Aku ingat kalimat itu, “lakukanlah perjalanan di muka bumi, agar kau bisa memahami dan mengambil pelajaran dari alam dan orang-orang terdahulu”. Ya, perjalanan apapun pasti memiliki hikmah dan kisahnya. Namun, itu tergantung dari diri kita bagaimana memandangnya. Apakah akan berlalu begitu saja tanpa ada sedikitpun yang bisa terambil atau malah membuat kita terus belajar.

Siang itu, selepas acara “Billion Acts of Green”-nya Jerami, kami berlima(Bambang, mahesa, ela, sinta, dika) berencana menyusul teman-teman Teensgogreen yang sedang Educamp di Pasir Buncir. Berbekal sebuah ingatan akan rute mobil menuju kp. Pending dan sebuah petunjuk nama sebuah kampong dan tempat turun mobil, kami nekat ke sana, meski tak tahu pasti apakah semua petunjuk ini cukup atau tidak.

Dari depan kebun raya bogor menaiki angkot 02(bubulak-sukasari) dan tak tahu pasti harus turun dimana. Yang kutahu, turun depan PDAM. Kemudian dilanjutkan dengan naik angkot biru Cicurug. Sejauh ini semuanya lancar. Angkot cicurug ternyata melewati jalan raya bogor-sukabumi. Melewati alur yang cukup lama, apalagi ditambah kemacetan karena akhir pekan.

SPBU cimande sebagai patokan menuju kp.Pending belum juga terlihat. Padahal, rasanya sudah lama sekali kami di angkot. Apalagi kondisi kami yang kurang tidur, selama perjalanan ini lebih banyak memejamkan mata. Yang kutahu, turun di SPN Lido, itu kata kak sita. Awalnya kukira memang SPN lido dan lido itu hanya sebatas sebuah daerah. Namun ternyata salah.

“Wah, Lido sudah terlewat tadi” kata seorang sopir angkot setelah menanyakan kami akan ke mana.
“Kalo pasir buncir sudah lewat,mang?” Tanya salah seorang dari kami.
“Pasir Buncir yang mana? Pasir Buncir yang mau ke gunung ya?”
“iya”
“Oh, itu mah masih jauh. Nanti nyambung angkot putih lagi di depan. Nanti saya tunjukkan.”


Lega rasanya. Namun, agak aneh juga. Sepertinya yang kami maksud bukan itu. Yang kuingat perintah ka sita jelas, tanpa ada naik angkot lagi setelah tiba di lido. Setelah tiba di perbatasan cijeruk dan cicurug, sukabumi, sebelum memutuskan menaiki angkot putih seperti yang disarankan oleh sopir angkot tadi, kami mencoba menelepon kak sita atau kak putri, namun tidak bisa. Aku membuka catatan rute dari kak sita, ternyata memang harus turun di SPN Lido, kemudian jalan sampai ujung sekitar satu kilometer. Sebelum itu, kami bertanya kepada tukang ojek disitu dimana SPN lido, dan memang telah terlewat jauh rupanya.

Akhirnya kami memutuskan naik angkot cicurug kea rah sebaliknya. Aku bilang pada lainnya, jika kita nyasar lagi, lebih baik kita kembali ke Jakarta dengan nada pasrah. Seorang mbak disebelahku memberitahu SPN lido masih agak jauh. Kami memang was-was takut terlewat seperti tadi. Sekitar setengah jam di angkot, akhirnya tiba di di SPN Lido.

Ternyata memang inilah tempat kami harus turun tadi. Kami menyeberang memasuki jalan yang menanjak. Di samping kami, sebuuah sekolah polisi yang cukup besar, SPN lido. Berjalan beberapa langkah, terdapat pertigaan, di sana kami bertanya pada pada beberapa pemuda dimana letak kp. Ciwaluh. “Oh, itu di sana cukup jauh. Ikuti jalan ini, kemudian belok kanan dan naik angkot, setelah itu jalan lagi.” Aku agak ragu, maka berjalan beberapa meter kami bertanya kepada seorang ibu. “Kampungnya di sana, lurus aja, masih jauh” hmm, ternyata memang yang ditunjukkan pemuda tadi salah. Sebagai bekal perjalanan kami makan semangkuk baso dahulu sebelum melakukan perjalanan panjang. Dalam benakku, mungkin hanya satu atau dua kilometer. Kak sita sempat bilang di sana tak ada sinyal hp, nyatanya di sini sinyal masih penuh. Ada rasa penasaran juga.

Usai makan baso kami bergegas karena takut nanti kemalaman. Sembari berfoto, bercanda ria kami sungguh menikmasti perjalanan ini. Melewati balai desa, berbelok ke kiri, kupikir sudah dekat, nyatanya masih belum sampai. Belum terlihat tanda-tanda seperti di benakku. Sinyal masih ada. Beberapa kali bertanya, jawaban yang kami dapat sama, “Masih jauh. Terus sampai ujung” sebenarnya dimanakah akhir dari perjalanan ini?

Aku agak khawatir ketika diam-diam titik air mulai turun. Gerimis sore itu, perlahan semakin besar. Hanya aku dan ela yang membawa payung. Mahesa mengenakan sweather tebalnya. Hingga aku merasa dari tadi jalan yang dilalui ini-ini saja. Namun kaki kami tetap melangkah. Berusaha mencapai tujuan. Melewati satu desa dengan pemukiman, lalu kembali hanya ditemani pepohonan di sepanjang jalan. Kami terus berjalan melewati hujan yang semakin deras.

Hingga tiba di suatu pemukiman, dan kami berencana berteduh dan melaksanakan shalat ashar terlebih dahulu di sebuah surau. Petir menggelegar. Hujan tampaknya semakin deras. Usai shalat kami menenangkan diri, makan sedikit snack yang tersisa, dan bertanya kepada salah seorang penduduk yang tinggal di depan surau. Kampung yang kami tuju ternyata memang masih jauh. Sementara itu, aku mengaktifkan nomor baru indosat, siapa tahu ada sinyal. Kutelepon kak putri, atau kak sita, tetap tak ada sambungan. Hmm, aku sempat berpikir bahwa kami akan bermalam di surau ini hingga esok, lalu pulang ke Jakarta. Surau ini sepi, apalagi ada sebuah keranda mayat di dalamnya. Aku mencoba menguatkan diri.

Tak berapa lama, hujan agak reda. Namun tetap harus memakai payung. Penduduk depan surau memberitahu kami apakah ingin bareng dengan dua orang anak yang ingin ke lengkong ujung. Kami mengiyakan. Ya, ada dua orang yang mengantar kami. Mereka dua bocah smp yang baru pulang sekolah. Bajunya kuyup. Tas dan bukunya juga. Mereka seperti menjadi petunjuk jalan bagi kami.

Sama seperti tadi, kami tetap berjalan melewati pemukiman, berseling melawati jalan sepi dengan pepohonan di kiri kanan. Aku diam-diam menaruh simpati pada dua anak yang mengantar kami. Aku takjub pada mereka. Bagaimana mungkin mereka bisa melewati ini semua setiap harinya. Bersekolah dengan berjalan kaki ber-kilometer jauhnya. Tanpa kenal lelah. Apalagi ketika hujan turun. Mereka harus siap berbasah-basahan dengan air hujan. Aku ingat kisah Lintang dalam Laskar Pelangi. Ia yang harus berjuang berpuluh-puluh kilometer jauhnya. Harus melewati seekor buaya. Namun tetap rajin bersekolah. Demi sebuah ilmu. Aku ingat sebuah hadits, ”Allah akan memudahkan jalan ke syurga orang-orang yang menuntut ilmu”. Diam-diam kami, sore itu bersyukur, juga menjadi pelajaran berharga bagi kami, bahwa kami memiliki segala akses di Jakarta, dengan segala kemudahannya. Nyatanya , kami masih sering malas ke sekolah atau kuliah. Bagaimana dengan mereka yang aksesnya terbatas? Aku malu dengan mereka yang tetap rajin ke sekolah walaupun banyak keterbatasan.


Suasana mulai gelap. Hampir pukul 18.00 wib. Tujuan kami belum juga terlihat. Kami sudah cukup lelah. Aku bersenandung ringan untuk mengusir lelah, dan keluh. Di sebuah tempat, kami melihat mobil Daaitv. Kami bertanya pada seorang penduduk disana, dimana letak pemilik mobil, “masih terus di atas, masih agak jauh” agaknya usaha kami ternyata tak sia-sia. Adanya mobil itu memacu semangat kami lebih tinggi bahwa tujuan kami semakin dekat. Jalan kini semakin sempit. Hanya cukup untuk sepeda motor. Rintik hujan masih turun satu persatu. Di kanan kami jurang. Agak samar aku melihatnya. Suara sungai terdengar keras mengisi kebisuan kami. Aku semakin takut. Ada rasa yang aneh. Kini aku bersenandung ringan membaca ayat-ayat suci, juga zikir sekali-kali. Aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti.

Dua bocah itu tiba di rumahnya. Dan memang katanya tujuan kami masih di atas sana. Terus hingga ujung. Perlahan rumah penduduk tempat bocah itu menghilang di belakang kami. Menyisakan sebuah jalan kecil yang harus kami lalui. Agak licin. Kami berjalan satu persatu berbaris. Aku di bagian paling belakang. Kami semua bahu membahu saling menjaga satu sama lain. Di samping kami deras mengalir sungai yang membawa air hujan. Jalanan yang kami lewati pun mengalir air-air dari atas. Suasana kini gelap. Beberapa kali aku menengok ke belakang. Takut ada sesuatu yang mengintai. Cahaya kunang-kunang memancar di antara gelapnya malam. Sesekali aku dan ela mencoba menangkap kunang-kunang yang beterbangan. Berjalan perlahan meski ada sedikit rasa takut yang menghantui. Diatas sana kulihat sebuah cahaya terang. Ya, ada sebuah pemukiman penduduk sepertinya.

Kami bertemu dengan sebuah keluarga yang telah usai melaksanakan shalat di sebuah surau. Kami bertanya letak kampung Ciwaluh, “Sebentar lagi, di atas” jawab mereka. Memasuki sebuah gapura kecil, kami bertemu dengan dua pemuda. Kang Asep dan satunya aku lupa. Mereka memberitahu bahwa kp. Ciwaluh di sana. Setelah terlibat percakapan singkat, ternyata mereka adalah fasilitator di acara Educamp. Kami semakin semangat. Kami terus berjalan. Hingga di depan sebuah masjid, kami bertanya pada seorang pemuda, katanya terus ke atas. Namun salah seorang dari kami seperti menyadari sesuatu. Ada beberapa anak Teensgogreen yang telah usai melaksanakan shalat dan kami mengenalinya. Ya, memang benar. Alhamdulillah, kami telah tiba di tujuan. Rasanya semua lelah itu terbayarkan.

Banyak hal yang ingin di ceritakan mengenai perjalanan panjang kami ketika tiba.

*******

Aku belum tahu bagaimana rupa kampung ini sesungguhnya. Pagi ini, ketika matahari mulai beranjak, aku segera keluar. Bergegas melihat sekitar. Bersama dengan Ano dan Dika, aku berjalan-jalan menuju sungai. Pagi ini alam bersenandung riang. Aliran air sungai menampakkan irama khasnya. Kameraku sibuk memotret sana sini.



*******

Waktu berjalan lebih cepat. Waktu kami kembali ke Jakarta tiba. Bergegas merapikan semua barang bawaan. Menempuh perjalanan kembali. Inilah salah satu kisah dalam rangkaian panjang perjalanan hidup. Di setiapnya akan ada banyak hal yang bisa di pelajari. See you next time, kp. Ciwaluh!^^ prepare for other journey on long holiday!

*Special thanks for mahesa, ela, dika, sinta yang telah menemani dalam perjalanan. Gak kebayang kalau cuma nyusul sendiri ke sana. ^^
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts