Sebuah Perjalanan Pembelajaran.
sebagai pengingat diri

Pongo Pigmaeus Terakhir

Pongo pigmaeus Terakhir

Oleh : Bambang Sutrisno-Aktivis Teens go green

“Apa? Bagaimana bisa?”

Suara itu meninggi. Aku tersentak kaget mendengar suara itu. Abangku setengah berteriak berbicara di hadapan telepon. Sepertinya ada masalah yang serius. Apa? Dengan siapa ia berbicara? Aku terpaku dalam penasaran.

“ Tak ada waktu lagi. Kita harus bertindak cepat. Sangat disayangkan jika kerja keras kita selama ini sia-sia. Apa kau mau kerja kerasmu selama ini tak membuahkan hasil? Tentu tidak, kan?”Suaranya semakin keras memecah kesunyian di rumah kecil ini.

“Iya, aku tahu. Tapi, setidaknya kita bisa mencegah para pengusaha tak punya hati itu untuk tidak mengkonversi hutan semakin banyak lagi. Kita tak boleh menyerahlah hanya karena masalah ini. Apa kau mau kita kehilangan Pongo pigmaeus semakin banyak lagi? Yasudah, dalam waktu dekat ini aku akan coba tuk melihat sendiri kondisi sebenarnya.”

Klik. Seketika kulihat telepon itu ditutup abangku. Walau ia berusaha tegar saat berbicara lewat telepon tadi, terlihat kecemasan dalam raut muka yang bergaris keras itu. Keringat mengalir di sekitar dahinya. Ia mengusap dahi yang basah itu dengan sapu tangan yang di ambil dari saku celananya. Apa sebenarnya yang membuat abangku cemas? Kututup notebook-ku dan kuhampiri abangku.

“Kenapa Bang? Cemas kali kulihat muka kau. Orang utan lagi? Bukankah kau sudah tahu jumlah populasi pygmaeus itu di Cagar Alam Sapathawung?” Tanyaku penuh penasaran.

“Ah… Kau tahu Dik. Kita ini telah di beri data yang salah. Semakin khawatir saja aku ini dengan kondisi hutan kita yang semakin parah. Ah, pusing aku memikirkannya, Dik”

“ Data yang salah? Maksud kau?” Tanyaku tak mengerti.

“ Kau tahu?!! Ternyata , data pygmaeus yang di berikan ke kita dari Dinas Kehutanan tak sama dengan data yang di temukan para relawan di lapangan. Apalagi, data hutan yang tidak sesuai. Mereka bilang di sebelah selatan Sapathawung masih tertutup pepohonan. Nyatanya, sekarang malah di temuai hutan Sawit. Sungguh ironis nasib Indonesia ini. Padahal, hutan ataupun Pongo pygmaeus adalah aset bangsa ini.” Abangku menjelaskan secara detail.

Aku semakin mengerti bagaimana perasaan abangku. Ternyata, sungguh sulit menjadi seorang aktivis seperti abangku. Apalagi, tantangan global membuat manusia hilang sifat naluriahnya pada bumi ini. Keserakahan pada harta telah membutakan hati mereka.

©©©©©©

Sejak dua minggu yang lalu, aku menemani abangku di sini. Awalnya, kupikir enak hidup di pedalaman Kalimantan. Bebas dari kepenatan dunia luar. Ternyata, tidak. Komunikasi sungguh sulit. Rumah penduduk yang letaknya berjauhan. Kantor camat yang entah di mana. Semuanya begitu bertolak belakang dengan kehidupanku di Medan. Kenapa abangku mau melakukan ini semua?

Setidaknya, seminggu belakangan ini aku semakin merasa begitu dekat dengan alam. Begitu banyak yang telah bumi berikan untuk kita. Apakah kita tak mau memberikan sesuatu untuk bumi ini? Aku khawatir, keadaan bumi yang seperti ini akan semakin mempercepat kerusakan bumi.

Aku teringat pengalaman masa kecil dengan abangku dulu. Abangku yang rajin menanam pohon di belakang rumah karena melihat keadaan yang begitu gersang.

“ Enaknya, kita tanam pohon di sini. Apa Kau tidak merasa gersang melihat pekarangan kita?” Abangku mengeluarkan idenya.

“ Apa itu gersang? Aku saja tak tahu. Jangan sok tahu, kau Bang. Pohon nanti juga tumbuh sendiri.”

Saat abangku menanam, aku hanya memperhatikannya. Tak membantunya sedikitpun. Dan usilnya lagi, aku membawa kambing tetangga kami ke belakang rumah. Refleks kambing itu lalu memakan tanaman yang telah abangku tanam.

Aku pura-pura berteriak melihat kambing itu memakan tanaman. “Bang, tanaman kita habis di makan kambing.” Abangku lari dan segera mengusir kambing itu.

Sungguh jahat aku. Betapa tega menghalangi orang yang akan berbuat baik pada bumi ini. Aku tersenyum sendiri membayangkan kejadian masa kecilku.

Awalnya Emakku tak mengijinkanku untuk ke Kalimantan. Namun aku bersikeras ingin ke Kalimantan.

“ Aku rindu pada abang, Mak. Sudah dua tahun ia tidak pulang ke Medan. Sekalian aku menghabiskan liburan tahunanku. Bosan aku di Medan ini, Mak.”

Akhirnya, Emakku mengijinkan kepergianku menemui Abangku.

Dua minggu yang lalu, abangku menjemputku di Bandara Tjilik Riwut. Ia dengan mobil jeep-nya mengantarkanku ke tempatnya. Sungguh pemandangan yang mengharukan. Dahulu orang bilang, Pulau ini bak Zamrud dengan hutannya yang lebat. Nyatanya, sepanjang jalan aku hanya melihat rangkaian pohon sawit yang berjejer tak ada habisnya. Kemana pohon-pohon hijau itu? Kemana pula orang utan yang sering abangku ceritakan?

“ Bang, kenapa pula orangutan di sini perlu di selamatkan?” Tanyaku menyelidik.

“Kau tahu Dik. Mereka itu makhluk Tuhan. Bukankah Tuhan menganjurkan pada kita untuk saling mengasihi antara sesama makhluk??! Sebenarnya, orang utan di sini perlu di selamatkan karena kondisinya yang semakin mengkhawatirkan. Kau tahu, setiap tahun habitatnya terus berkurang.”

“ Kenapa pula harus Abang? Kenapa bukan pemerintah saja?”

“ Karena abang peduli, Dik.”

“ Sampai kapan pula Abang akan menyelamatkan mereka?”

“ Ya, sampai tak ada lagi yang perlu diselamatkan.”

Aku terdiam. Abangku memang pecinta lingkungan sejati. Jiwa aktivisnya sudah terlihat sejak kecil dulu. Pantas saja ia tak menolak saat abangku di tawari menjadi relawan BOS(Borneo Orangutan Survival). Ia senang bukan kepalang. Sebaliknya, aku sedih. Ini berarti aku akan semakin jarang bertemu dengan abangku.

©©©©©©

“ Bang, ada surat untuk Kau.” Teriakku saat menerima surat dari petugas pos.

“ Iya, kau letakkan saja di meja kamarku.”

Aku bergegas ke kamar abangku setelah kutandatangani tanda terima dari petugas pos itu. Abangku keluar dari kamar mandi. Ia langsung membuka surat itu dan membacanya.

“ Ada apa, Bang?” Tanyaku.

Abangku hanya diam. Ia memberikan surat itu ke aku. Kubaca perlahan. Di atas tertulis “ Yth. Jamal Yosef”. Itulah nama abangku. Kubaca perlahan surat itu.

“ Ohh.. ternyata ada undangan rapat para relawan BOS besok” Gumamku.

Aku keluar dari kamar abangku. Terlihat abangku sibuk menyiapkan perlatan. Mau kemana ia? Tanyaku dalam hati.

“Mau kemana Kau, Bang?” Tanyaku.

“ Kau mau ikut, Dik?” Ia balik bertanya.

“ Aku mau berburu orangutan. Kau mau ikut?”

“ Berburu? Bukankah kau sendiri yang mengatakan, orangutan itu tak boleh diburu?”

“ Iya, tapi berburuku beda. Berburuku adalah untuk menyelamatkan mereka yang dalam keadaan memprihatinkan.”

“ Aku ikut Bang. Sekalian, kita ke Cagar Alam Sapathawung ya?! Kan Kau belum pernah mengajak aku ke sana. Hitung-hitung, pengalaman di Amazone Indonesia. Hehe…”Aku senang.

“ Yasudah, cepat Kau siap-siap. Aku tunggu Kau di mobil.”

“ Oke. Siap boss!!!”

©©©©©©

Kalimantan bak amazone bagi Indonesia. Hutan hujan tropis di sini sama dengan hutan hujan yang ada di lembah amazone. Banyak makhluk hidup yang bergantung pada hutan hujan tropis ini. Beragam tumbuhan dan hewan hidup di dalamnya, termasuk orangutan.

Kenyataanya, itu dulu Kalimantan disebut sebagai Amazone Indonesia. Yang kulihat sekarang adalah hamparan kebun kelapa sawit yang tiada habisnya. Sesekali, di selingi oleh hutan yang tak seberapa luasnya. Hijaunya permata Zamrud telah diubah menjadi gudang minyak bagi para pengusaha sawit.

Entah kemana semua hayati yang hidup di amazone ini dahulu? Pantas saja, setiap musim kemarau, paling sering diberitakan di media kalau di pulau ini terjadi pencemaran asap yang begitu tinggi. Kebakaran hutan rupanya. Justru, ini membuat para pengusaha sawit semakin punya alasan untuk menjadikan areal hutan menjadi kebun kelapa sawit.

Di tambah lagi, pembabatan hutan yang semakin merajalela. Illegal logging maupun legal logging, nyatanya semakin membuat hutan di pulau ini semakin kritis. Undang-undang kehutanan pun tak memihak hutan ini. Malah, terkesan berpihak pada para pengusaha. Dengan Rp 300 / m2 pengusaha bisa mengkonversi hutan menjadi areal pertambangan. Padahal, pertambangan di areal hutan akan memberikan dampak yang begitu luas bagi kelangsungan hutan.

Seketika mobil abangku berhenti. Aku begitu terlarut dengan pikiran-pikiranku tentang hutan di Kalimantan ini.

“ Kenapa berhenti, Bang?”

Abangku terdiam. Ia menatap ke depan dengan mata memancarkan rasa haru yang sangat. Ada apa? Aku memalingkan wajahku ke depan. “Ya, ampun...!!!” batinku.

Aku menyaksikannya. Bukan hamparan kebun kelapa sawit lagi. Kali ini, aku melihat sisa-sisa kebakaran hutan. Coklat. Batang-batang pohon yang bertumbangan. Daun-daun yang mongering kecoklatan. Debu sisa-sisa pembakaran yang menghitam di dasar-dasar tanah menutupi rerumputan.

“ Begitu teganya…!!!”desisku.

Abangku turun memperhatikan keadaan sekitar. Untuk sementara, jeep abangku di parkir di bawah sebuah pohon. Aku sangat tahu bagaimana perasaan abangku saat ini. Ia memiliki jiwa-jiwa sosial. Mana mungkin hatinya takkan tergerak melihat semua ini.

“ Padahal, seminggu yang lalu, hutan di sini masih hijau.” Desisnya. Ia tersenyum tak mengerti.

Aku hanya bisa diam. Rasaku semakin bergejolak.

“ Siapa yang melakukan ini, Bang?” Tanyaku.

“ Entahlah…”

Aku berjalan di antara dedaunan yang coklat kepanasan. Hanya sebagian hutan yang tak terbakar. Batang-batang pohon bergelimpangan tak beraturan.

Seketika, aku berhenti. Aku menangkap sosok yang begitu memprihatinkan. Ia mengumpat di antara reruntuhan batang pohon. Muram menyelimuti wajahnya. Mungkin ia mengira, kami akan memusnahkan habitatnya kembali.

“Bang, sini…!!!” teriakku.

Abangku segera menghampiriku. Terlihat haru bercampur bahagia di wajahnya. Ya, ada orangutan yang berhasil kami selamatkan. Mungkin, orangutan terakhir di hutan ini. Pongo pigmaeus terakhir. Orangutan itu abangku masukkan ke dalam kandang yang telah kami bawa. Kata abangku, Pongo pigmaeus itu akan di gabungkan dengan Pongo pigmaeus lainnya di BOS.

Aku terharu. Aku ingin menjadi relawan seperti abangku. Bagiku, ia sungguh mulia. Ia berhasil menyelamatkan keanekaragaman hayati Indonesia. Semoga saja, banyak orang yang menyadari betapa pentingnya melestarikan bumi ini.

Keterangan :

Pongo pigmaeus : salah satu spesies orangutan di Kalimantan

BOS(Borneo Orangutan Survival):LSM penyelamat orangutan

Habitat : tempat tinggal asli makhluk hidup
  •  
  •  
  •  
  •  
Bambang Sutrisno Bambang Sutrisno Author

Total Pageviews

Google+ Badge

Follow by Email

Instagram

Popular Posts